Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak dan konsultan neurologi anak FKUI/RSCM Prof Hardiono D. Pusponegoro, mengajak para orangtua mendeteksi dan mencegah gejala keterlambatan pertumbuhan anak sejak dini.
Hardiono menyebutkan 30% anak- anak yang ada di dunia mengalami keterlambatan perkembangan mulai dari tingkat keterlambatan ringan hingga berat.
"Jika orangtua telah mendeteksi tanda-tanda keterlambatan pada perkembangan anaknya, orangtua diminta untuk tidak diam saja atau menunggu kemajuan perkembangan anak dengan sendirinya. Karena mendeteksi dan menangani keterlambatan perkembangan sejak dini akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik," kata Hardiono lewat siaran pers, Jumat (7/1).
Baca juga: Pastikan Anak yang akan Vaksin Covid-19 Istirahat Cukup
Pada usia 6 bulan setidaknya anak sudah bisa melakukan gerak kasar berupa tengkurap, hal itu berlanjut hingga usia 8 bulan.
Memasuki 9 bulan, anak setidaknya harus bisa melakukan gerak kasar yaitu duduk yang merupakan perkembangan terbaru dari tengkurap.
Dari segi komunikasi dengan orangtua, anak di usia 6-9 bulan setidaknya sudah dapat menoleh saat dipanggil namanya oleh ayah atau ibunya.
Setelah anak mampu duduk, di usia 11 bulan hingga satu tahun, anak akan mulai merangkak dan menjadi bagian dari gerak kasar yang harusnya bisa dilakukan semua bayi di usia tersebut.
Anak juga akan mulai aktif melakukan komunikasi dengan anggota tubuhnya dengan menunjuk barang- barang menggunakan jari jemarinya.
Tidak hanya itu, di usia tersebut anak mulai mengeluarkan suara dalam bentuk kata dan kalimat yang belum jelas atau babbling.
Orangtua harus memahami bila usia anak sudah melebihi 1 tahun, anak akan mulai aktif belajar berdiri hingga berjalan, bahkan terkadang mereka sudah bisa berlari kecil.
Di usia tersebut, anak sudah bisa mengucapkan kata- kata sederhana seperti memanggil Ibu atau Ayahnya dengan sebutan yang tentunya diajarkan oleh orangtua.
Jika tanda- tanda tersebut tidak dialami buah hati Anda, tentunya Anda harus segela menyadari bahwa itu termasuk dalam keterlambatan perkembangan anak.
"Setelah mendeteksi, orangtua dianjurkan mendiagnosa jenis keterlambatan perkembangan anak dengan dokter spesialis anak atau ahlinya, lalu mengobati apa yang bisa diobati, merujuk terapi yang tepat sesuai dengan diagnosa, konseling, dan langkah terakhir untuk rujuk konsultasi selanjutnya," pungkas Hardiono. (Ant/OL-1)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved