Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Pak Go, Guru Besar Ilmu Tanah yang Langka

DD/H-2
10/8/2015 00:00
Pak Go, Guru Besar Ilmu Tanah yang Langka
(REPRO/DEDE SUSANTI)
ORANG hebat, kritis, dan sederhana itu telah pergi.

Dia ialah salah satu ilmuwan tanah Indonesia, Prof Go Ban Hong, 90, yang meninggal di RS Bogor Medical Center (BMC), Bogor, Jumat (7/8) pagi, setelah menjalani perawatan intensif di ruang ICU.

Setelah dua hari disemayamkan di Rumah Duka Sinar Kasih, di Jln Batu Tulis, Kota Bogor, jenazah pensiunan guru besar ilmu tanah Institut Pertanian Bogor (IPB) itu dikebumikan di Taman Pemakaman San Diego, Karawang, kemarin.

Go Ban Hong yang lahir di Gorontalo, 21 Oktober 1925, meninggalkan istri Marlani Go yang berusia 87 tahun dan tiga anak, yakni Erwin Go, Yemima Mariana, dan Rosita, dengan tujuh cucu.

Atas dedikasinya itu, Pak Go, begitu ia disapa, mendapat penghargaan Anugerah Sewaka Winayaroha dari Ditjen Pendidikan Tinggi Kemenristek Dikti.

Pada 1966, Pak Go pernah memetakan jenis tanah di Pulau Jawa.

Itu sebabnya, ia dikenal sebagai pakar kesuburan tanah dan konservasi tanah di Indonesia.

Ia pun prihatin terhadap banyaknya pihak yang menggunakan tanah pertanian, secara membabi buta dan terus-menerus menggenjot produksi padi sehingga kondisi tanah banyak yang sakit. Istilah Pak Go, yaitu fenomena kelelahan tanah.

Bungaran Saragih, mantan Menteri Pertanian, punya kesan mendalam atas sosok Pak Go.

Dia menyebut Pak Go sebagai profesor langka.

"Pak Go, tak memikirkan harta. Prof langka. Orangnya satu kata dengan perbuatan dan selalu berbasis pada ilmu pengetahuan," ujarnya saat melayat di Rumah Duka Sinar Kasih, Sabtu (8/8).

Selamat Jalan sang Guru Besar Ilmu Tanah.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya