Selasa 28 September 2021, 20:14 WIB

24 Jam Berinteraksi di Masa Pandemi, Pernikahan Diuji   

Iis Zatnika | Humaniora
24 Jam Berinteraksi di Masa Pandemi, Pernikahan Diuji   

Dok PWW 2021
Konsultan pernikahan Indra Noveldy berbicara dalam Professional Women’s Week 2021

 

Di masa pandemi, ketika kegiatan berpusat di rumah dan interaksi antar pasangan berlangsung 24 jam, angka konflik dan perceraian mengalami peningkatan signifikan. Ironisnya, situasi itu tidak hanya terjadi pada kalangan muda, namun juga pasangan yang sudah lama menikah.

"Sebelum pandemi, interaksi antar keluarga terjadi dalam hitungan jam. Selebihnya, masing-masing sibuk, jika sedang bete dengan pasangan, pelarian ke kantor. Tapi begitu pandemi, mau kabur ke kantor nggak bisa, mau ke kafe kena pembatasan. Situasi ini menjadi pemicu ketidakharmonisan dengan pasangan,” ungkap konsultan pernikahan Indra Noveldy pada acara temu wicara daring Membangun Keluarga yang Bisa Menjawab Tantangan, salah satu acara dalam rangkaian Professional Women’s Week (PWW) 2021.

Indra membeberkan data tingkat perceraian tertinggi didominasi Pulau Jawa, di urutan pertama  Jawa Tengah, diikuti Jawa Timur , kemudian Jawa Barat. Selain dipicu oleh faktor ekonomi, penyebab perceraian juga ditengarai karena ketidakharmonisan dengan pasangan. 

Indra menyebut pandemi merupakan miniatur dari masa pensiun, yang kerap lalai dipersiapkan sehingga justru sibuk sibuk melakukan berbagai macam pengobatan. “Karena tidak mempersiapkan, akhirnya mereka tidak dapat mengantisipasi intensitas berhubungan 24 jam bersama pasangan. Karena ketemu setiap saat, melihat pasangan yang suka main hape, sedikit-sedikit marah,  tukang makan, tukang ngatur, atau omongannya tajam. Kesimpulannya, nggak mengenal siapa suami, siapa istri. Jadi sekian lama menikah, tapi tidak saling mengenal karakter,” lanjut Indra. 

Indra juga mengingatkan tentang sosok perempuan multiperan yang kini hilir mudik di media sosial yang sukses berkarier bahkan membangun bisnis di usia muda. "Memiliki segalanya, seolah dunia dalam genggamannya, namun bagi yang sudah berumah tangga, jangan lupakan memberi pupuk untuk merawat pernikahannya," kata Indra. 

Jika investasi pada keluarga itu tidak dilakukan, lanjut Indra, di masa yang datang dia tidak akan menikmati sama sekali jerih parahnya. “Duit banyak, tapi hatinya kosong, keluarga berantakan, pernikahan bubar jalan, rumah tangganya rapuh. jadi jangan sampai kita hanya sibuk membangun usaha, tapi lupa menguatkan keluarga, bahkan sampai lupa pasangan, lupa punya suami yang perlu diperhatikan. Waspadai juga kasus suami yang cemburu pada anak karena istri hanya sibuk memperhatikan anak," ujar Indra. 

Indra juga mengingatkan, titik rawan sebuah pernikahan bukan di 5 tahun pertama, namun sepanjang usia pernikahan. "Saya kerap dicurhati klien yang mengaku  semakin bertambah usia, tak mengenal pasangannya. Klien yang sudah menikah 27 tahun datang, dia berucap, sudah sukses tapi risau karena harus menghabiskan masa pensiun dengan istri yang tidak ia kenal pribadinya,” ujar Indra. 

Merujuk pada kampanye #akuberdaya yang diluncurkan PWW 2021, Indra mengingatkan berdaya bukan cuma soal karier atau bisnis, namun juga tentang peran sebagai istri dan ibu. “Sudahkah pasangan anda merasa dicintai oleh anda? Sekarang  ini nggak penting lagi klaim cinta, tapi tersirat  dari perilaku,” ujar Indra. 

Baca Juga

MI/Koresponden

Menko PMK Minta BPJS Kesehatan Optimalkan Pemanfaatan Big Data

👤Atalya Puspa 🕔Senin 18 Oktober 2021, 13:46 WIB
Muhadjir Effendy meminta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk mengoptimalkan pemanfaatan big data dalam melakukan...
Antara/Yusuf Nugroho.

Ditanya tentang Hukum Maulid Nabi, Imam As-Sakhawi Jawab Begini

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Oktober 2021, 13:39 WIB
Dalam kitabnya berjudul al-Ajwibah al-Mardliyyah, juz III, halaman 1116, ulama bermazhab Syafii itu menjawab hal tersebut dengan panjang...
DOK Pribadi.

IndoSterling Technomedia Siapkan Inkubator Entrepreunership Generasi Indonesia

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Oktober 2021, 13:39 WIB
Dalam merespons tantangan era industri 4.0 dan Society 5.0, diperlukan kemampuan yang bersifat aplikatif serta mampu memanfaatkan kemajuan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya