Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Kemenkominfo Jadi Rumah Pengembangan Tekhnologi Generasi Muda

Cahya Mulyana
29/10/2021 11:39
Kemenkominfo Jadi Rumah Pengembangan Tekhnologi Generasi Muda
Warga mencoba aplikasi Sistem Administrasi Kependudukan Berbasis Teknologi Informasi (Sakti) melalui gawainya di Kota Kediri.(ANTARA/Prasetia Fauzani)

DI era digital 4.0, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menjadi rumah bagi generasi muda dalam pengembangan teknologi demi kemajuan bangsa Indonesia.

"Setiap program Kementrian Kominfo merupakan satu-satunya cara menangkap kesempatan yang ada, karena begitu banyak program di Kementerian ini. Saya yakin ini sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia, bagi generasi yang betul-betul ingin memanfaatkan teknologi," ungkap Anggota Komisi I DPR RI Syarief Hasan dalam webinar Literasi Digital Desa Digital, Jumat (29/10).

Menurut dia, pemerintah sudah mempersiapkan begitu banyak teknologi berikut infrastrukturnya agar masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, dapat memanfaatkannya demi kepentingan meningkatkan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, memperbaiki kemiskinan.

Baca juga: Ekosistem Digital Percepat Indonesia Jadi Pusat Produk Halal Dunia

Syarif pun mengimbau generasi muda selalu berada dalam jalur kreativitas yang tinggi. Sehingga mampu melahirkan inovasi baru dalam pengembangan teknologi untuk kepentingan bangsa.

"Dengan begitu kita sudah memberikan kontribusi terhadap Bangsa dan Negara Indonesia. Untuk itu, saya menghimbau generasi muda untuk tetap kreatif, inovatif, dan bekerja untuk masa depan bangsa ini," ungkap dia.

Sementara itu, Dirjen Aptika Kominfo, Samuel Abrijani Pangarepan mengatakan kehadiran pandemi dan kemajuan teknologi akan mengubah cara beraktifitas dan bekerja. Kehadiran teknologi sebagai bagian dari masyarakat yang dapat mempertegas dalam menghadapi distrupsi teknologi.

Samuel mengatakan, pemerintah, melalui Kominfo, terus berkomitmen meningkatkan literasi digital dalam inisiatif kegiatan, yang diharapkan memfasilitasi dan mendorong masyarakat digital Indonesia.

"Indeks digital Indonesia hanya ada sedikit di atas tingkat sedang dan belum di tingkat baik, untuk itu pemerintah dan lainnya mengadakan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan digital masyarakat indonesia," sebutnya.

Peneliti Catha Politica Indonesia Mawardin menambahkan hoaks atau berita bohong senantiasa bermutasi dalam segala musim dan cuaca.

Mawardin menyontohkan satu kasus terbongkarnya sindikat Saracen yang beroperasi sejak pemilu 2014. Kelompok Saracen adalah penyedia jasa konten kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan dengan memakai ribuan akun media social.

"Laju penyebaran hoaks mesti dicegah, bukan hanya mengikat kaki pendengung, tapi juga memburu kepala di balik kejahatan dunia maya (cyber crime) tersebut. Dalam konteks itulah, melawan penjahat hoaks bukan hanya melalui instrumen legalistik (UU Informasi dan Transaksi Elektronik), tapi juga gerakan kultural dari semua pihak yang peduli akan terciptanya ruang publik yang sehat," ungkapnya.

Menurutnya, di tengah defisit daya kritis warganet jejaring medsos seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, TikTok dan WhatsApp menjadi kanalisasi disinformasi yang masif.

Hulunya adalah kelangkaan simpul informasi yang mencerahkan. Sedangkan hilirnya adalah warga yang problematik dalam aspek kognisi ditambah krisis literasi, lalu terinfeksi hoaks.

Untuk itu, intelektual publik harus menguasai mimbar-mimbar ide di pelbagai kanal percakapan. Intelektual publik berposisi sebagai aktor komunikasi diskursif untuk merasionalisasi opini publik.

"Jika intelektual publik tidak bersatu padu, maka bukan sesuatu yang mustahil, kekosongan itu diboncengi oleh grup garis keras yang bertendensi ingin mengobok-obok republik ini. Kita harus menyadari bahwa hoaks ini adalah musuh bersama," ujarnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya