Selasa 04 Oktober 2022, 11:59 WIB

Indonesia Tingkatkan Target Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

Atalya Puspa | Humaniora
Indonesia Tingkatkan Target Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

Ist/KLHK
Menteri LHK Siti Nurbaya.

 

Kementerian Lingkungan Hidup meningkatkan target penurunan emisi gas rumah kaca yang tertuang dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC). Hal itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya pada pembukaan sidang The Committee on Forestry (COFO)-26, di Roma, Italia.

"Minggu lalu kami menyerahkan Enhanced NDC Indonesia dengan meningkatkan pengurangan emisi negara target, dari 29% menjadi 31,89% tanpa syarat, menggunakan sumber daya dan kemampuan negara sendiri, dan meningkat dari sebelumnya 41% menjadi 43,20% dengan dukungan internasional," kata Siti dalam keterangan resmi, Selasa (4/9).

Siti menegaskan, dalam NDC, skenario penurunan emisi GRK dari sektor Kehutanan dan Tata Guna Lahan Lain (FOLU) diproyeksikan berkontribusi hampir 60% dari total target penurunan emisi GRK. Oleh karena itu, peran sektor kehutanan memang sangat penting bagi Indonesia, yang pada gilirannya juga akan berkontribusi pada aksi iklim global.

"Indonesia juga berkomitmen untuk mengarusutamakan dan meningkatkan komplementaritas dalam mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, degradasi lahan, penurunan kesehatan laut dan laut itu sendiri, deforestasi, polusi, limbah, dan kerawanan pangan, serta keamanan, ketersediaan, dan aksesibilitas air," ujarnya.

Lebih lanjut, Siti menyatakan Indonesia telah mengambil langkah-langkah korektif untuk mengelola sumber daya alam dan lingkungan. Hal ini dirumuskan dengan menggunakan bukti ilmiah dan dilaksanakan dalam perspektif politik negara.

"Hasil dari langkah-langkah tersebut sekarang dirangkum dan diintegrasikan ke dalam program nasional pengurangan emisi GRK, yang disebut Indonesia's Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030, yang secara resmi digunakan sebagai rencana operasional untuk aksi iklim di kehutanan dan lainnya sektor penggunaan lahan," terang Siti.

FOLU Net Sink 2030 Indonesia dibangun di atas kinerja pengurangan emisi yang luar biasa di lapangan. Kinerja tersebut ditentukan melalui beberapa faktor antara lain upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan, moratorium permanen hutan primer dan lahan gambut, pengembangan teknik modifikasi cuaca, upaya rehabilitasi dan reboisasi, keberhasilan rehabilitasi lahan gambut, rehabilitasi dan konservasi mangrove. Kinerja tersebut juga ditentukan melalui replikasi ekosistem dan eko-riparian, pengembangan ruang hijau perkotaan, demarkasi kawasan lindung dan HCVF di dalam kawasan konsesi, upaya mengatasi fragmentasi habitat, dan upaya penguatan penegakan hukum.

"Semua langkah gabungan ini secara signifikan mengurangi deforestasi dan menjadi tingkat terendah 114 ribu hektar per tahun selama dua puluh tahun pada 2019-2020 dan 2020-2021," ujarnya. (OL-12)

Baca Juga

Antara

Upate 27 November 2022: Kasus Harian Covid-19 di Indonesia Tercatat 4.151 Orang

👤MGN 🕔Minggu 27 November 2022, 21:04 WIB
Sedangkan untuk kasus aktif berkurang 1.539 orang sehingga menjadi 60.581...
MI/Seno

PB IDI dan IAKMI: Omnibus Law Kesehatan Urgensinya Dimana? Minim Kejelasan Pula

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Minggu 27 November 2022, 20:35 WIB
APAKAH UU lama sudah tidak relevan atau mengandung konflik satu dengan lainnya, harus ada penjelasan dan telaah ilmiah terkait aspek...
HO

Pemanfaatan Fleksibilitas Dana BOS Diharapkan Lebih Optimal

👤Syarief Oebaidillah 🕔Minggu 27 November 2022, 20:20 WIB
KEMENDIKBUDRISTEK telah meluncurkan Merdeka Belajar Episode Ketiga tentang perubahan mekanisme penyaluran dan penggunaan dana Bantuan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya