Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT cacar monyet yang sedang mewabah semakin menyita perhatian khalayak. WHO pun sudah menyatakan kondisi kasus cacar monyet sebagai darurat kesehatan global.
Dalam Simposium Cacar Monyet yang dilangsungkan oleh SEAMEO TROPMED pada Rabu (14/9), terdapat 5 poin penting dan terbaru mengenai kasus tersebut;
1. Ada Kemungkinan Virus Clade I di tengah Masyarakat
Pada umumnya, kasus cacar monyet yang kini menyerang merupakan jenis virus Clade II, tepatnya Clade IIB. Namun, kemungkinan adanya virus Clade I, jenis virus yang sebelumnya banyak terjadi di Afrika, dengan dampak yang lebih besar dari virus Clade IIB, tetap ada.
“Dari diskusi, ternyata sebagian kasus di Thailand bukan Clade II, jadi memang mungkin saja virus dengan clade yang tidak ringan juga beredar saat ini. Ini perlu jadi perhatian pada 9 suspek kita yang sekarang sedang diperiksa di laboratorium," ungkap Chair of Governing Board SEAMEO TROPMED, Tjandra Yoga Aditama.
2. Dapat Menulari Bayi dalam Kandungan
Virus cacar monyet diberitakan dapat menembus sawar plasenta (ari-ari). Artinya, kemungkinan ibu pengidap cacar monyet dapat menularkannya kepada bayi dalam kandungan.
3. Di Masa Inkubasi Virus, Tak boleh Donor Darah atau Organ
Masa inkubasi Virus Cacar Monyet dapat berlangsung hingga 21 hari. Oleh karena itu, WHO menyarankan untuk tetap melakukan monitor dan pembatasan interaksi pascakontak fisik dengan pengidap cacar monyet. Di masa inkubasi tersebut juga, terduga dalam pengawasan dan tidak diperbolehkan melakukan donor organ atau darah.
Baca juga: Selama belum Bergejala, Cacar Monyet tidak akan Menular
4. Penularan Dapat Terjadi pada Siapa Saja
Tjandra mengungkapkan petugas kesehatan yang bekerja pada kasus Cacar Monyet juga rentan menjadi korban penularan.
“Data WHO di dunia sejauh ini menunjukkan angkanya 4,5% dari total kasus, dan secara jelas ada bukti bahwa setidaknya tiga orang petugas kesehatan tertular pada waktu merawat pasien cacar monyet,” tutur Tjandra.
5. Penularan Tertinggi Terjadi Pada Hubungan Seksual Antara Pria
Dalam data yang dirilis oleh WHO, melaporkan 90% kasus terjadi pada kelompok hubungan seks antara pria atau “male sex with male” (MSM) dan 40% dari kelompok pengidap cacar monyet dari MSM ini dinyatakan positif HIV.
Namun, data ini berbeda dengan kasus di Asia Tenggara.
“Tetapi, data dari negara-negara WHO Asia Tenggara menunjukkan ada 2 kasus MSM dan 4 kasus heterosexual,” tukas Tjandra.
Dalam pernyataannya, Tjandra juga menguraikan diperlukannya komunikasi risiko, surveilans epidemiologi, diagnosis dan penanganan kasus, pencegahan penularan berkelanjutan dan ketersediaan vaksin untuk dapat mengatasi kasus cacar monyet di Indonesia.(OL-5)
Mengonsumsi ikan akan memberi energi, protein dan berbagai jenis nutrien yang penting bagi kesehatan.
Tiga tinjauan Cochrane yang ditugaskan WHO mengungkap potensi besar obat GLP-1 untuk penurunan berat badan, namun pakar peringatkan risiko jangka panjang.
WHO terus memantau sejumlah penyakit infeksi paru berat seperti flu burung, MERS, influenza berat, dan virus Nipah yang berisiko tinggi bagi kesehatan global.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukkan virus Nipah (NiV) ke dalam daftar patogen prioritas yang berpotensi memicu pandemi berikutnya.
DISEASE Outbreak News (DONs) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan laporan resmi meninggalnya pasien akibat infeksi virus Nipah (NiV) di Banglades
LEBIH dari 18.500 pasien di Gaza, Palestina, membutuhkan pengobatan medis khusus yang tidak tersedia di daerah kantong tersebut. Demikian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved