Rabu 25 Januari 2023, 20:45 WIB

Ini Penyebab Prevalensi Stunting Masih Tinggi di Indonesia

M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora
Ini Penyebab Prevalensi Stunting Masih Tinggi di Indonesia

ANTARA
Ilustrasi - Stunting.

 

MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan masih tingginya prevalensi stunting di Indonesia karena beberapa faktor salah satunya karena kurangnya asupan penting seperti protein hewani, nabati dan zat besi sejak sebelum sampai setelah kelahiran.

Hal ini berdampak pada bayi lahir dengan gizi yang kurang, sehingga anak menjadi stunting.

Baca juga: Sandiaga Ungkap Fakta Jumlah Wisatawan ke Turki Kalahkan Indonesia

Berdasarkan data Survei Status Gizi Nasional (SSGI) 2022, prevalensi stunting di Indonesia di angka 21,6%. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 24,4%. Walaupun menurun, angka tersebut masih tinggi, mengingat target prevalensi stunting di tahun 2024 sebesar 14% dan standard WHO di bawah 20%.

"Setelah bayi berusia 6 bulan harus rajin melakukan pengukuran, karena Selain ASI eksklusif juga ada makanan tambahan, kalau kurang protein hewani anaknya bisa stunting. Protein hewani ini seperti susu, telur, ikan dan ayam," kata Budi di Jakarta, Rabu (25/1).

Cara tersebut efektif mencegah stunting pada anak karena protein hewani mengandung zat gizi lengkap seperti asam amino, mineral dan vitamin yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang menunjukkan adanya bukti kuat hubungan antara stunting dan indikator konsumsi pangan berasal dari hewan, seperti telur, daging/ikan dan susu atau produk olahannya seperti keju, yogurt, dan lainnya.

Penelitian tersebut juga menunjukkan konsumsi pangan berasal dari protein hewani lebih dari satu jenis lebih menguntungkan daripada konsumsi pangan berasal dari hewani tunggal.

Sayangnya, meski bermanfaat untuk mencegah stunting pada anak, konsumsi protein per kapita masih tergolong rendah. Data Susenas 2022 menunjukkan rata-rata konsumsi protein per kapita sehari 62.21 gram (di atas standar 57 gram), tetapi konsumsi telur dan susu 3.37 gram, daging 4.79 gram dan ikan/udang/cumi/kerang berkisar 9.58%.

"Tidak hanya memberikan protein hewani pada anak, berat dan tinggi badan anak juga harus dipantau secara berkala di Posyandu. Ini penting untuk melihat keberhasilan intervensi sekaligus upaya deteksi dini masalah kesehatan gizi sehingga tidak terlambat ditangani," ujarnya. (OL-6)

Baca Juga

Ist

UP Siap Wujudkan Jadi Universitas Berdasarkan Nilai-nilai Pancasila

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 31 Januari 2023, 23:59 WIB
Sebagai wujud tanggung jawab membumikan nilai Pancasila di UP PSP menggelar acara Sosialisasi Road Mapyang yang disusun PSP tahun...
Dok BMI

BMP Beri Perhatian Khusus Masalah Stunting

👤Media Indonesia 🕔Selasa 31 Januari 2023, 22:30 WIB
BUNDA Merah Putih (BMP) memberikan perhatian khusus kepada masalah stunting yang terjadi di sejumlah...
Dok RRI

RRI Play Go Menjadi Lompatan Tansformasi Digital Era Media Baru

👤Media Indonesia 🕔Selasa 31 Januari 2023, 22:15 WIB
Peluncuran aplikasi RRI Play Go versi baru ini dilakukan Direktur Utama LPP RRI, I Hendrasmo, di Galeri Tri Prasetya RRI Jalan Merdeka...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya