Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PUBLIKASI ilmiah menjadi kebutuhan penting bagi para akademisi dan peneliti. Namun, di balik kebutuhan publikasi, muncul pula jurnal predator yang meresahkan.
Lantas, apakah jurnal dengan biaya mahal otomatis bisa dianggap jurnal predator.
Jurnal predator adalah istilah untuk situs jurnal yang memanfaatkan kebutuhan peneliti untuk publikasi dengan cara tidak etis. Alih-alih menjaga kualitas dan seleksi naskah, jurnal predator lebih mementingkan keuntungan finansial.
Akibatnya, jurnal yang seharusnya melalui proses review yang ketat bisa terbit dengan mudah asal peneliti mampu membayar biaya publikasi.
Ada beberapa ciri yang harus diwaspadai peneliti terkait jurnal predator, antara lain:
Mahalnya biaya publikasi sering membuat sebagian peneliti berasumsi bahwa jurnal tersebut predator. Padahal, hal ini tidak selalu benar.
Beberapa jurnal bereputasi internasional juga mematok biaya publikasi tinggi, terutama untuk akses terbuka (open access), karena mencakup biaya proses review, editorial, hingga penyebaran digital.
Sebaliknya, ada pula jurnal predator yang memasang tarif relatif murah untuk menarik lebih banyak peneliti. Karena itu, mengenali ciri-ciri jurnal predator menjadi jauh lebih penting daripada sekadar melihat angka biaya publikasi.
Publikasi di jurnal predator bisa merugikan citra akademisi. Jurnal yang terbit di jurnal predator sering tidak diakui dalam penilaian akademik maupun lembaga penelitian. Lebih jauh, reputasi peneliti pun bisa dipertaruhkan karena dianggap tidak selektif dalam memilih wadah publikasi.
Mahal atau murahnya biaya publikasi bukanlah tolok ukur utama untuk menilai kualitas jurnal. Peneliti perlu lebih cermat mengenali ciri-ciri jurnal predator agar tidak tertipu pada praktik yang merugikan. Transparansi, proses review yang ketat, serta reputasi penerbit tetap menjadi acuan utama dalam memilih jurnal bereputasi.
Sumber: duniadosen.com
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved