Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Ditjen Aptika)
menyelenggarakan webinar "Ngobrol Bareng Legislator" yang bertema “Produksi Konten Positif yang Viral”, Kamis (16/2). Acara ini diisi oleh empat narasumber yaitu Samuel Dirjen Aptika Kominfo Samuel Abrijani, anggota Komisi I DPR Nurul Arifin, Aliah Lestari Sayuti sebagai influencer, dan Dudi Sugandi sebagai V=visual narator.
Webinar ini memaparkan peran krusial dan kontribusi pengguna, khususnya generasi muda, dalam bijaksana memproduksi konten dengan emosi positif pada media sosial.
Aliah Lestari Sayuti mengatakan, dewasa ini istilah viral menjadi salah satu hal yang selalu dikaitkan dengan konten-konten yang ada di media sosial. Konten-konten yang menjadi viral ini seringkali memiliki daya tarik tertentu yang membuat pengguna media sosial tertarik untuk membagikan ulang (re-share/re-post) konten tersebut.
“Berbicara mengenai konten viral sangat menarik, karena terkadang yang tidak berniat viral malah akan jadi viral, yang direncanakan viral tidak menjadi viral. Namun yang pasti terdapat variatif emosi yang terkandung dalam suatu konten yang dapat viral.” papar Aliah.
Adapun Dodi mengatakan, viralitas suatu konten di media sosial dapat juga dipengaruhi oleh peran seorang influencer atau buzzer di media sosial. Peran influencer dalam viralitas suatu konten adalah pada penyebaran konten kepada khalayak luas, atau pada media sosial sering disebut juga dengan peningkatan jangkauan konten.
“Jenis konten yang bisa viral bervariasi. Intinya, konten yang dibuat harus menghibur, memberikan edukasi, menyampaikan informasi, dan membuka inspirasi baru. Bagi saya, untuk membuat konten viral tidak terlalu susah. Kalau buat konten yang viral buatlah konten dan konteks yang sesuai dengan kondisi paling aktual dan membangkitkan emosi.” tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Nurul memaparkan hasil studi yang dilakukan oleh Dobele et al (2007) menunjukkan, suatu pesan atau konten yang viral harus memiliki element of surprise, selain itu pesan yang viral tersebut perlu memiliki emosi yang ada di dalamnya. Berger dan Milkman (2018), dalam studinya menyebutkan bahwa konten dengan emosi positif mendapatkan nilai viralitas yang lebih tinggi dibandingkan konten dengan emosi negatif. Namun, tidak semua emosi yang negatif memiliki viralitas yang lebih rendah. Meurutnya, tidak sedikit konten dengan emosi negatif lebih mendominasi pada beberapa masyarakat.
“Dampak dari konten negatif adalah mampu mengurangi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan yang ada di masyarakat. Sebagai contoh konten negatif adalah fenomena mengemis online, Fajar Sadboy vs Nono Siswa Juara Matematika, dan lainnya. Apabila konten negatif terus menjalar, generasi muda masa depan akan terancam dengan krisis nilai kemanusiaan.” jelas Nurul. (OL-8)
Istana merespons adanya dugaan teror terhadap sejumlah kreator konten yang kerap mengkritik program pemerintah.
"Setiap orang punya keunikan dan nggak perlu jadi orang lain untuk merasa pede,”
Video yang menampilkan Bonnie Blue, nama panggung bintang film porno asal Inggris, kembali viral dan memicu kemarahan publik.
Andra ST, yang mengawali kariernya dari warnet, berhasil memenangkan kategori Best Performance Kreator dan Most Active Kreator.
Lagu ini berbicara tentang diamnya pasangan dalam sebuah hubungan yang akhirnya menumpuk dan berujung tajam
Jerome Polin menjelaskan bahwa Indonesia telah kehilangan 10 juta hektare hutan selama dua dekade.
Tanpa pengawasan dari orangtua, anak dapat dengan mudah terpapar segala jenis konten di media sosial, termasuk konten negatif.
Kemampuan seseorang mengelola emosi sangat berperan penting dalam menentukan seberapa besar dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh berita buruk terhadap kesehatan mentalnya.
Meutya menerangkan platform media sosial punya punya teknologi yang lebih canggih sehingga harus bertanggung jawab menyaring konten seperti pornografi, hingga kekerasan.
Kemenkodigi memastikan audit sistem teknologi internal dilakukan dalam rangka bersih-bersih internal dari judi dalam jaringan alias judi online.
MODERASI konten menggunakan gabungan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan, manusia, dan laporan dari komunitas. Ini untuk memerangi konten negatif secara efektif.
KEMENTERIAN Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut belum ada teknologi yang bisa digunakan untuk mencegah judi online.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved