Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
Etika berinternet (netiket) dibutuhkan ketika berkomentar di media digital. Individu yang beretika baik selalu berusaha memahami konteks sebelum mengomentari konten seseorang. Sehingga komentar yang dilontarkan sesuai.
“Ketika berkomentar itu sama seperti di dunia nyata. Pertama, kita paham betul dari awal hingga akhir apa yang sedang dibicarakan. Kita harus tahu konteks yang sedang dibicarakan apa,” kata Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Swiss German University, Loina Lalolo Krina Perangin-angin di Jombang, Jawa Timur, Selasa (12/7).
Aturan umum netiket tidak memandang budaya dan batasan tempat. Semua yang berada di dunia digital adalah manusia, sehingga ketika online harus mengikuti aturan-aturan seperti di dunia nyata. Sehingga semua pengguna media digital harus saling menghormati. Di sisi lain, setiap individu harus teliti terhadap konteks sebelum mengunggah apapun di internet, termasuk komentar.
Netiket dalam berkomentar di media sosial mencegah terjadinya keributan. Sekarang ini kebebasan berekspresi kerap menimbulkan ketersinggungan. Setiap orang sebaiknya memberi komentar yang berhubungan dengan isi konten. “Jangan memberikan komentar yang menyinggung, apalagi SARA. Hindari berdebat di kolom komentar orang lain,” kata Loina. (OL-12)
Ia menyarankan masyarakat untuk memilah dan memilih berita yang benar-benar bermanfaat.
UU Tipikor digugat di MK. Berbagai cara menghambat penegakan hukum tindak pidana korupsi. Salah satu caranya adalah melalui media sosial.
SEBUAH video yang diduga memperlihatkan prosesi akad nikah siri antara Faby Marcelia dan Ichal Muhammad viral di media sosial. Profil Faby Marcelia
SEBUAH rekaman yang diduga memperlihatkan prosesi akad nikah siri antara Faby Marcelia dan Ichal Muhammad mendadak viral di media sosial.
Pada Juli 2025, unduhan X di Google Play mengalami penurunan yang signifikan menjadi 44% year-on-year di seluruh dunia, sementara unduhan di iOS justru meningkat 15%.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved