Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
MATEMATIKA menjadi mata pelajaran yang dikeluhkan paling sulit oleh sebagian besar peserta ujian nasional (UN) tingkat sekolah menengah pertama (SMP) tahun ini.
Munculnya keluhan itu dinilai sebagai cerminan dari metode pembelajaran matematika yang salah selama ini.
"Selama ini belajarnya model drilling penyelesaian soal seperti di (lembaga) bimbel (bimbingan bejalar), bukan mastery learning (pembelajaran tuntas) yang menjadi pesan kurikulum. Jadi, ketika mendapat soal yang pakai mikir saat menjawab dianggap sulit," ujar Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemendikbud Nizam, kemarin.
Ia pun menjelaskan tim penyusun soal di UN tahun ini sama dengan tim tahun-tahun sebelumnya.
Soal tersebut juga sudah di-review (ditelaah) oleh guru-guru SMP.
"Memang, kisi-kisi soal tahun lalu dibuat rinci sehingga menjadi bahan drilling soal oleh pihak bimbel dan tryout sekolah. Berbeda dengan kisi-kisi sekarang yang menggambarkan kompetensi yang akan diukur sehingga tak bisa diprediksi. Barangkali soal yang belum pernah dilihat itulah yang kemudian dikeluhkan sulit," tandasnya.
Sebelumnya, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia Retno Listyarti menyatakan salah satu poin laporan masyarakat yang diterima pihaknya ialah sulitnya soal matematika di UN SMP.
Selain itu, ada juga laporan kebocoran soal.
Laporan itu telah disampaikan ke Kemendikbud untuk ditindaklanjuti.
Kasus SMAN 3
Terkait dengan gagalnya 380 siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Semarang, Jawa Tengah, pada seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN), Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menyatakan kekeliruan ada di pihak sekolah.
Dari sekolah-sekolah yang menerapkan sistem kredit semester (SKS), hanya SMAN 3 yang bermasalah.
"Di Indonesia, yang sudah menggunakan sistem SKS itu ada 50 sekolah, yang 49 sekolah tidak ada masalah. Ada sekolah yang siswanya keterima 160 siswa dari total 240, artinya kan di atas 50%. Yang lain ada yang 40%, 30%," ungkapnya di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, kesalahan pihak SMAN 3 Semarang ialah hanya memasukkan mata pelajaran tanpa dilengkapi dengan nilai-nilai siswa ke sistem komputer SNMPTN.
Secara terpisah, Mendikbud mengungkapkan pihaknya telah meminta Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang untuk segera melakukan audit.
"Input data menggunakan komputer, jadi bisa dilacak secara rinci dari detik per detik apa yang dilakukan dalam proses input data itu. Ini harus ada yang bertanggung jawab," tegasnya.
Sebelumnya, kegagalan 380 siswa yang seluruhnya berasal dari jurusan IPA kelas reguler SMAN 3 Semarang itu menimbulkan kecurigaan mengingat sekolah itu merupakan unggulan yang di tahun-tahun lalu banyak meloloskan siswa dalam SNMPTN.
Atas kasus tersebut, Ketua Panitia SNMPTN Rachmat Wahab menegaskan hasil SNMPTN yang sudah diumumkan pada 9 Mei sudah final dan tidak bisa diganggu gugat.
"(Siswa yang gagal SNMPTN) silakan mencoba jalur SBMPTN (seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri atau jalur ujian)." (Mlt/HT/AU/H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved