Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
Pengembangan taman nasional (TN) menjadi objek wisata masih memerlukan penanganan serius, terutama dalam pengelolaan sampah.
Pasalnya, berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) di 5 TN dan 3 gunung, terdapat 453 ton sampah yang dihasilkan hanya dalam 14 hari dari total 150.688 pengunjung. Itu berarti setiap orang menghasilkan sampah hingga 3 kg dalam sekali kunjungan.
Jumlah sampah tersebut didominasi sampah plastik hingga 53%. Padahal, sampah plastik menjadi sampah yang paling sulit diurai dan berpotensi merusak lingkungan.
“Tidak bisa dimungkiri bahwa sampah menjadi permasalahan di setiap objek wisata kita, bahkan taman nasional,” ucap Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (B3) Tuti Hendrawati Mintarsih saat ditemui dalam konferensi pers Jambore Sapu Gunung dan Deklarasi Gunung Lestari di Jakarta, kemarin.
Kedelapan lokasi survei ialah TN Kerinci Seblat, TN Gunung Rinjani, TN Gede Pangrango, TN Gunung Merbabu, TN Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Argopuro, dan Prau.
Menurut Tuti, saat ini langkah yang terpikirkan ialah edukasi serta pemberlakuan sistem reward dan punishment kepada para pengunjung. Dengan sistem itu, catatan sampah yang dibawa masuk harus sama dengan yang keluar. “Kalau kurang, kita beri sanksi. Kalau dia bawa lebih banyak sampah, ada reward,” terang Tuti.
Upaya itu dibarengi edukasi kepada masyarakat sekitar pintu masuk TN dan gunung agar tidak menjual plastik.
Kurang pengetahuan
Koordinator Sapu Gunung Indonesia Syaiful Rochman dalam kesempatan yang sama menyatakan kurangnya pengetahuan cara berperilaku di alam menjadi permasalahan yang menyebabkan banyaknya sampah di gunung dan kawasan wisata alam lainnya. Hal tersebut, menurut Syaiful, terjadi dalam lima tahun belakangan.
“Kalau dulu, yang mau naik ke gunung biasanya dari organisasi yang sudah dibekali pengetahuan bagaimana hidup di alam liar,” ucap Syaiful yang juga menjadi mitra Kementerian LHK dalam melakukan survei sampah di kawasan wisata.
Oleh karena itu, ia memandang penting agar pemerintah mengedukasi masyarakat. Pasalnya, jika hanya mengandalkan komunitas pecinta alam yang sering melakukan bersih-bersih di gunung, pesan agar masyarakat sadar lingkungan tidak akan tercapai.
Kondisi keberlanjutan lingkungan Indonesia juga menjadi sorotan tersendiri. Pada 2014, dalam indeks keberlanjutan lingkungan di kawasan wisata, Indonesia berada di peringkat 135 dari 141 Negara.
“Hal ini disebabkan tata ruang dan lingkungan kita belum mendukung untuk para wisatawan,” ucap Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenpar Oneng Setya Harini.
Kondisi tersebut tentu saja dapat mengganggu target pengembangan destinasi wisata di Indonesia. Apalagi saat ini, tambah Oneng, pemerintah sedang fokus membangun 10 destinasi pariwisata prioritas yang di dalamnya terdapat TN Bromo Tengger Semeru. “Sekarang saatnya kita bersinergi dengan Kementerian LHK,” jelasnya. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved