Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Anak sering berkedip bisa membuat orang tua waswas. Tidak jarang, gejala ini dikaitkan dengan cacingan, sebuah anggapan yang sudah lama beredar di masyarakat. Tetapi, benarkah kedipan berlebihan menjadi tanda infeksi cacing?
Jawabannya: tidak. Dokter menegaskan, hubungan itu hanyalah mitos.
Dokter subspesialis infeksi dan imunologi mata Universitas Indonesia, Eka Oktaviani Budiningtyas, menegaskan bahwa kedipan berlebihan sama sekali tidak berhubungan dengan cacingan.
“Tidak ada hubungan untuk mata kedip-kedip dan cacingan,” tegas Eka, dikutip dari Antara (18/9).
Menurutnya, kedipan berlebihan justru lebih sering disebabkan oleh mata kering atau kelainan refraksi. Bila tidak ditangani, kondisi ini berpotensi menimbulkan kerusakan mata.
Namun, infeksi cacing di mata memang mungkin terjadi, walau jarang. Biasanya dialami anak-anak yang sering bermain di tanah atau taman tanpa perlindungan. Gejala khas meliputi mata gatal, bengkak, dan iritasi. Pencegahan terbaik adalah menjaga kebersihan tangan serta wajah setelah beraktivitas.
Pakar dari Cleveland Clinic, Lisa Diard, menjelaskan beberapa penyebab umum yang membuat anak berkedip lebih sering:
Debu, bulu mata, atau kotoran kecil bisa memicu refleks berkedip. Solusinya, bilas mata dengan air bersih secara hati-hati.
Menimbulkan gatal, merah, dan berair, sering disertai bersin dan hidung tersumbat.
“Jika semua tanda mengarah pada alergi, cobalah memberikan obat alergi. Obat oral maupun tetes mata sama-sama efektif,” kata Dr. Diard.
Polusi dan cuaca kering membuat mata terasa tidak nyaman. Tetes air mata buatan atau pelembap udara bisa membantu.
Anak berkedip untuk mencoba memfokuskan penglihatan. Gejala tambahan: sakit kepala, menyipitkan mata, memiringkan kepala, membaca terlalu dekat, atau duduk terlalu dekat dengan TV. Segera periksakan ke dokter.
Umumnya muncul sejak usia balita, sekitar tiga tahun, dan sering memicu kedipan berlebihan.
Biasanya muncul di usia lima tahun dan bisa hilang dengan sendirinya.
Faktor emosional juga memicu kedipan berlebih sekaligus membuat mata lebih sensitif terhadap cahaya.
Jika kedipan berlebihan tidak kunjung membaik, orang tua sebaiknya segera membawa anak ke dokter mata. Hindari pengobatan mandiri karena penyebab pasti hanya bisa ditegakkan lewat pemeriksaan. Waspadai bila gejala disertai mata merah, nyeri, atau keluar cairan abnormal.
Kedipan mata pada anak bukan tanda cacingan. Lebih sering terkait dengan masalah mata atau kondisi emosional. Orang tua perlu waspada, menjaga kebersihan anak, memperhatikan gejala, dan mencari pertolongan medis jika keluhan berlanjut. (Ant/Cleveland Clinic/Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved