Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGIAN orang beranggapan apabila kehujanan, kita bisa sakit. Hal ini sering dikaitkan dengan penyakt flu, demam, hingga masuk angin.
Tidak jarang seseorang apabila kehujanan segera mandi dan keramas, untuk menghindari gejala demam dan flu akibat terkena air hujan.
Padahal air hujan aman digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti mandi dan sangat dibutuhkan pada sektor pertanian dan perkebunan agar tanaman menjadi subur dan tanah menjadi gembur. Lantas, fakta atau mitos kehujanan dapat menyebabkan sakit?
Dalam hal ini, anggapan mengenai kehujanan dapat menyebabkan sakit adalah sebuah mitos. Sampai saat ini belum terbukti bahwa kehujanan bisa menyebabkan seseorang terkena demam atau mengalami kesehatan lainnya.
Penyakit seperti demam dan flu disebabkan karena adanya bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh, bukan karena hujan itu sendiri.
Ketika kehujanan, saat itu juga temperatur suhu turun. Apalagi memakai pakaian yang dikenakan basah akibat kehujanan. Hal ini memungkinkan tubub akan terkena hipotermia karena kondisi badan kehilangan terlalu banyak suhu.
Hipotermia akan memberikan penekanan pada tubuh termasuk sistem imun yang menyebabkan peluang terkena infeksi virus lebih besar.
Penularan virus ini bisa terjadi karena berada dalam satu ruangan dengan yang terinfeksi virus, seperti flu. Virus ini cenderung berkembang biak lebih aktif saat cuaca dingin atau berada di ruangan yang dipenuhi oleh banyak orang.
Pada masa ini, orang cenderung saling berdekatan dalam jarak dekat satu sama lain sehingga virus dapat menyebar lebih cepat. (Berbagai Sumber/Z-3)
Stroke yang dipicu oleh fibrilasi atrium cenderung lebih berat dibandingkan stroke pada umumnya.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang kompleks akibat imunitas parsial, pembawa asimtomatik, dan resistensi insektisida.
Berbeda dengan sekadar tren kesehatan umum, lifestyle medicine merupakan pendekatan medis formal yang menggunakan intervensi gaya hidup berbasis bukti.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved