Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda mendengar istilah “bakteri pemakan daging”? Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi parah pada luka yang terkesan sepele, seperti goresan atau gigitan serangga. Jika tidak segera ditangani, infeksi ini bisa berujung pada kecacatan permanen, bahkan kematian.
Meski dikenal sebagai bakteri pemakan daging, sebenarnya bakteri ini tidak mengonsumsi jaringan tubuh. Sebaliknya, bakteri ini menghasilkan racun yang merusak jaringan sekitar, termasuk kulit, lapisan lemak di bawah kulit, serta fascia, jaringan tipis yang melapisi otot atau organ tubuh.
Bakteri pemakan daging dapat menginfeksi tubuh melalui luka terbuka. Luka yang terinfeksi oleh bakteri ini akan memburuk dengan sangat cepat. Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, infeksi ini bisa mengakibatkan kehilangan jaringan tubuh atau bahkan organ, dengan kematian sebagai risiko paling fatal.
Infeksi ini menyebabkan necrotizing fasciitis, penyakit langka yang sangat serius. Mikroorganisme tersebut dapat masuk melalui celah kulit, baik luka tusuk, memar, luka bakar, atau gigitan serangga.
Beberapa jenis bakteri pemakan daging yang berbahaya:
• Streptococcus grup A
• Aeromonas hydrophila
• Staphylococcus aureus
• Escherichia coli (E. coli)
• Bacteroides, Prevotella, Clostridium, dan Klebsiella
Dalam 24 jam pertama, infeksi biasanya dimulai dengan demam tinggi dan rasa sakit yang sangat hebat pada area yang terinfeksi. Rasa sakit yang dirasakan sering kali jauh lebih parah daripada luka yang terlihat.
Setelah 3-4 hari, gejala lebih lanjut mulai muncul. Penderita bisa mengalami mual, muntah, dan diare. Area luka akan terlihat memerah, bengkak, dan muncul bercak gelap besar disertai lepuhan berisi cairan (gangren).
Dalam 4-5 hari setelah infeksi, kondisi penderita bisa semakin memburuk. Tekanan darah turun drastis akibat racun yang dilepaskan oleh bakteri. Tanpa penanganan segera, penderita berisiko kehilangan kesadaran, koma, bahkan meninggal dunia.
Jika mengalami luka, segera lakukan perawatan yang tepat. Apabila luka semakin parah, sulit sembuh, atau menunjukkan tanda-tanda infeksi bakteri pemakan daging, jangan ragu untuk segera konsultasi ke dokter.
Untuk mendiagnosis necrotizing fasciitis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik lengkap, ditambah dengan tes penunjang seperti tes darah, kultur darah, rontgen, dan CT scan. (Alodokter/Z-10)
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Pada pasien anak yang dirawat inap akibat radang paru akut (pneumonia), ditemukan bahwa mereka yang mengalami gejala berat, sering kali memiliki lebih dari satu patogen di dalam tubuhnya.
Mikrobiota vagina adalah kumpulan mikroorganisme, terutama Lactobacillus, yang berfungsi melindungi organ reproduksi perempuan.
RSV bukan penyakit batuk pilek biasa yang kemudian orang yang tetap hidup sehat seperti biasa. Tapi bisa berakhir dengan komplikasi ICU, bahkan bisa berakhir dengan kematian.
RSV dapat menyebabkan anak terkena infeksi seperti bronkiolitis dan pneumonia. Meski sering disamakan, kedua penyakit itu ternyata cukup berbeda dari berbagai sisi.
Makanan untuk penderita tifus: pilih yang bergizi, mudah dicerna, dan bantu pulihkan energi. Cegah malnutrisi dengan asupan sehat selama masa pemulihan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved