Kamis 28 Oktober 2021, 14:18 WIB

Waspada Long Covid-19, Ini yang Harus Diperhatikan Penyintas

Atalya Puspa | Humaniora
Waspada Long Covid-19, Ini yang Harus Diperhatikan Penyintas

Medcom
ilustrasi covid-19

 

PENYINTAS covid-19 berpotensi mengalami keluhan berkepanjangan setelah terkena covid-19 atau yang disebut dengan fenomena long covid. Menanggapi hal itu, Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Akademik UGM Siswanto mengungkapkan bahwa perlu dilakukan pemantauan selama 12 minggu sejak munculnya gejala pertama.

"Setelah 12 minggu, pasien bisa dipastikan sudah sembuh secara sempurna atau belum dilihat dari ada atau tidaknya gejala atau kelainan secara radiologis maupun hasil laboratorium," kata Siswanto dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (28/10). 

Baca juga: Curah Hujan Meningkat karena La Nina, BNPB Minta Masyarakat Waspada

Ia mengungkapkan, khusus bagi yang mendapatkan perawatan di rumah sakit saat terinfeksi covid-19, penyintas disarankan untuk melakukan kontrol satu hingga dua minggu setelah keluar dari rumah sakit. Selanjutnya, kontrol kembali dilakukan pada minggu keenam atau kedelapan terhitung dari awal munculnya gejala. 

Selain itu, untuk pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumah, ia menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter apabila setelah 4 minggu masih merasakan gejala, baik gejala yang sama maupun adanya gejala baru.

“Jangan segan-segan bagi masyarakat untuk periksa jika dulu sebelum terkena covid-19 tidak punya gejala seperti ini tapi setelah covid-19 mengalami gejala, apapun itu, sebaiknya konsultasi,” terangnya.

Siswanto menuturkan, yang paling berisiko mengalami long covid-19 ialah penderita diabetes melitus, gagal jantung, tuberkulosis dan komplikasi lainnya.

Siswanto memberikan sejumlah tips untuk pemulihan pasca infeksi covid-19, yaitu konsumsi makanan tinggi protein dan rendah karbohidrat, lakukan intermittent fasting atau diet puasa, tidur berkualitas 6-8 jam di malam hari, dan perbanyak konsumsi vitamin C, D, B, E, dan antioksidan. Selain itu, penyintas disarankan menghindari stres serta mengontrol penyakit penyerta.

“Tubuh kita punya mekanisme untuk repair organ yang mengalami kerusakan sel, namanya autofagi. Proses ini butuh stimulus, perlu ada pengkondisian tertentu,” paparnya. (OL-6)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

21 Daerah Alami Peningkatan Kasus, Pemda Diminta Tingkatkan Pelacakan Kontak

👤Atalya Puspa 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 14:56 WIB
Adapun, sejumlah daerah tersebut mengalami peningkatan kasus akibat klaster komunitas, mulai dari klaster sekolah, perkatoran, pasar, dan...
dok.mi

Apa Sih Hipotesis Itu? Ini Contohnya Biar Kamu Tau

👤Sofia 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 13:30 WIB
KITA seringkali mendengar kata hipotesis, tapi belum tau pasti apa...
ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

BMKG Catat Terdapat Peningkatan Aktivitas Gempa pada November

👤Atalya Puspa 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 12:00 WIB
Gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 (M>5,0) terjadi sebanyak 11 kali atau mengalami penurunan jika dibandingkan dengan bulan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya