Senin 18 Januari 2021, 10:15 WIB

Bisa Selamatkan Nyawa, Begini Cara Kerja Plasma Konvalesen

Zubaedah Hanum | Humaniora
Bisa Selamatkan Nyawa, Begini Cara Kerja Plasma Konvalesen

MI
Infografis

 

BELAKANGAN ini kian ramai ajakan kepada pasien covid-19 yang sudah sembuh untuk mendonorkan plasma darahnya demi menolong pasien lain yang tengah berjuang untuk tetap hidup. Sebenarnya apa itu plasma konvalesen dan bagaimana cara kerjanya?

Dilansir dari laman amari covid-19 milik Institut Teknologi Bandung (ITB), plasma merupakan istilah untuk bagian cair serta berwarna kuning dari darah yang mengandung antibodi. Dalam konteks donor plasma, yang digunakan merupakan konvalesen plasma, mengacu kepada seseorang yang telah dinyatakan sembuh dari infeksi.

Terapi donor plasma ini telah diterapkan di sejumlah negara. Bahkan, di Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA) telah menyimpulkan bahwa jenis pengobatan ini berpotensi efektif terhadap penanganan covid-19.

Lantas, bagaimana mekanisme donor plasma ini bekerja?

Terapi plasma konvalesen menggunakan plasma darah dari pasien covid-19 yang telah dinyatakan sembuh. Pasien yang telah dinyatakan sembuh telah membentuk antibodi covid-19 dan antibodi inilah yang kemudian didonorkan kepada pasien yang tengah menjalani perawatan.

Plasma dari pasien yang telah dinyatakan sembuh ini dapat mengeliminasi atau imobilisasi virus sehingga lingkaran infeksi terputus. Bagi sang pasien yang tengah menjalani perawatan, plasma ini diharapkan mampu menghindari tubuh dari serangan virus serta memperbaiki jaringan yang telah rusak.

Apa saja syarat yang harus dipenuhi seorang donor plasma?

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Amin Soebandrio selaku Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, berikut merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh seorang donor plasma:

1. Melengkapi berkas administrasi
2. Memiliki antibodi dalam kadar yang cukup
3. Memiliki kecocokan golongan darah dengan penerima plasma
4. Memenuhi kondisi kesehatan (telah dinyatakan sembuh dari covid-19 dan tidak mengandung malaria, virus HIV, hepatitis dan sebagainya)

Perlu diperhatikan pula bahwa pengambilan plasma ini cenderung dilakukan untuk pendonor laki-laki karena tidak memiliki antigen HLA. Hal ini juga sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh NHS Blood and Transplant di Inggris yang memprioritaskan pendonor yang memenuhi salah satu kriteria: (1) berjenis kelamin laki-laki, (2) di atas 35 tahun, (3) berasal dari komunitas Asia serta (4) telah melakukan perawatan untuk covid-19.

Per 8 September 2020, Indonesia sendiri telah melakukan uji klinis terapi plasma darah di RSUP Fatmawati Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RSUD Kabupaten Sidoarjo serta RSAL Ramelan Surabaya. Pasien penerima donor plasma akan diberikan 200 ml plasma sebanyak 2 dua kali dari donor yang telah dinyatakan sembuh. Lalu, kondisi pasien akan diamati selama 28 hari dari pemberian pertama. (H-2)

Baca Juga

MI/Susanto

Menkes: Vaksinasi Covid-19 Harus Tuntas 12 Bulan

👤Siswantini Suryandari 🕔Jumat 05 Maret 2021, 10:03 WIB
Menkes Budi mengatakan, dalam 6 bulan ke depan Indonesia akan mendapat total sekitar 90 juta dosis dari total kebutuhan sekitar362...
Dok: Humas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Koordinasi Kementerian Lembaga Diperkuat untuk Tangani Bencana

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 05 Maret 2021, 09:00 WIB
Peningkatan kolaborasi Kementerian/Lembaga dan pemerintah daerah dalam penanganan bencana dapat dilakukan secara faktual dan dilaksanakan...
Dok Medco.id

Varian B117 Tidak Pengaruhi Keparahan Pasien Covid-19

👤Agus Utantoro 🕔Jumat 05 Maret 2021, 08:15 WIB
Masyarakat tidak perlu khawatir dengan varian baru tersebut karena tidak ada laporan soal hubungan antara varian Inggris ini dengan derajat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya