Senin 02 Agustus 2021, 13:34 WIB

Menkes: Penanganan Terlambat, Banyaknya Pasien Covid-19 Wafat

Atalya Puspa | Humaniora
Menkes: Penanganan Terlambat, Banyaknya Pasien Covid-19 Wafat

Antara
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin

 

MESKIPUN penambahan kasus konfirmasi positif covid-19 harian di Indonesia menurun, namun demikian kasus kematian terus meningkat. Saat ini sendiri, persentase case fatality rate di Indonesia mencapai 2,8%.

Melihat hal tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, pihaknya telah melakukan analisis terkait tingginya kematian pasien covid-19 di rumah sakit. Budi mengakui pasien covid-19 yang dibawa ke RS menjadi lebih cepat wafat dibanding sebelumnya.

"Kematian peningkatannya penyebab utamanya karena terlambat tertangani di RS. Rata-rata sebelumnya pasien wafat yang di RS itu 8 hari. Sekarang rata-rata 3 sampai 4 hari mereka sudah wafat," kata Budi dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual, Senin (2/8),

Ia menyatakan, berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, saat ini pasien wafat di RS bukan hanya berasal dari ruangan ICU saja, tapi juga dari IGD. Jika dulu pasien yang wafat di IGD hanya sebanyak 1-2%, sekarang bisa mencapai 20%.

"Belum lagi yang death on arrival kalau kita lihat datanya itu pasti lebih tinggi lagi," tambah Budi.

Baca juga :Kemenkes Pastikan Vaksinasi Booster Hanya untuk Nakes

Berdasarkan analsis tersebut pula, lanjut Budi, ditemukan fakta bahwa saat ini orang yang masuk ke RS memiliki saturasi oksigen di bawah 80%. Hal itu berbeda dengan dulu, di mana pasien yang memiliki saturasi oksigen di kisaran 93%, 92%, atau 90% sudah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.

"Sekarang orang yang masuk ke RS itu saturasinya sudah 70% sampai 80%. Artinya virus sudah menyebar ke paru dan sudah sesak," ungkap Budi.

Sehingga, pihaknya mengambil kesimpulan bahwa kasus kematian yang tinggi di Indonesi aterjadi karena edukasi masyarakat terkait covid-19 masih minim, sehingga masih menganggap bahwa covid-19 merupakan aib yang harus disembunyikan.

"Padahal secara fataility ini lebih rendah dari TBC atau HIV, sehingga kalau dia dirawat cepat akan cepet sembuh. Gak perlu khawatir atau malu," ucap dia.

Selain itu, sebagian besar mayarakat dinilai Budi juga belum memahami seputar saturasi oksigen. Semestinya, masyarakat harus waspada apabila saturasinya sudah menginjak di bawah 94%. Pasalnya, kondisi tersebut menandakan bahwa pasien membutuhkan penanganan dari tenaga kesehatan.

"Gak usah tunggu saturasi 80%. Sekarang sudah terlambat. Isunya sebenarnya lebih di sana untuk mengurangi kematian. Untuk di RS, semua prosedur terapi sudah baik, kita tidak ada masalah. Yang masalah adalah yang masuk ke IGD karena terlambat," pungkas Budi. (OL-2)

 

Baca Juga

MI/Abdillah M Marzuqi

Brand Kosmetik Korea Buka Toko Perdana di Indonesia

👤Abdillah M Marzuqi 🕔Minggu 17 Oktober 2021, 23:25 WIB
Toko itu menawarkan berbagai produk kosmetik dan perawatan...
DOK IST

Tampilkan Keberagaman Budaya Nusantara, Jokowi Apresiasi Peserta UGD XIV

👤Budi Ernanto 🕔Minggu 17 Oktober 2021, 21:45 WIB
Keberagaman budaya nusantara dapat menjadi fondasi semangat persatuan atas keberagaman umat...
ANTARA/YUSUF NUGROHO

Unit Layanan Disabilitas Wujudkan Akses Pendidikan Inklusif

👤Mohamad Farhan Zhuhri 🕔Minggu 17 Oktober 2021, 21:15 WIB
Lingkungan asrama pesantren secara representatif sudah bersih, nyaman, sehat, dan ramah...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mengenal Skandal Menghebohkan Pandora Papers

Rahasia kekayaan para elite kaya yang berasal dari 200 negara dan wilayah di dunia terungkap melalui dokumen Pandora Papers

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya