Kamis 14 Oktober 2021, 20:44 WIB

BPOM Dinilai Perlu Uji Paparan BPA Pada Makanan Kaleng

Widhoroso | Humaniora
BPOM Dinilai Perlu Uji Paparan BPA Pada Makanan Kaleng

Ist
Ilustrasi

 

BADAN Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dinilai perlu melakukan uji laboratorium terhadap paparan Bisfenol A (BPA) yang ada dalam makanan kemasan kaleng seperti yang dilakukan terhadap kemasan plastik Policarbonat (PC). Hal itu karena sudah ada penelitian yang dipublikasikan oleh Environmental Research yang menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan kaleng berhubungan dengan tingginya konsentrasi BPA dalam urin.

"BPOM perlu meneliti sejauh mana migrasi dari pelapis kaleng anti karat atau BPA yang terdapat dalam kemasan kaleng itu terjadi ke makanannya. Dalam hal ini, BPOM bisa melakukan kerjasama juga dengan perguruan tinggi,” ujar pakar kimia dari Departemen Kimia Universitas Indonesia, Agustino Zulys dalam keterangan yang diterima, Kamis (14/5).

Penelitian kemasan kaleng di Universitas Stanford dan Johns Hopkins University yang dipublikasikan Environmental Research menunjukkan adanya paparan BPA ke dalam produk makanannya. Disebutkan, semakin banyak mengonsumsi makanan kaleng maka akan semakin berpeluang untuk seseorang terkontamiasi BPA.

Menurut Agustino, bahan makanan kemasan kaleng yang bersifat asam bisa memungkinkan BPA yang ada dalam lapisan kaleng terlarut. "Makanya, makanan kaleng tidak boleh untuk makanan yang sifatnya asam," jelasnya.

Selain itu, ungkapnya, proses pengemasan makanan kaleng harus dilakukan dengan baik agar tidak merusak produk makanan. Menurutnya, kemasan kaleng yang rusak bisa menyebabkan masuknya bakteri yang bisa menyebabkan terjadinya fermentasi terhadap produk makanan di dalamnya.

Karenanya, kata Agustino, proses sterilisasi perlu dilakukan terhadap  kemasan kaleng ini dengan menggunakan pemanasan atau penyinaran UV. "Proses ini dilakukan untuk mematikan bakteri  yang  bisa menyebabkan rusaknya makanan," ucapnya.
 
Di sisi lain, pakar teknologi pangan dari IPB, Aziz Boing Sitanggang mengatakan BPA dalam kemasan kaleng itu dibutuhkan khususnya untuk resin epoksi untuk melaminasi kaleng guna menghindari korosi.  Menurutnya, kecenderungan BPA itu untuk bermigrasi ke bahan makanan bisa berpotensi besar atau kecil.

"Seberapa besar pelepasan BPA-nya kita tidak tahu. Karena di Indonesia belum ada studi untuk meng-compare langsung. Itu perlu dikaji lebih jauh,” tuturnya.
 
Ditambahkan, makanan kaleng itu disterilisasi komersil dengan suhu di atas 100 derajat Celcius dan dalam waktu cukup lama. Disebutkan, proses migrasi BPA dari kemasan kaleng itu bisa disebabkan beberapa faktor. Diantaranya proses laminasi BPA-nya, PH atau tingkat keasaman produk dalam kemasan kaleng itu, dan pindah panas dari produk pangannya. Misalnya sarden, jamur, atau nanas yang dikalengkan itu beda-beda pindah panasnya saat disterilisasi, sehingga perlakuan kombinasi suhu dan waktu  pemanasannya juga berbeda-beda.  

"Hal itu berarti peluang migrasi BPA-nya juga berbeda-beda. Tapi, semakin asam bahan makanannya atau PH semakin rendah, kemungkinan besar bisa merusak laminasi epoksinya," katanya. (RO/OL-15)

Baca Juga

Istimewa

Osteoporosis, Silent Epidemi yang Terabaikan

👤Zubaedah Hanum 🕔Rabu 20 Oktober 2021, 21:50 WIB
HARI Ostoeporosis Sedunia diperingati setiap 20 Oktober untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyakit yang menyerang kesehatan tulang pada...
ANTARA/AMER HILABI

Kesthuri Sebut Kerajaan Arab Saudi Siap Terima Jemaah Umrah Indonesia

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 20 Oktober 2021, 20:52 WIB
Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia menyampaikan informasi bahwa Kerajaan Arab Saudi sudah sangat siap menerima umrah dari...
Foto/Dok.MI

Peduli Lingkungan, Industri Kosmetik Turut Dukung Kampanye Sustainability

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 20 Oktober 2021, 19:32 WIB
Keuntungan penjualan dari produk kosmetik akan digunakan untuk mengadopsi bibit kayu keras di wilayah Kalimantan tepatnya di sekitar...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Rakyat Kalimantan Selatan Menggugat Gubernur

Sebanyak 53 warga terdampak bencana banjir dari sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan menggugat Gubernur Sahbirin Noor.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya