Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYEDIAAN perawatan untuk penderita hemofilia di Indonesia masih menghadapi jumlah tantangan. Menurut Dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi Onkologi Novie Amelia Chozie ada empat tantangan penanganan penyakit ini.
"Tantangannya antara lain kurangnya kesadaran masyarakat mengenai hemofilia, kurangnya fasilitas laboratorium untuk uji inhibitor faktor, kurangnya ahli hemofilia dan tim komprehensif multidisiplin, dan keterbatasan pembiayaan BPJS untuk tata laksana," kata Novie, Selasa (18/4).
Hemofilia adalah kelainan perdarahan langka yang bersifat genetik. Penyakit ini ditandai dengan kekurangan faktor pembekuan dalam darah, sehingga mengakibatkan pendarahan yang sebagian besar terjadi di sendi dan otot.
Baca juga: Kenali Hemofilia, Ini Gejala, Penyebab, dan Aturan Makan
Padahal mencegah pendarahan merupakan aspek penting dari penanganan penyakit ini. Pasalnya membantu meminimalkan risiko episode perdarahan yang berpotensi mengancam jiwa dan menyebabkan komplikasi kerusakan sendi yang dapat menyebabkan cacat permanen.
"Pedoman dari World Health Organization (WHO) dan World Haemophilia Foundation (WFH) merekomendasikan terapi profilaksis reguler dengan penggantian faktor pembekuan," ujar Novie.
Baca juga: Obat Demam di Apotek yang Cepat Menurunkan Suhu Tubuh
Penyakit langka ini disebabkan kerusakan gen yang mengatur produksi faktor pembekuan darah, yaitu faktor VIII (hemofilia A) atau faktor IX (hemofilia B), meskipun pada sekitar sepertiga kasus disebabkan oleh mutasi spontan.
Mutasi genetik yang terjadi pada hemofilia mempengaruhi kromosom X. Kelainan pada kromosom X kemudian diturunkan oleh ayah, ibu, atau kedua orang tua kepada anak.
Hemofilia yang bergejala biasanya terjadi pada laki-laki. Anak perempuan lebih sering menjadi pembawa (carrier) gen abnormal yang berpotensi untuk diwariskan kepada keturunannya.
Hemofilia diperkirakan terjadi pada sekitar 1 per 10 ribu orang, dengan jumlah total 400 ribu orang di seluruh dunia.
Di Indonesia, hemofilia masih jarang mendapatkan perhatian. Walaupun, studi pada 2021 menemukan jumlah pasien hemofilia di Indonesia mencapai 27.636 kasus. Sayangnya hanya 2.425 pasien atau kurang dari 10% yang terdiagnosa sebagai hemofilia A dan mendapatkan perawatan.
Data BPJS Kesehatan 2020 menunjukkan hemofilia menduduki peringkat keenam penyakit yang paling banyak memakan anggaran Dana Jaminan Sosial (DJS).
"Untuk mencegah pendarahan di pasien hemofilia, sangatlah penting untuk menjalankan terapi profilaksis, yaitu pemberian faktor pembekuan secara rutin walaupun tidak ada perdarahan, untuk meminimalkan risiko perdarahan pada pasien hemofilia. Jika terjadi perdarahan akut, faktor pembekuan harus diberikan dalam waktu 2 jam untuk mencegah perburukkan dan komplikasi, serta meminimalkan perawatan intensif," jelasnya. (Z-3)
Hemofilia merupakan kelainan perdarahan yang pada umumnya diturunkan, di mana darah tidak dapat membeku dengan baik. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan spontan setelah cedera
Tanggal 17 April diperingati sebagai Hari Hemofilia Sedunia. Yuk kenali penyakit hemofilia. Apa saja gejala, penyebab, dan aturan makannya.
WHO menyebut vaksin influenza generasi baru berpotensi mencegah hingga 18 miliar kasus flu dan menyelamatkan 6,2 juta nyawa hingga 2050 dengan perlindungan yang lebih luas dan tahan lama.
Virus Nipah adalah virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Selain melalui kontak langsung dengan hewan, virus ini juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama ingatkan kewaspadaan terhadap Flu Burung, MERS-CoV, Super Flu, & Virus Nipah. Simak risiko dan data terbaru WHO 2026 di sini.
Mengonsumsi ikan akan memberi energi, protein dan berbagai jenis nutrien yang penting bagi kesehatan.
Tiga tinjauan Cochrane yang ditugaskan WHO mengungkap potensi besar obat GLP-1 untuk penurunan berat badan, namun pakar peringatkan risiko jangka panjang.
WHO terus memantau sejumlah penyakit infeksi paru berat seperti flu burung, MERS, influenza berat, dan virus Nipah yang berisiko tinggi bagi kesehatan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved