Headline

Istana minta Polri jaga situasi kondusif.

Terapi Intensif Penyakit Gusi Bisa Perlambat Penyempitan Arteri, Cegah Risiko Jantung

Bimo Aria Seno
29/8/2025 14:25
Terapi Intensif Penyakit Gusi Bisa Perlambat Penyempitan Arteri, Cegah Risiko Jantung
Ilustrasi(freepik)

SEBUAH uji klinis menemukan bahwa terapi intensif terhadap penyakit gusi, mampu memperlambat proses penyempitan arteri karotis pada orang yang secara umum sehat. Temuan ini menegaskan bahwa kesehatan mulut sebaiknya dipandang sebagai salah satu faktor penting dalam pencegahan penyakit kardiovaskular.

Selama ini, berbagai penelitian telah menunjukkan keterkaitan antara kesehatan gusi yang buruk dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Bukti klinis terbaru menunjukkan pengobatan periodontitis berat, yaitu penyakit gusi kronis, berpotensi membantu mengurangi penebalan dinding arteri utama.

Mekanismenya kemungkinan besar melalui pengurangan peradangan, sehingga prosedur perawatan gigi rutin dapat menjadi cara sederhana namun efektif untuk menjaga fungsi pembuluh darah. “Saya benar-benar terkejut ketika pertama kali melihat hasil datanya,” ujar Dr Marco Orlandi, peneliti studi dan spesialis periodontologi klinis dari University College London.

Penyakit gusi dan kaitannya dengan penyakit sistemik

Di Amerika Serikat, sekitar 40% orang dewasa berusia di atas 30 tahun mengalami periodontitis. Penyakit ini ditandai dengan peradangan kronis yang dapat menyebabkan gigi menjadi goyah, tanggal, dan menimbulkan bau mulut. Seiring memburuknya kondisi, terbentuklah kantong di sekitar gigi yang sulit dibersihkan dengan sikat atau benang gigi, sehingga menjadi tempat menumpuknya plak dan bakteri.

Penelitian terdahulu mengaitkan periodontitis dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis. Di antaranya Alzheimer, kanker usus besar, hingga artritis reumatoid. Salah satu temuan yang konsisten adalah keterhubungan antara penyakit gusi parah dengan gangguan kardiovaskular. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pengendalian periodontitis dapat memperbaiki fungsi pembuluh darah.

Hasil uji klinis

Penelitian terbaru yang diterbitkan pada 19 Agustus di European Heart Journal juga menyoroti hal serupa. Para peneliti mendapati bahwa perawatan gusi intensif memperlambat penebalan lapisan dalam arteri karotis, pembuluh darah besar yang berada di leher. Ketebalan arteri ini dikenal sebagai penanda utama risiko penyakit kardiovaskular.

Untuk membuktikan keterkaitan tersebut, tim peneliti yang terdiri atas ahli periodontis dan kardiolog melaksanakan uji klinis acak. Dari 135 peserta yang mengalami periodontitis parah, tetapi sehat dalam aspek lain, dilakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk menilai ketebalan arteri karotis, pengukuran elastisitas arteri, serta pengambilan sampel darah untuk melihat tanda-tanda peradangan dan stres oksidatif.

Peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang menerima perawatan intensif menjalani pembersihan menyeluruh pada seluruh mulut, termasuk pembersihan mendalam di bawah garis gusi untuk mengangkat plak dan karang gigi. Sementara itu, kelompok kontrol hanya menerima pembersihan sederhana, mirip dengan prosedur rutin saat periksa gigi.

Selama dua tahun masa pemantauan, peserta rutin menjalani evaluasi ulang, termasuk pengukuran ketebalan arteri, fungsi pembuluh darah, serta pemeriksaan darah pada beberapa titik waktu.

Hasil akhir menunjukkan bahwa dinding arteri karotis pada pasien yang menerima terapi intensif menebal lebih lambat dibandingkan kelompok kontrol. Efeknya sebanding dengan intervensi gaya hidup sehat maupun konsumsi beberapa jenis obat dalam populasi serupa, jelas Dr. Francesco D’Aiuto, peneliti klinis periodontis di University College London.

Selain itu, kelompok treatment menunjukkan fungsi pembuluh darah yang lebih baik serta kadar penanda inflamasi dan stres oksidatif yang lebih rendah. Faktor-faktor ini diketahui berperan besar dalam perkembangan aterosklerosis, kondisi penyempitan arteri akibat penumpukan plak.

“Hasil ini menegaskan bahwa periodontitis yang dibiarkan tanpa pengobatan dapat menjadi faktor risiko yang sebenarnya bisa dimodifikasi dalam proses penuaan pembuluh darah, dan mungkin juga mencegah kejadian kardiovaskular,” tambah D’Aiuto.

Meski menjanjikan, studi ini memiliki keterbatasan. Menurut Orlandi, penelitian hanya dilakukan di satu lokasi, sehingga faktor lingkungan atau karakteristik peserta lokal mungkin memengaruhi hasil.

Dr. Maurizio Tonetti, peneliti dari Universitas Hong Kong yang tidak terlibat dalam studi ini, menambahkan bahwa seluruh peserta penelitian relatif sehat kecuali penyakit gusinya. Dengan demikian, temuan ini belum bisa langsung diterapkan pada pasien dengan aterosklerosis atau gangguan kardiovaskular lain.

Meskipun begitu, Tonetti menilai penelitian ini penting karena membawa perspektif baru. Bahwa intervensi terhadap penyakit gusi kronis turut berperan dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas bidang kesehatan. “Selama ini dokter gigi cenderung hanya fokus pada gigi, sementara dokter umum fokus pada tubuh dan melupakan kondisi mulut. Padahal, kedua bidang ini seharusnya berjalan berdampingan demi kebaikan pasien,” jelas Tonetti. (livescience/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya