Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR gizi komunitas lulusan Universitas Indonesia Tan Shot Yen berpendapat anak melepeh makanan atau melakukan gerakan tutup mulut bisa jadi karena masalah tekstur makanan saat mereka tidak lagi ingin makanan lembek.
"Anak sudah enggak mau lagi makan bubur becek. Anaknya sudah mau makanan padat. Jadi harus bikin supaya konsistensinya padat tetapi masih halus. Itu adalah tahapan anak naik tekstur," ujar dia, dikutip Rabu (11/10).
Tan Shot Yen lalu mengatakan penyebab lainnya yakni sariawan dan karies gigi akibat orangtua lupa menyikat gigi anak mereka.
Menurut dia, walau gigi anak baru tumbuh satu atau dua tetap harus disikat dengan pasta gigi mengandung flouride.
Selanjutnya, apabila anak belum bisa berkumur, orangtua bisa membantu mengelap mulut anak dengan handuk hangat atau air hangat.
"Anaknya tidak bisa berkumur? Tidak usah dikumurin tetapi cukup dilap dengan handuk hangat, air hangat," kata dia.
Rutinitas merawat gigi, sambung Tan Shot Yen, membuat anak tidak akan rewel saat giginya tumbuh karena tidak terjadi infeksi akibat rongga mulutnya terjaga dengan baik sejak dini.
"Lalu kalau anak tukar gigi umur 6 tahun, 7 tahun, gigi susunya masih istimewa bukan penuh dengan karies. Anak yang dengan karies itu rentan tidak mau makan. Dan anak yang tidak mau makan dikira kurang vitamin," ujarnya.
Berbicara tentang penyebab gerakan tutup mulut (GTM), menurut penelitian yang dilakukan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), perilaku makan yang tidak benar atau pemberian makanan yang tidak sesuai usia menjadi penyebab tersering.
IDAI berpendapat, sering kali hal ini terjadi sejak fase penyapihan atau waktu dimulainya pemberian makanan pendamping ASI (MPASI).
Menurut IDAI, pemberian makan yang benar harus memperhatikan beberapa hal seperti tepat waktu, kuantitas dan kualitas makanan, kebersihan penyiapan dan penyajian makanan, serta harus sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
Selain itu, pemberian makanan sesuai tahapan perkembangan anak mencakup tekstur makanan dan perbandingan makanan padat serta cair. (Ant/Z-1)
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Orangtua juga diminta mewaspadai Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pewarna atau penyedap rasa yang sering ditambahkan ke dalam makanan.
Pemeriksaan ini dilakukan karena ada laporan pada Sabtu (24/1) yang menduga makanan tersebut terbuat dari bahan Polyurethane Foam (PU Foam) atau material busa kasur maupun spon cuci.
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Makanan yang sejak awal sudah diolah dengan suhu tinggi, seperti digoreng atau dibakar, sangat rentan mengalami degradasi nutrisi jika kembali terkena panas.
Sejumlah jenis makanan tidak dianjurkan untuk dipanaskan berulang kali karena dapat merusak zat gizi dan bahkan memicu pembentukan senyawa berbahaya bagi kesehatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved