Rabu 27 Juli 2022, 17:31 WIB

Kemenkes Siapkan Skenario agar Monkeypox Tidak Menyebar

Rona Marina Nisaasari | Humaniora
Kemenkes Siapkan Skenario agar Monkeypox Tidak Menyebar

WHO
Ilustrasi

 

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) melalui Jubirnya, Mohammad Syahril merespons persoalan penyakit monkeypox atau cacar monyet sebagai peringatan bagi dunia kesehatan setelah WHO menetapkan monkeypox adalah wabah Darurat Kesehatan Global pada 23 Juli 2022 lalu. 

Syahril mengatakan dalam penanganannya, cacar monyet ini bisa sembuh sendiri jika masuk dalam kategori ringan dan tidak mengalami komplikasi. Angka kematian yang disebabkan oleh monkeypox pun masih tergolong rendah.

"Penyakit cacar monyet ini pecah & mengering setelah dua minggu, maka cacar ini akan sembuh dengan sendirinya. Setelah masa inkubasinya selesai, ruam pecah jadi bintik hitam. Nah, yang jadi masalah jika terjadi komplikasi. Jika tidak ada, maka bisa dengan menjaga daya tahan tubuh, makan teratur, dll. Angka kematian sekitar 0-11%," kata Jubir Kemenkes.

Baca juga: Komnas Perempuan Apresiasi Kebijakan Pemerintah Gunakan Kerangka CEDAW

Baca juga: Platform SatuSehat Integrasikan Data Kesehatan Nasional

Kemenkes sudah membuat skenario penanganan dan antisipasi agar monkeypox ini tidak menyebar dan bisa ditanggulangi sejak dini m, di antaranya dengan tata laksana simptomatik dan supportif, perawatan ruang isolasi, penderita diberikan asupan nutrisi dan cairan cukup, penapisan dan tata laksana komorbid serta infeksi sekunder, pengawasan dan tata laksana harian bagi penderita yang dirawat.

Sementara itu, Syahril mengatakan untuk vaksinasi cacar monyet sendiri belum akan dilaksanakan dan belum tersedia di Indonesia karena belum ada persetujuan dari Badan POM.

Gejala yang ditimbulkan seperti demam, pembengkakan kelenjar getah bening (leher, selangkangan), ruam yg muncul bertahap, bintik merah, dan vesikel bernanah.

Monkeypox adalah penyakit zoononis yang penularannya melalui cairan. Penularan ini bisa dari hewan ke manusia (cairan tupai, tikus, monyet), manusia ke manusia (kontak langsung, saluran napas, inokulasi melalui mikrolesi pada kulit seperti gigitan atau goresan, dan dari ibu ke bayi (melalui plasenta janin)

Di dunia, catatan monkeypox yang terjadi di antaranya 99,5% terjadi pada laki-laki dengan rata-rata usia 37 tahun, 60% terjadi pada kelompok gay dan biseksual, serta 41% terjadi pada penderita HIV positif.

"Ini bukan penyakit menular seksual, tapi ini meningkat penularannya jika berhubungan seksual karena termasuk zoonosis. Penularan lewat droplet," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Robert Sinto.

Dalam pengelompokkan oleh WHO, Indonesia termasuk klasifikasi satu dimana belum pernah melaporkan kasus monkeypox atau negara yang pernah melaporkan tapi tidak melaporkan lagi kasus ini setelah 21 hari terakhir. (H-3)

Baca Juga

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI.

PB IDI Dukung Regulasi Pelabelan Bisfenol A (BPA) pada Kemasan Plastik  

👤Basuki Eka Purnama 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 04:45 WIB
“Selama ini, masyarakat hanya menyoroti pengaruh jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi terhadap kesehatan, namun mengabaikan...
ANTARA/Asprilla Dwi Adha

UI Pamerkan Bus Listrik Merah Putih di Hakteknas Ke-27

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 22:15 WIB
Rancangan teknologi bus listrik lahir dari ide periset yang berasal dari Fakultas Teknik UI, sementara perusahaan mitra berperan sebagai...
AFP

Anak Terinfeksi Monkeypox, Satgas: Perlu Penanganan Khusus

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 22:04 WIB
Kelompok usia anak menjadi salah satu pasien yang perlu mendapat penanganan khusus dari tenaga medis, khususnya saat terinfeksi cacar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya