Kamis 06 Mei 2021, 05:35 WIB

Satu Alquran Banyak Aliran

Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal | Humaniora
Satu Alquran Banyak Aliran

MI/Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal

 

ADA pertanyaan yang sering dilontarkan orang, mengapa umat Islam di sana sini banyak aliran dan mazhab, bahkan satu sama lain berkonflik, sementara mereka hanya mengakui satu Alquran dan hadis?

Pertanyaan itu kelihatannya sederhana, tetapi banyak tersimpan di benak banyak orang, khususnya mereka yang memahami Islam secara dangkal. Perbedaan aliran lebih banyak berhubungan dengan masalah akidah dan teologi, sedangkan perbedaan mazhab lebih banyak berhubungan dengan masalah fikih dan hukum Islam.

Alquran memang hanya satu dan seluruh redaksinya diakui sama di seluruh dunia Islam dari zaman dahulu sampai sekarang. Tidak ada sedikit pun penambahan atau pengurangan. Bahkan penulisannya pun tetap dipertahankan sekalipun beberapa di antaranya tidak lagi sesuai dengan gaya penulisan (rasm) bahasa Arab modern.

Demikian pula dengan hadis. Meskipun periwayatannya lebih banyak bersifat maknawi, para ulama telah berhasil menetapkan kriteria pemeliharaan yang amat ketat, jauh lebih ketat ketimbang dengan metode ilmu-ilmu sosial modern. Tingkat keadilan, muruah, kejujuran, dan ketakwaan menjadi penentu validitas sebuah hadis. Dengan demikian, sulit sekali terjadinya pemalsuan hadis, apalagi setelah dilakukan komputerisasi hadis.

Perbedaan aliran dan mazhab dalam Islam sangat dimungkinkan, bahkan Alquran dan hadis mengisyaratkan kemungkinan itu. Ada ungkapan Alquran menarik untuk disimak, “Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu, dan masuklah dari pintu-pintu yang berbeda-beda." (QS Yusuf/12:67). Dalam hadis Nabi juga pernah dikatakan, "Perbedaan pendapat di kalangan umatku ialah rahmat."

Alquran dan hadis mengisyaratkan perbedaan dan diversity sebagai sunnatullah dan manusiawi. Namun demikian, Alquran dan hadis selalu mengajak untuk ke arah titik temu (kalimah sawa), bukan hanya sesama umat Islam, melainkan juga untuk seluruh agama dan berbagai etnik.

Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan aliran dan mazhab itu muncul. Ada faktor internal dan ada faktor eksternal. Dalam soal aliran, misalnya, terdapat beberapa isyarat yang berbeda-beda (tapi tidak bertentangan) tentang otonomi manusia. Apakah perbuatan manusia itu otonom atau share dengan Tuhan? Kalau share, siapa yang memiliki share lebih besar?

Aliran Jabariyah berpendapat perbuatan manusia sesungguhnya adalah perbuatan Tuhan, manusia sama dengan robot. Aliran Asy’ariyah berpendapat perbuatan manusia share dengan Tuhan, tetapi share manusia lebih sedikit menurut Maturidi Bukhara dan share manusia lebih besar menurut Maturidi Samarkand.

Lain halnya aliran Mu’tazilah yang menganggap perbuatan manusia sepenuhnya adalah perbuatannya sendiri karena Tuhan telah menganugerahkan kekuatan memilih (ikhtiar) bagi manusia. Dari aliran yang fatalistik sampai ke aliran liberal sama-sama mengaku mendasarkan pandangannya kepada Alquran dan hadis.

Soal perbedaan aliran dan mazhab serta hukum demikian pula halnya. Para ulama mendasarkan pendapatnya kepada Alquran dan/atau hadis, tetapi wujud mazhabnya berbeda satu sama lain. Contoh yang sering diangkat ialah masalah furu’iyyah, misalnya perkara yang membatalkan wudu. Kata lamasa (bersentuhan dengan perempuan) di dalam QS al-Ma'idah/5:6 melahirkan empat mazhab. Imam Syafi’i berpendapat yang membatalkan wudu kalau menyentuh perempuan yang dewasa dan bukan muhrim. Meskipun berlawanan jenis dan bukan muhrim, kalau masih belum dewasa, tidak membatalkan wudu.

Dalam pendapat lamanya (qaul qadim), Imam Syafi’i tidak memasukkan laki-laki dan perempuan tua membatalkan wudu. Akan tetapi, ketika pindah ke Mesir, ia menjumpai sepasang kakek-nenek berpelukan mesra tanpa diikat tali perkawinan, lalu ia mengeluarkan kakek-nenek sebagai orang yang tidak membatalkan wudu.

Imam Malik berpendapat bahwa kata lamasa dalam ayat tadi berarti menyentuh dengan syahwat; sepanjang tidak ada nafsu syahwat di dalam bersentuhan dengan lawan jenis maka wudu tidak batal. Imam Abu Hanifah berpendapat, kata lamasa (’bersentuhan') sesungguhnya bahasa simbolik, berarti bersetubuh. Sepanjang tidak melakukan persetubuhan maka yang bersangkutan tidak batal wudunya. Allahu a’lam.

Baca Juga

Antara

Lockdown Bisa Mempercepat Pemulihan Ekonomi

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Minggu 20 Juni 2021, 13:55 WIB
Selain itu, lockdown juga bisa menurunkan angka kematian akibat covid karena membatasi secara maksimal...
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

BMKG: Gelombang Tinggi Masih Mengancam Perairan Indonesia

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Minggu 20 Juni 2021, 11:31 WIB
BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berpeluang terjadi di beberapa wilayah perairan Indonesia pada 20 - 21 Juni...
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Covid-19 Melonjak, Kapolri Minta Pemetaan di Tingkat RT/RW

👤 Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Minggu 20 Juni 2021, 11:18 WIB
Jenderal Listyo Sigit Prabowo meminta agar empat pilar terus melakukan mapping atau pemetaan di wilayah RT atau...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Perlindungan Ganda terhadap Virus Korona dan Flu

DALAM perlombaan vaksin, perusahaan AS Novavax terlambat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya