Jumat 15 Juli 2022, 22:02 WIB

Kemampuan Digital Harus Diiringi Budaya dan Etika

Mediaindonesia.com | Humaniora
Kemampuan Digital Harus Diiringi Budaya dan Etika

nohat.cc
Ilustrasi

 

Kemampuan digital dalam era teknologi harus dibarengi beberapa aspek kompetensi lain seperti budaya dan etika. Apalagi setelah masuk transformasi digital, muncul tantangan dalam budaya digital seperti mengaburnya wawasan kebangsaan, menipisnya kesopanan dan kesantunan, serta menghilangnya budaya Indonesia karena media digital menjadi panggung bagi budaya asing.

"Di era digital ini tsunami informasi yang terlalu berlebihan, banyak sekali. Karena itu seharusnya bisa membangun wawasan kita. Pengetahuan akan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tungga Ika karena kita hidup di Indonesia," kata Dosen Fikom Universitas Dr. Soetomo, Nur'annafi Farni Syam di Madiun, Jawa Timur, pada Rabu (13/7).

Dengan adanya media digital akhirnya setiap orang bisa mengenal negara apa saja. Media digital bukan hanya sekadar media, namun sudah menjadi sebuah kehidupan karena itu ada real life dan virtual life, di mana nilai-nilai budaya Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika harus dipraktikkan sebagai landasan dari kecakapan digital.

Mengacu kepada Pancasila sebagai landasan negara demokrasi yang mana Indonesia memiliki kebebasan dalam berpendapat atau berekspresi. "Kebebasan berekspresi merupakan salah satu wuiud hak asasi manusia. Kebebasan berekspresi tak bisa dilepaskan dari kebebasan mencari, menerima dan berbagi informasi," katanya lagi.

Lebih jauh dia mengatakan, kebebasan berekspresi juga termasuk dalam kebebasan berpendapat dan berekspresi tanpa intervensi untuk mencari, menerima, dan berbagi informasi dan ide melalui media apapun dan tanpa memandang batas negara. Hal ini tertuang dalam pasal 19, Deklarasi Universal Hak-Hal Asasi Manusia tahun 1948.

Namun tentunya kebebasan berekspresi tetap harus berdasarkan norma yang ada di Indonesia. Meski setiap orang boleh mencari, menerima dan berbagi informasi tapi ada beberapa jenis informasi yang dilarang. Seperti pornografi khususnya pornografi anak, kemudian penyebaran ujaran kebencian, mengandung hasutan publik, advokasi nasional, ras, atau agama yang bisa memicu hasutan diskriminasi, kekerasan, dan permusuhan. Sehingga sebagai warga digital, meski bebas berekspresi patuhi norma dan hindari hal-hal yang dilarang apalagi saat ini sudah ada jeratan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). (OL-12)

Baca Juga

ANTARA/Asprilla Dwi Adha

UI Pamerkan Bus Listrik Merah Putih di Hakteknas Ke-27

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 22:15 WIB
Rancangan teknologi bus listrik lahir dari ide periset yang berasal dari Fakultas Teknik UI, sementara perusahaan mitra berperan sebagai...
AFP

Anak Terinfeksi Monkeypox, Satgas: Perlu Penanganan Khusus

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 22:04 WIB
Kelompok usia anak menjadi salah satu pasien yang perlu mendapat penanganan khusus dari tenaga medis, khususnya saat terinfeksi cacar...
ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

UGM Buka Pendaftaran KIP Kuliah untuk Mahasiswa Baru

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 22:00 WIB
Penerima KIP-K berhak mendapat bantuan biaya pendidikan atau uang kuliah tunggal (UKT) yang dibayarkan oleh pemerintah langsung ke...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya