Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT cacar monyet yang sedang mewabah semakin menyita perhatian khalayak. WHO pun sudah menyatakan kondisi kasus cacar monyet sebagai darurat kesehatan global.
Dalam Simposium Cacar Monyet yang dilangsungkan oleh SEAMEO TROPMED pada Rabu (14/9), terdapat 5 poin penting dan terbaru mengenai kasus tersebut;
1. Ada Kemungkinan Virus Clade I di tengah Masyarakat
Pada umumnya, kasus cacar monyet yang kini menyerang merupakan jenis virus Clade II, tepatnya Clade IIB. Namun, kemungkinan adanya virus Clade I, jenis virus yang sebelumnya banyak terjadi di Afrika, dengan dampak yang lebih besar dari virus Clade IIB, tetap ada.
“Dari diskusi, ternyata sebagian kasus di Thailand bukan Clade II, jadi memang mungkin saja virus dengan clade yang tidak ringan juga beredar saat ini. Ini perlu jadi perhatian pada 9 suspek kita yang sekarang sedang diperiksa di laboratorium," ungkap Chair of Governing Board SEAMEO TROPMED, Tjandra Yoga Aditama.
2. Dapat Menulari Bayi dalam Kandungan
Virus cacar monyet diberitakan dapat menembus sawar plasenta (ari-ari). Artinya, kemungkinan ibu pengidap cacar monyet dapat menularkannya kepada bayi dalam kandungan.
3. Di Masa Inkubasi Virus, Tak boleh Donor Darah atau Organ
Masa inkubasi Virus Cacar Monyet dapat berlangsung hingga 21 hari. Oleh karena itu, WHO menyarankan untuk tetap melakukan monitor dan pembatasan interaksi pascakontak fisik dengan pengidap cacar monyet. Di masa inkubasi tersebut juga, terduga dalam pengawasan dan tidak diperbolehkan melakukan donor organ atau darah.
Baca juga: Selama belum Bergejala, Cacar Monyet tidak akan Menular
4. Penularan Dapat Terjadi pada Siapa Saja
Tjandra mengungkapkan petugas kesehatan yang bekerja pada kasus Cacar Monyet juga rentan menjadi korban penularan.
“Data WHO di dunia sejauh ini menunjukkan angkanya 4,5% dari total kasus, dan secara jelas ada bukti bahwa setidaknya tiga orang petugas kesehatan tertular pada waktu merawat pasien cacar monyet,” tutur Tjandra.
5. Penularan Tertinggi Terjadi Pada Hubungan Seksual Antara Pria
Dalam data yang dirilis oleh WHO, melaporkan 90% kasus terjadi pada kelompok hubungan seks antara pria atau “male sex with male” (MSM) dan 40% dari kelompok pengidap cacar monyet dari MSM ini dinyatakan positif HIV.
Namun, data ini berbeda dengan kasus di Asia Tenggara.
“Tetapi, data dari negara-negara WHO Asia Tenggara menunjukkan ada 2 kasus MSM dan 4 kasus heterosexual,” tukas Tjandra.
Dalam pernyataannya, Tjandra juga menguraikan diperlukannya komunikasi risiko, surveilans epidemiologi, diagnosis dan penanganan kasus, pencegahan penularan berkelanjutan dan ketersediaan vaksin untuk dapat mengatasi kasus cacar monyet di Indonesia.(OL-5)
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan untuk penanggulangan kusta perlu diangkat sebagai prioritas nasional.
WHO menyatakan 500 juta perempuan di dunia terkena anemia. Yuk kenali dan ketahui cara mencegahnya.
Indonesia disebut telah mengambil langkah besar melalui pendekatan primary healthcare.
Penerapan konsep UPF secara kaku dan tanpa konteks dikhawatirkan dapat menimbulkan kebingungan konseptual, menstigma produk pangan tradisional yang sejatinya bermanfaat.
Kesehatan mental pelajar semakin memprihatinkan. Data CDC dan WHO menunjukkan tingginya depresi, pikiran bunuh diri, dan kasus bullying pada remaja di sekolah.
WHO akan bekerja sama dengan otoritas Indonesia dan mitra internasional untuk memperkuat layanan kesehatan primer, meningkatkan akses ke layanan berkualitas, termasuk imunisasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved