Kamis 28 Januari 2021, 14:00 WIB

Disrupsi Gugurkan Eksistensi Media Cetak di Era Digital

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Disrupsi Gugurkan Eksistensi Media Cetak di Era Digital

ANTARA/ Maulana Surya
Warga membaca koran yang dipajang di salah satu kantor surat kabar di Solo, Jawa Tengah, Selasa (29/9/2020)

 

Sejumlah media cetak yang sempat eksis dimasanya, kini mulai berhenti beroperasi seperti Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Koran Bola, Koran Tempo hingga Suara Pembaruan yang telah mengumumkan pamit mulai Februari mendatang.

Menanggapi perihal itu, Editor Media Indonesia Akhmad Mustain menyampaikan bahwa persoalan pelik yang tengah dihadapi media media saat ini menunjukkan bahwa disrupsi menggugurkan atau membuat koran sulit hidup ketika adanya perubahan perilaku pembaca.

"Era digital ini telah membuat proses dan mekanisme komunikasi massa mengalami perubahan yang besar, baik secara budaya sosial dan ekonomi masyarakat ini seperti disampaikan oleh Pavlik and Mcintosh," kata Mustain dalam fokus group diskusi klasika Dari Gutenberg hingga Google: Sejarah dan kesiapan media massa menghadapi disrupsi yang digelar secara daring oleh Perpustakaan Nasional RI, Rabu (27/1).

Baca juga: Kepala LIPI: Kontribusi Swasta pada Riset Indonesia Masih Rendah

Menurutnya, dalam jurnalisme digital ada ada 4 aspek yang menjadi acuan utamanya, yakni pertama informasi itu harus cepat, kedua perlu informasi lebih variatif jadi lebih banyak dan ketiga informasi itu harus lebih personal sehingga setiap pembaca punya preferensi yang berbeda.

"Itu yang harus dipilih oleh perusahaan media bagaimana dia bisa memberikan informasi yang variatif dan lebih personal kepada masing-masing pembaca jadi ketika media masa, pola komunikasinya bersifat massal ke depan harus beradaptasi dengan hal ini bahwa persepsi dan kebutuhan masing-masing pembaca itu beda dan yang terakhir," sebutnya

Kemudian terakhir ialah pembaca di dunia digital menuntut media yang lebih interaktif, artinya mereka bisa mengakses apa yang mereka inginkan dan tidak polanya tidak satu arah semata dan interaktif itu sampai saat ini sudah banyak dilakukan melalui media sosial sehingga harus dijawab juga bagaimana untuk melihat pola informasi yang disebarkan untuk meningkat pembaca.

Mustain tak memungkiri bahwa terjadi banyak peralihan pembaca ini. Bahkan riset yang dipaparkan dari katadata dengan 1.600 responden diketahui media sosial saat ini menjadi referensi utama untuk mereka mendapatkan akses informasi mencapai 76%. Seperti melaui YouTube Twitter dan Instagram di mana arus informasinya sangat besar bahkan banyak perusahaan media yang juga terjun untuk melakukan penetrasi di akun media sosial.

"Memang televisi juga masih besar yakni 59,5% tapi perkembangan livestreaming kalau dari riset itu sangat besar sedangkan media cetak baik, majalah koran dan lain-lain itu saat ini hanya sekitar 9,7% dan berita online 25,2%," terangnya.

Mustain menyampaikan alasan pihaknya masih mempertahankan media cetak atau koran karena memang dari survei Nielsen itu menyatakan bahwa koran adalah media yang paling dipercaya dari semua jenis media.

"Orang membaca koran karena beritanya terpercaya, orang membaca tabloid karena ada kisah-kisah nyata di situ yang biasanya dalam bentuk feature akan menarik bagi pembaca," lanjutnya.

Sementara dari persentase pembaca memang pembaca media cetak mengalami penurunan dan hanya tinggal 8% atau 4,5 juta orang dari seluruh pembaca yang mencapai 83%. Sedangkan televisi itu tetap dengan penetrasi terbesar mencapai 96% atau 52,8 juta orang kemudian radio 37% atau 11,9 juta dan media online sekitar 11% atau 6 juta orang pembaca.

"Artinya ketika bertahun-tahun, media cetak bersama televisi tidak bisa mendistrupi media cetak karena memang platform beda tapi ketika media online hadir maka distrupsi sangat terasa. Artinya membuat para pembaca beralih, jadi yang biasanya membaca koran menjadi sekarang membaca naskah berita dari gawai," terangnya.

Kenapa media cetak ini harus tetap hadir dan tetap tetap ada di tengah masyarakat ? lanjut Mustain dengan perkembangan media sosial saat ini itu ketika media sosial yang sebelumnya diharapkan menjadi pilar demokrasi, bagaimana menyuarakan suara-suara dari pihak yang tidak ter-cover oleh media massa tetapi ternyata banyak didistorsi oleh informasi-informasi bias.

"Kita lihat di media sosial banyak banyak sekali hoax. Dari Kominfo sendiri menyebut hoax banyak terjadi di media sosiial, baik misinformasi, disinformasi atau malinformasi. Ini yang menjadikan media jurnalisme itu disebut sebagai pilar keempat demokrasi maka ini juga tanggung jawab yang harus kita lakukan untuk masuk ke media sosial agar hal-hal semacam itu bisa diminimalisir," tandasnya. (H-3)

Baca Juga

MI/ HO

Dirjen Pendis Ajak Guru Beradaptasi dengan Kondisi Kontemporer

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 17:58 WIB
Ramdani mengajak agar para guru terus aktif mengikuti perkembangan...
MI/ Moh Irfan

Covid-19 Masih Menginfeksi, Hari ini 224 Kasus Positif

👤Selamat Saragih 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 17:42 WIB
Dengan penambahan kasus positif hari ini, maka total kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia telah mencapai jumlah 6.054.173...
AFP/Brian WJ Mahy.

CDC Sebut Kasus Cacar Monyet Serang Pelaku Homoseksual

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 17:25 WIB
CDC mendesak penyedia layanan kesehatan di AS untuk waspada terhadap pasien yang memiliki penyakit ruam yang konsisten dengan cacar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya