Jumat 17 September 2021, 12:59 WIB

Pekan Kebudayaan Nasional Belum Jadi Solusi Untuk Seniman Saat Pandemi

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Pekan Kebudayaan Nasional Belum Jadi Solusi Untuk Seniman Saat Pandemi

MI/Lilik Darmawan
Tari Mantra Tubuh digelar di aliran Sungai Pelus di Baturraden Adventure Forest, Banyumas, bagian pembukaan Pekan Kebudayaan Nasional 2020.

 

PENGAMAT budaya dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI) Prof Dr Een Herdiani menyatakan beberapa program kebudayaan yang dilakukan oleh Kemendikbudristek belum mengena bagi pelaku seni dan budaya. Terlebih kegiatan nasional seperti Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) masih bersifat kegiatan hiburan.

"Sebetulnya PKN itu belum bisa menjadi solusi bagi seniman yang kesulitan akibat pandemi. PKN itu masih merupakan kegiatan rutin," tegas Een dalam keterangan tertulis, Jumat (17/9).

Kegiatan PKN tetap berlangsung meskipun pandemi namun dilakukan secara virtual. Terakhir PKN dengan gelaran festival dan dihadiri massa pada 2019. Dan penyelenggaraan PKN 2021 mengangkat tema Cerlang Nusantara Pandu Masa Depan dengan mengangkat tiga sektor kearifan lokal sebagai akar ketahanan budaya, yaitu Sandang, Pangan, dan Papan. Penyelenggaraan dilakukan virtual.

Menurut Een seharusnya kegiatan PKN ini bersifat memberikan ruang apresiasi agar seniman bisa terus berkarya.

"Untuk PKN harus berpengaruh pada kegairahan seniman dalam berkarya. Tetapi pengaruhnya masih dalam skala kecil. Dan lagi-lagi  mekanisme penunjukan seniman yang tampil dalam PKN, sistem kurasinya kurang begitu transparan," jelasnya. Sehingga gaungnya masih belum dirasakan oleh seniman-seniman  di daerah.

baca juga: Seniman

Kemendikbudristek telah memberikan bantuan untuk seniman terdampak yakni antara Rp10 juta-Rp20 juta per kelompok. Namun bantuan itu hanya untuk sebagian kecil kelompok seniman. Ada juga bantuan untuk perseorangan melalui sistem pendataan digital. Tiap seniman mendapat bantuan Rp3 juta.
 
Namun dalam proses pendataan tersebut memiliki kendala. "Seniman di daerah-daerah kurang akrab dengan pendataan mandiri melalui formulir digital sehingga banyak yang belum terdata di formulir digital. Dinas Dikbudristek di daerah juga tidak memiliki data lengkap jumlah seniman di daerahnya," ungkapnya.

Diakuinya bahwa seniman harus belajar beradaptasi di tengah pandemi. Kemendikbudristek telah memberikan wadah kegiatan Budaya Saya, yang berisi karya seniman dipamerkan ke publik melalui platform YouTube. Kemudian ada program Gerakan Seniman Mengajar di Sekolah (GSMS) dan Belajar Bersama Maestro (BBM). Menurut Een program ini cukup signifikan pengaruhnya.

"Di samping memotivasi seniman dalam kegiatan pewarisan bagi generasi penerus, juga yang tak kalah pentingnya adalah pemberdayaan seniman di daerah-daerah," terangnya. (N-1)

 

Baca Juga

AFP

Pembukaan Ibadah Umrah Tunggu Hasil Diskusi Pemerintah Arab Saudi dan Indonesia

👤Widhoroso 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 00:19 WIB
PEMERINTAH Arab Saudi dan Indonesia masih melakukan diskusi intensif terkait pelaksanaan ibadah umrah. Hal tersebut membuat hingga kini...
MI/Ramdani

Pemerintah Harus Awasi Ketat Kepatuhan Penurunan Biaya PCR

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 27 Oktober 2021, 22:10 WIB
Pasalnya, ada oknum atau provider penyedia lab tes PCR yang curang dengan menetapkan harga PCR di atas...
MI/Panca Syurkani

Sudirman Said: Langkah Presiden Tekan Harga Tes PCR Harus Diapresiasi

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 27 Oktober 2021, 20:45 WIB
Kendati biayanya sudah turun, kualitas tes PCR harus tetap...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menghadang Ganasnya Raksa

Indonesia masih menjadi sasaran empuk perdagangan ilegal merkuri, terutama dari Tiongkok dan Taiwan. Jangan sampai peristiwa Minamata pada 1956 di Jepang terjadi di sini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya