Sabtu 05 Februari 2022, 13:15 WIB

Masyarakat Diminta Lebih Selektif Memilih Lembaga Pendidikan Berkedok Pesantren

mediaindonesia.com | Humaniora
Masyarakat Diminta Lebih Selektif Memilih Lembaga Pendidikan Berkedok Pesantren

ANTARA
Sejumlah santriwati mengikuti kajian kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Amin, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

 

PRAKTISI pesantren yang juga Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) M Najih Arromadloni mengatakan, masyarakat harus waspada dan selektif dalam memilih pesantren untuk pendidikan putra-putrinya.

Pendiri Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation  menyayangkan fenomena kemunculan pesantren-pesantren baru yang hanya secara formalitas mengambil nama pesantren, tetapi kurikulum, sistem pendidikan, dan bahkan pembelajaran kitab kuning tidak disertakan di dalamnya.

Fakta inilah yang membuat semua pihak harus waspadai institusi pendidikan yang berkedok pesantren.

"Hal ini agar terbangun kewaspadaan dari semua pihak, baik itu stakeholder pemerintah maupun masyarakat. Intinya masyarakat agar lebih selektif dalam memilih pesantren," jelas Gus Najih, panggilan karibnya, seperti dilansir Antara, Sabtu (5/2).

Dia mengungkapkan, beberapa hal yang perlu menjadi perhatian masyarakat, orangtua dan calon santri dalam memilih pesantren di tengah makin banyaknya bermunculan pesantren di negeri ini. "Harus dilihat dulu sanad atau tradisi keilmuannya ke mana," ungkapnya.

Menurutnya, perlu diteliti juga terkait afiliasi pesantren tersebut dengan organisasi kemasyarakatan (ormas). Juga keterbukaan pesantren dengan masyarakat sekitar menjadi poin yang harus diperhatikan guna menghindari kecurigaan pesantren tersebut bersifat eksklusif. Perlu juga dilihat track record atau rekam jejak dari pesantren tersebut.

Gus Najih menilai, kesalahan dalam memilih pesantren justru akan menimbulkan dampak panjang yang akan memengaruhi dan berbahaya bagi keberlangsungan bangsa ini. Terlebih saat ini marak masuknya ideologi transnasional sebagai akibat dari kemajuan teknologi informasi.

"Padahal, khittah pesantren sejak dahulu adalah doktrin hubhul wathon minal iman, yaitu cinta terhadap tanah air adalah bagian daripada iman. Dan itu yang selama ini menjadi realitas dunia pesantren sepanjang sejarah Nusantara ini," ujarnya.

Gus Najih melanjutkan, sejatinya selama ini pesantren memiliki andil besar dalam sejarah Nusantara. Pesantren telah mencetak banyak tokoh utama bangsa dari kalangan santri.


Baca juga: Pesantren Berjasa Memperkuat Bangsa lewat Pendidikan


"Seperti KH Ma'ruf Amin yang sekarang jadi Wakil Presiden, serta almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah menduduki posisi sebagai Presiden. Jadi memang pesantren adalah salah satu cagar pendidikan yang khas Nusantara," tuturnya.

Ia mengungkapkan, kekhasan pesantren yang seperti demikian tidak bisa ditemukan di negara lain. Terlebih, pesantren di Nusantara ini memiliki keunggulan corak dan kebudayaannya masing-masing.

"Masing-masing pesantren ini memiliki keunggulan, keunikan dan keragaman kurikulum, sehingga membuat lembaga tersebut semakin kaya warna. Sebagaimana Gus Dur mengatakan, pesantren itu adalah subkultur dari kultur Indonesia yang sangat beragam," kata alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus Suriah itu.

Ia mengutip data dari Kementerian Agama, pesantren yang telah melekat sebagai subkultur Nusantara, saat ini tercatat sudah ada hampir 28 ribu pesantren yang ada di Indonesia. Dengan jumlah yang sedemikian banyak, ia menilai perlu adanya regulasi yang ketat untuk mengawasi keberadaan pesantren.

"Mestinya juga dalam menerbitkan izin pesantren, Kementerian Agama perlu menerapkan sebuah regulasi yang ketat dan perlu juga melibatkan ormas ataupun masyarakat," ucapnya.

Gus Najih melanjutkan, pesantren-pesantren yang di bawah organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah sudah diketahui lisensi dari ormasnya dan dikenal masyarakat dengan baik sebagai ormas besar moderat. Karena itu penting bagi pemerintah melibatkan ormas atau pun masyarakat yang berinteraksi langsung dengan pesantren.

"Sebetulnya, pesantren yang moderat ini adalah kekuatan bagi negara untuk melakukan kontra terhadap pesantren yang radikal dengan menyebarkan agama yang moderat," ujarnya.

Untuk itu, Gus Najih mengapresiasi peran pemerintah yang dinilai sudah tepat dalam menangani fenomena radikalisme yang tumbuh. Khususnya dalam melibatkan banyak ormas keagamaan, ulama, dan tokoh masyarakat.

"Saya melihat pemerintah, melalui BNPT, sudah membentuk Gugus Tugas Pemuka Lintas Agama, yang anggotanya terdiri atas berbagai tokoh-tokoh dari berbagai ormas keagamaan yang ada di Indonesia. Hal itu menunjukkan komitmen pemerintah untuk berjalan bersama pesantren dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme di Indonesia ini," kata Gus Najih. (Ant/S-2)

 

Baca Juga

Dok. LLdikti Wilayah III

Dorong Semangat Kampus Merdeka, LLDikti Wilayah III Luncurkan Program PMM-PKBN 

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 18:39 WIB
Program PMM akan membentuk para pelajar Pancasila dan calon pemimpin masa depan, dimana PMM akan mendorong pemulihan pandemi dan membawa...
Antara

Update 10 Agustus: 5.926 Kasus Covid-19 Terdeteksi Hari Ini

👤MGN 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 17:22 WIB
Sementara itu, kasus aktif covid-19 bertambah 1.002 sehingga menjadi 52.043...
DOK Pribadi.

Rayakan 60 Tahun Berdiri, Hotel Indonesia Kempinski Gelar Pameran Seni

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 17:02 WIB
Merayakan 60 tahun berdirinya Hotel Indonesia, Hotel Indonesia Kempinski Jakarta kali ini mempersembahkan keelokan seni Indonesia melalui...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya