Rabu 07 April 2021, 11:49 WIB

Presiden: Tidak Boleh Ada Praktik Keagamaan Eksklusif

Andhika Prasetyo | Humaniora
Presiden: Tidak Boleh Ada Praktik Keagamaan Eksklusif

MI/Youtube Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo dalam Pembukaan Musyawarah Nasional IX LDII 2021, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/4).

 

PRESIDEN Joko Widodo menegaskan tidak boleh ada praktik-praktik keagamaan yang tertutup, yang eksklusif, dan yang tidak bisa menerima keberadaan kelompok-kelompok keagamaan lain.

Ajaran-ajaran yang menyerukan eksklusivitas sama saja dengan menyebarkan paham intoleransi. Hal tersebut jelas harus dihindarkan karena pada akhirnya akan memunculkan perpecahan sesama dan antarumat beragama di Indonesia.

"Praktik-praktik keagamaan yang eksklusif, yang tertutup harus kita hindari karena sikap ini pasti akan memicu penolakan dan akan menimbulkan pertentangan," ujar Jokowi saat membuka Munas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/4).

Baca juga: Jokowi Janji Tindak Tegas Organisasi Agama yang Sebarkan Kekerasan

Ia pun berpesan kepada LDII, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar Tanah Air, untuk terus menyuarakan dan meningkatkan toleransi dalam kehidupan sosial keagamaan.

LDII, lanjut Jokowi, harus menyuarakan dan melaksanakan sikap terbuka terhadap perbedaan-perbedaan, untuk bergotong-royong dengan organisasi-organisasi Islam lain bahkan dengan kelompok-kelompok agama lain.

"Komitmen LDII untuk menganut paradigma baru yang terbuka yang, toleran yang harus terus ditingkatkan. LDII harus menghormati umat Islam yang punya pandangan keagamaan berbeda, harus bersedia bekerja sama dengan organisasi Islam lain. Nangan ada sedikit pun pandangan untuk menjauh dari kelompok-kelompok Islam lainnya," tegas Jokowi.

Kepala negara menekankan bahwa Islam adalah agama yang sejuk, yang ramah, yang mengedepankan toleransi. Ia pun memastikan pemerintah tidak akan membiarkan tumbuhnya ajaran-ajaran intoleransi dan tertutup apa lagi hingga menyertai bentuk kekerasan baik fisik maupun verbal.

"Pemerintah akan bersikap tegas terhadap segala bentuk intoleransi yang bisa merusak sendi-sendi kebangsaan kita. Oleh karena itu, organisasi keagamaan di Indonesia harus meningkatkan moderasi beragama yang mendukung persatuan dan kesatuan," tandasnya. (OL-1)

Baca Juga

Metro TV

Potret Kartini Masa Kini di Balik Tembok Pesantren

👤HUMANIORA 🕔Sabtu 17 April 2021, 10:00 WIB
Jumlah santri selalu bertambah setiap tahunnya, fasilitasnya pun kini telah memadai mulai dari pendidikan, ekstrakurikuler hingga mengikuti...
 ANTARA FOTO/Maulana Surya

Nadiem Targetkan 75 Ribu Guru Ikut Pelatihan PembaTIK

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 17 April 2021, 09:35 WIB
Mendkibud Nadiem Makarim menargetkan pada tahun 2021 sebanyak 75.000 guru bisa mengikuti bimbingan teknis Pembelajaran Berbasis...
Dok.MI

Anak Susah Makan Disebabkan Kebiasaan Makan Ibu Saat Hamil

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 17 April 2021, 08:30 WIB
Anak yang susah makan atau suka pilih-pilih makanan rupanya dipengaruhi oleh kebiasaan makan ibunya pada saat hamil dan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Maksimalkan Target di Ajang Pramusim

EMPAT tim semifinalis Piala Menpora, yakni PSS Sleman, Persib Bandung, Persija Jakarta, dan PSM Makassar, akan memaksimalkan turnamen pramusim sebelum berlanjut ke Liga 1

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya