Minggu 29 November 2020, 19:08 WIB

Penyuluhan Pada Ibu Jadi Kunci Utama Penanggulangan Stunting

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora
Penyuluhan Pada Ibu Jadi Kunci Utama Penanggulangan Stunting

Antara/Maulana Surya
Edukasi pemberian makanan bergizi untuk cegah stunting

 

PRESIDEN Joko Widodo menegaskan, agar fokus untuk menurunkan stunting di 10 provinsi yang memiliki prevalensi stunting yang tertinggi, yaitu di NTT (Nusa Tenggara Timur), Sulbar (Sulawesi Barat), NTB (Nusa Tenggara Barat), Gorontalo, Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

Stunting pada anak dapat mengakibatkan kemampuan kognitif tidak berkembang maksimal. Maka itu, stunting dapat menjadi faktor rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) karena berpengaruh terhadap produktivitas.

Menurut dokter sekaligus penyair dan penulis Handrawan Nadesul, kunci menurunkan stunting ada pada penyuluhan, terutama pada kaum ibu.

"Kunci penanggulangan stunting menambah pengetahuan ibu lewat penyuluhan, pemberian makanan tambahan pada anak kurang gizi, vitamin A, obat cacing yang sebagaimana dilakukan posyandu. Kini targetnya pada ibu hamil juga supaya gizinya baik, dan tahu bagaimana baik memberi makan bayi yang baru lahir," kata Handrawan, Minggu (29/11).

Ia menjelaskan, selain kurangnya pengetahuan gizi ibu, infeksi berulang pada bayi juga menambah buruk kondisi gizi yang sudah kurang. Diare dan kecacingan merampas asupan makan bayi yang sudah kurang semakin kurang.

Berbarengan dengan itu, pengetahuan ibu yang kurang ihwal kesehatan, juga berada di lingkungan sanitasi yang juga buruk. Pada saat yang sama layanan kesehatan bagi kelompok ibu berisiko melahirkan anak stunting, belum tentu selalu baik.

"Dulu kondisi ini menjadi target penyelsaian masalah gizi buruk yang berdampak luas terhadap tumbuh-kembang anak, dan kelak terhadap kualitas generasi. Target SDGs, maupun MDGs menyebut-nyebut masalah gizi anak, dan menekan angka diare, selain kematian ibu hamil," lanjutnya.

Materi penyuluhan selain pengayaan pengetahuan gizi keluarga, juga mencegah infeksi, serta mengatasi sanitasi, jamban keluarga, dan selokan, dan penyediaan air bersih.

Handrawan mengatakan dirinya sudah lebih 8 tahun memberikan semiloka (seminar lokakarya) “Sekolah Menjadi Ibu” untuk menambah pengetahuan ibu tentang kesehatan dan gizi kehamilan serta gizi anak, mengingat anak stunting bisa menjadi beban negara, karena selain IQ rendah, juga bermasalah dengan kemunculan penyakit metabolisme kelak setelah dewada, termasuk brisiko diabetik, selain, kelemahan kekebalan lainnya.

Baca juga : Menristek : Pengelolaan SDM Jadi Titik Tumpu Riset

Di mata kesehatan, membangun SDM suatu bangsa dimulai sejak anak masih dalam kandungan. Semenjak seseorang memilih pasangan hidup lewat pendidikan hidup berkeluarga atau pendidikan seks dan bina pranikah. Penyuluhan pranikah dengan materi bagaimana memilih pasangan hidup yang tepat, merawat kehamilan, persalinan sehat, serta bagaimana membesarkan anak secara benar, bentuk pendidikan perdana di rumah.

"Penyuluhan pranikah secara pribadi saya kerjakan lebih 10 tahun lewat seminar loka karya (semiloka) 'Sekolah Menjadi Ibu' diundang beberapa pihak ke sejumlah kota," katanya.

Modul yang ia susun diberikan khusus buat calon ibu lewat “Sekolah Menjadi Ibu" yang terinspirasi oleh fakta yang diperoleh Hendrawan dari surat-surat konsultasi di media massa sejak lama.

"Bahwa ibu-ibu muda kalangan sarjana saja pun, maaf, ternyata wawasan untuk melakukan peran sebagai ibu di mata kesehatan, terkesan belum memadai," terangnya.

Hendrawan mengaku percaya generasi bangsa akan unggul kalau kaum ibunya juga unggul. Melihat masih lemahnya peran para ibu, saya tergugah mengerjakan semiloka ini atas prakarsa sendiri setelah pensiun dari Departemen Kesehatan.

Menurutnya, ayah dan ibu pintar saja belum cukup untuk membuahkan anak pintar kalau kehamilannya kurang gizi, kalau persalinannya bermasalah, atau membesarkannya salah.

"Pendidikan karakter dimulai semasa PAUD, dan bukan “menambalnya” setelah anak telanjur salah didik pada kelas yang sudah lanjut. Memilih sekolah perdana ikut menentukan nasib karakter anak," katanya.

Ia mencontohkan Jepang yang menyisihkan waktu 3 tahun pertama sekolah untuk pendidikan budi pekerti dan tata krama saja. Sikap hormat, menghargai orang lain, dan hidup berdisiplin terbukti tercipta di Jepang menjadi individu yang luhur. (OL-7)

Baca Juga

Antara/Bayu Pratama

Kondisi Ekologis dan Curah Hujan Tinggi, Penyebab Banjir Kalsel

👤Atalya Puspa 🕔Selasa 19 Januari 2021, 18:57 WIB
KLHK mengungkapkan lokasi banjir di Kalsel merupakan daerah datar dan elevasi rendah, serta bermuara di laut....
Antara

Segera Atasi Dampak Bencana Alam di Sejumlah Daerah

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 19 Januari 2021, 17:46 WIB
Posko-posko pengungsian, tegas Rerie, harus benar-benar diatur, agar tidak menjadi klaster baru penyebaran...
Ist

HUT MI: Mengeja dan Memaknai Huruf-Hurufnya Sendiri

👤Baharman Hasyim Pedoki 🕔Selasa 19 Januari 2021, 17:09 WIB
Wartawan Media Indonesia (1990-2019), Djajat Sudradjat memaknai keberadaan surat kabar yang lahir 19 Januari 1970 dengan caranya...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya