Selasa 10 Mei 2022, 05:35 WIB

Memasyarakatkan Sistem Otomasi untuk Petani

Aep Supriyadi, Estiyanti Ekawati, Dede Irawan Saputra, Irvan Budiawan | Humaniora
Memasyarakatkan Sistem Otomasi untuk Petani

Dok. ITB

 

PUNCAK pandemi covid-19 pada 2021 tidak menghalangi tim Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Pusat Teknologi Instrumentasi dan Otomasi ITB, serta Jurusan Teknik Elektro Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi untuk menghelat Pelatihan Sistem Otomasi Pertanian bagi kelompok tani di Cipacing Jatinangor serta Komunitas Hidroponik Cimahi.

Bidang pertanian dan perkebunan ialah tulang punggung kesejahteraan suatu bangsa. Konsumsi dan distribusi hasil pertanian dan perkebunan merupakan salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Agar pertanian lebih menyejahterakan petaninya, perlu dibangun sistem yang memungkinkan pengoperasian yang lebih efisien, baik pada lahan sempit maupun pada lahan yang lebih luas. Untuk keperluan tersebut, sistem otomasi pertanian sangat dibutuhkan.

Sistem otomasi dapat mengurangi jumlah personel, dan mengurangi biaya operasional, khususnya biaya tenaga kerja yang bisa mencapai 30% dari biaya total. Otomasi pertanian dapat dilakukan pada berbagai aspek kegiatan budi daya pertanian, seperti pengolahan tanah, penanaman, irigasi, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit.

Penerapan sistem otomasi pertanian akan membantu operasi kegiatan usaha pertanian berjalan lebih baik. Pemberian air dan nutrisi menjadi lebih akurat, dan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Dengan begitu, hasil dan produksi bisa maksimal.

Untuk memasyarakatkan kompetensi membangun sistem otomasi pertanian di kalangan kader petani, dibentuklah tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) yang terdiri dari dosen Prodi Rekayasa Pertanian SITH ITB, Teknik Fisika FTI ITB, serta Teknik Elektro Unjani yang bekerja sama dalam wadah Pusat Teknologi Instrumentasi dan Otomasi (PTIO) ITB.

Pada Juni 2021, tim ini menyelenggarakan rangkaian acara Pelatihan Sistem Otomasi Pertanian dalam bentuk webinar daring pada 18 Juni 2021 dan pelatihan tatap muka untuk para kader kelompok tani di Cipacing Jatinangor pada 19 Juni serta pelatihan tatap muka untuk Komunitas Hidroponik Cimahi pada 20 Juni 2021.

Kurikulum pelatihan ini dirancang untuk secara cepat memberikan pengalaman membangun sistem otomasi dalam bidang pertanian, yang kemudian dengan mudah dikembangkan untuk berbagai aplikasi pertanian yang lebih kompleks.

Pada webinar daring, Dr Aep Supriyadi (SITH ITB-ketua tim PPM), Dr Estiyanti Ekawati (FTI ITB), Dede Irawan Saputra, SPd, MT (Unjani), dan Irvan Budiawan, ST, MT (Unjani) memberikan pembekalan mengenai aspek-aspek otomasi pertanian yang esensial dan dapat segera diterapkan untuk sistem pertanian.

Keesokan harinya, tim ini mengunjungi MTS Darul Hufad Hidroponik Farm di Dusun Bojong, Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Di tempat ini tim memberikan pelatihan penerapan sistem otomasi pertanian pada sistem hidroponik DFT (deep flow technique), NFT (nutrient film technique), rakit apung, serta polybag pembibitan dan pertumbuhan. Peserta hari itu merupakan anggota kelompok petani hidroponik di Jatinangor.

Mereka mengikuti demonstrasi dan praktik pengendalian suhu dan kelembapan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dalam berbagai sistem pertanian tersebut. Pelatihan serupa dilanjutkan pada hari berikutnya bertempat di Yayasan Darul Husna, dengan diikuti oleh anggota Komunitas Hidroponik Cimahi.

Pada dua hari pelatihan tatap muka yang dilaksanakan sesuai protokol kesehatan, peserta mengikuti praktik pengukuran kelembapan lingkungan, kelembapan tanah dan suhu air menggunakan sensor elektronik. Data pengukuran sensor tersebut dikirimkan ke pengontrol mikro ESP8266.

Berdasarkan data yang diterimanya, pengontrol ini mengatur operasi pompa mist, aerator, dan pompa nutrisi agar tercapai kondisi lingkungan yang optimal untuk pertumbuhan tanaman. Pengontrol mikro ini juga dilengkapi fitur untuk mengirimkan data melalui jaringan internet. Data ini dapat diakses melalui telepon genggam yang dilengkapi aplikasi Blynk. Melalui aplikasi ini, petani dapat dengan nyaman memantau data-data suhu, kelembapan, serta pengoperasikan pompa baik secara otomatis maupun manual.

Praktik tersebut didukung oleh enam mahasiswa ITB yang bergabung dalam skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), sebagai instruktur pelatihan. Mereka ialah tiga mahasiswa Prodi Teknik Fisika FTI ITB, yaitu Selvia, Widya Ayu Salsabila, dan Rizky Arif, serta tiga mahasiswa Prodi Rekayasa Pertanian, yaitu Nanda Qonita, Rachma Kharismawati, dan Novan Kopriadi

Pelatihan ini disambut baik oleh para peserta. Jalaluddin selaku perwakilan petani menyatakan sangat terbantu oleh pelatihan ini. Menurutnya, pelatihan ini menambah wawasan petani, sekaligus mengembangkan cara berpikir milenial, yang memanfaatkan berbagai gawai untuk memantau kondisi pertaniannya.

“Perangkat ini secara otomatis bisa membantu tingkat produksi dan kualitas hasil tani, juga bisa mengurangi tenaga kerja yang lebih efisien dan lebih hemat mengurangi biaya produksi,” tandasnya.

Dr Aep Supriyadi selaku ketua tim menyampaikan bahwa otomasi dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan permasalahan yang ada di lapangan. Sebagai contoh, tanaman hidroponik sistem rakit terapung seperti di Cipacing, rentan kekurangan kadar oksigen dalam larutan untuk suplai ke perakaran, atau terganggu oleh tingginya suhu lingkungan. Hal ini diatasi dengan memasang sistem otomasi aerator untuk meningkatkan aerasi dan kadar oksigen dalam larutan, serta pompa mist untuk menurunkan suhu dan meningkatkan kelembapan lingkungan.

“Sistem ini dapat membantu petani dan dapat mengurangi tenaga kerja. Sistem ini dapat dioperasikan dari jarak jauh melalui jaringan internet dan diakses melalui telepon genggam, sehingga petani mudah menguasainya,” paparnya.

Irvan Budiawan, ST, MT dan Dede Irawan Saputra, SPd, MT dari Unjani menambahkan, kemampuan teknis pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan sistem otomasi pertanian di kalangan kelompok tani perlu selalu dibangun melalui pembinaan yang reguler dan sistematis. Dukungan perangkat dan pelatihan sangat dibutuhkan untuk membangun kader yang menyadari pentingnya sistem otomasi dalam menunjang efisiensi operasi pertanian di lahan sendiri serta komunikasi dan koordinasi antarlahan.

Setelah kesadaran ini terbentuk dan sistem otomasi menjadi bagian inheren dalam aktivitas pertanian, keberlangsungannya akan terpelihara dan terus berkembang. Upaya menyiapkan ketersediaan SDM yang memiliki keterampilan membangun sistem otomasi pertanian, khususnya dalam kelompok tani, perlu dilaksanakan dalam bentuk pelatihan pembuatan berkala, sistematis juga melibatkan ahli dan teknisi yang berpengalaman.

Melalui pelatihan tersebut diharapkan tumbuh kader petani yang memiliki keahlian dalam membangun dan memelihara sistem otomasi pertanian, khususnya di wilayah Jatinangor dan Cimahi, Jawa Barat. Pelatihan pada Juni silam bertujuan memberikan kompetensi dasar, untuk membangun kesadaran membentuk jaringan, dan selanjutnya bergulir ke pembinaan sistematis hingga dapat mencapai kemampuan startup pada periode-periode selanjutnya. (M-2)

 

 

Baca Juga

DOK MI

PBB Apresiasi Keberhasilan Indonesia Tangani Covid-19

👤Atalya Puspa 🕔Rabu 25 Mei 2022, 19:41 WIB
PENANGANAN pandemi Covid-19 di Indonesia mendapatkan apresiasi dari Persatuan Bangsa-Bangsa...
Dok. Ubhara Jaya

Luluskan 555 Wisudawan, Ubhara Jaya Berkomitmen Lahirkan Lulusan Profesional Berwawasan Kebangsaan

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 25 Mei 2022, 19:25 WIB
Bambang menegaskan komitmen Ubhara Jaya dalam menghasilkan lulusan profesional yang tertuang dalam visi...
Antara/Nyoman Hendra Wibowo

GPDRR ke-7 Tonggak Bersejarah Kerjasama Pengurangan Risiko Bencana

👤Atalya Puspa 🕔Rabu 25 Mei 2022, 19:03 WIB
GPDRR ke-7 secara resmi dibuka Presiden Joko Widodo dengan membunyikan kulkul atau kentongan Bali bersama Deputy Secretary General dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya