Kamis 25 Agustus 2022, 12:56 WIB

Resistensi Antibiotik Jadi Silent Pandemic, Ini Pesan Pakar

Dinda Shabrina | Humaniora
Resistensi Antibiotik Jadi Silent Pandemic, Ini Pesan Pakar

THINKSTOCK dokter.html
Ilustrasi

 

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO, Tjandra Yoga Aditama membenarkan bahwa jutaan manusia meninggal akibat AMR (Antimicrobial Resistance) di dunia. Seperti halnya yang disampaikan Kementerian Kesehatan Rabu, (24/8) dalam pertemuan G20.

Tjandra menjelaskan AMR merupakan suatu keadaan dimana antimikroba (dapat dalam bentuk antibiotik, anti virus, anti jamur, anti parasite, anti tuberkulosis dll) tidak lagi dapat menjalankan fungsinya untuk menangani infeksi akibat berbagai bakteri, kuman, virus, jamur atau parasit.

Tjandra juga menyampaikan telah ada data dunia yang cukup mencengangkan dimana kejadian AMR dapat mengakibatkan tambahan beban kesehatan sampai 1 trilyun.

"Selain itu, dampak lainnya ada 28 juta orang hidup dalam kemiskinan. Diikuti juga dengan 7,5 % penurunan ternak pada 2050 mendatang," kata Tjandra, Kamis (25/5).

Sekarang ini, lanjut dia, pada negara berpenghasilan menengah dan kecil, satu orang anak meninggal setiap tiga menit akibat Infeksi darah yang disebabkan bakteri yang resisten.

Fakta lain disebutkan dalam Jurnal Ilmiah Internasional Lancet bulan Januari 2022 yang membebekan ada 643.381 kematian akibat malaria, 700.660 kematian akibat kanker payudara, 863.837 kematian akibat HIV/AIDS dan 1.270.000 kematian akibat AMR, jadi jauh lebih besar.

"Kita memang belum punya data berskala nasional tentang dampak AMR ini, dan ini perlu diformulasikan dengan tepat. Karena AMR disebut sebagai 'silent pandemic' maka masalahnya tentu terjadi banyak negara, termasuk juga di negara kita," ujarnya.

"Pada waktu masih bertugas di WHO Asia Tenggara saya selain sebagai Direktur Penyakit Menular juga menjadi focal point AMR untuk kawasan ini. Ketika itu sudah berhasil dbuat empat hal. Pertama, rencana kerja semua negara dalam bentuk AMR National Action Plan. Tentu akan baik kalau rencana kerja itu sekarang dilihat bagaimana hasilnya, dan tentu juga rencananya kemudian dapat diakomodasi sesuai dengan tantangan terakhir," tambahnya

Selain itu, Tjandra juga menyampaikan perlu dimulai pelaksanaan pengumpulan data negara anggota di Asia Tenggara untuk masuk dalam data dunia dalam bentuk Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS).

"Saya juga memulai program Tripartite AMR country self-assessment survey (TrACSS) untuk mengetahui bagaimana program AMR berjalan, dimana Indonesia juga turut serta. Lalu pelaksanaan World Antimicrobial Awareness Week satu tahu sekali sebagai bahan peningkatan pemahaman dan advokasi, tingkat dunia, regional dan negara, termasuk Indonesia," ungkapnya.

Tjandra berharap semoga semua kegiatan ini dapat terus ditingkatkan di masa datang, dan Indonesia dapat menangani silent pandemic AMR ini.

"Yang juga baik dilakukan adalah mencari istilah Indonesia untuk AMR, dapat berupa Resistensi Anti Mikrobial, disingkat RAM," tandasnya. (OL-12)

Baca Juga

MI/ Ramdani

IDI: Penentuan Status Endemi Jangan Terburu-buru

👤Ant 🕔Senin 26 September 2022, 22:29 WIB
Menurut Adib, terdapat sejumlah indikator yang harus menjadi dasar untuk dipenuhi menjadi...
DOK Youtube.

Para Ulama Sepakat Roh itu Makhluk atau Diciptakan Allah

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 26 September 2022, 22:04 WIB
Sejumlah orang berpendapat bahwa ruh atau roh dalam bahasa Indonesia bukanlah makhluk atau yang diciptakan. Pendapat tersebut dibantah...
Antara

17.097 Orang Divaksin Kedua Hari Ini

👤MGN 🕔Senin 26 September 2022, 21:58 WIB
Total 171.094.922 orang telah menerima vaksin lengkap per Senin...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya