Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
DI ANTARA fokus tema kampanye Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Puspeka- Kemendikbud) ialah penyemaian dan penanaman nilai-nilai Pancasila dan pelajar Pancasila.
Sejumlah terobosan pun dilakukan oleh Puspeka dengan menggelar rangkaian webinar Aku, Kamu, Dia dan Pancasila yang melibatkan tokoh-tokoh publik, akademisi, pakar pendidikan, guru, pelajar, mahasiswa, juga bersama pejabat di lingkungan kementerian.
“Pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul merupakan pembelajaran sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai nilai Pancasila,” imbuh Kepala Puspeka Kemendikbud Hendarman.
Berikutnya, pelajar Pancasila adalah mereka yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebinekaan global, bergotong royong dan kreatif.
Pada seri webinar ketiga “Aku, Kamu, Dia dan Pancasila digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang mengangkat tema Satu Hati di Bawah Kebinekaan. Lebih lanjut Hendarman mengatakan tujuan seri webinar menjadikan nilai-nilai Pancasila semakin tumbuh dan dekat di lingkungan keluarga serta memunculkan rasa kebinekaan. “Kegiatan ini mengajak kita untuk mendengarkan betapa peran orang tua sangat besar untuk membangun karakter anak-anak dan generasi muda sehingga mereka tidak terpisah dari nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.
Dia pun berharap peserta dapat terus menguatkan kesadaran pentingnya keberagaman menjadi modal utama dalam memajukan bangsa melalui gotong royong. Kegiatan yang bernuansa kampanye media ini, ternyata dapat menjadi instrumen yang efektif untuk mengukur pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai Pancasila.
Berikutnya pada webinar yang sama dengan topik Aktualisasi Kenormalan Baru menghadirkan empat narasumber, yaitu Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Iwan Syahril, pemerhati pendidikan Najelaa Shihab, influencer dan alumnus Harvard University Nadhira Nuraini Afifa, dan Guru PPKn berprestasi Tingkat Nasional Eko Wahyu Jamaluddin.
Melalui video konferensi di Jakarta, Iwan Syahril menerangkan pengamalan Pancasila dapat dilakukan dalam pembelajaran di masa kebiasaan baru (new normal). Dari beberapa butir Pancasila yang disampaikan, Iwan menekankan pada pentingnya gotong-royong di masa kenormalan baru ini.
“Jadikan Pancasila contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mendorong kita untuk berlomba-lomba dalam melakukan kegiatan kemanusiaan dan menjadi teladan. Untuk seluruh jenjang SD, SMP, SMA, dan semuanya, mulai dari RT/RW hingga di mana saja,” terang Iwan.
Iwan menekankan terkait peran pendidik dalam proses pembelajaran pengenalan Pancasila. Dikatakan, untuk pengajaran karakter, ciptakan ruang aman, buka ruang perjumpaan keberagaman ide dan manusia, serta lakukan asesmen yang reflektif.
Sementara itu, Nadhira Nuraini Afifa yang terpilih menyampaikan tentang bagaimana mengaktualisasikan Pancasila di luar negeri. Menurutnya ada empat nilai utama Pancasila yang perlu diaktualisasikan selama menempuh pendidikan di luar negeri, yaitu suportif, adaptif, kompetitif, dan kontributif. Ia berangkat dari pengalamannya menjadi minoritas di Amerika saat belajar di Harvard University.
“Itulah yang saya lakukan untuk bisa survive di luar negeri. Bertemu dengan banyak komunitas orang Indonesia di perguruan tinggi lain di Amerika. Saling menjadi suport system untuk satu sama lain. Saling membantu dalam kehidupan sehari-hari,” urainya.
Selanjutnya, Guru PPKn di SMA Negeri 3 Seulimeum Aceh Besar Eko Wahyu Jamaluddin membagikan pengalamannya dalam menggunakan aplikasi Konstitusiku. Yaitu untuk menguatkan pengamalan nilai gotong-royong pada siswa melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Pembelajaran yang dilakukan Eko ini memiliki beberapa tantangan. Seperti masih adanya siswa yang tidak memiliki fasilitas gawai, sinyal internet yang tidak stabil, dan kurangnya kepedulian orang tua.
Melalui aplikasi Konstitusiku peserta didik saling membantu dengan meminjamkan gawai. Memunculkan kepekaan sosial peserta didik melalui materi pembelajaran berdasarkan isu-isu atau masalah di masa pandemi. “Hal ini membuat sistem untuk peserta didik agar bahu-membahu bergotong royong di dalam pembelajaran,” pungkas Eko.
Korelasi
Sementara itu, pakar pendidikan Prof Dr Asep Saefuddin menilai antara kedua jenis pendidikan itu, pendidikan karakter dan Pancasila, keduanya berkaitan dengan perilaku. Artinya bila diberikan hanya dalam bentuk mata ajaran (mata kuliah) yang tidak didukung oleh ekosistem karakter para guru dan tenaga pendukung di lingkungan sekolah atau kampus, niscaya tingkat keberhasilan pendidikan katakter dan Pancasila itu akan nihil.
Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Jakarta ini berpendapat karakter atau pendidikan Pancasila seseorang bisa saja mendapat nilai bagus atau sebaliknya. “Kalaupun ada siswa atau mahasiswa yang nilai mata pelajaran atau mata kuliah baik dan perilakunya baik tentu dia punya faktor lain yang mungkin datangnya dari lingkungan keluarga.”
Hemat dia, terutama di tingkat dasar dan menengah itu harus benar-benar dibenahi ekosistem pendidikannya. Sehingga lingkungan sekolah benar-benar mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila.
Guru Besar IPB ini menekankan para guru dan tenaga kependidikan harus benar-benar menerapkan kaedah-kaedah Pancasila, seperti tol-
eransi terhadap keragaman, saling menolong, sering bermusyawarah dalam mengambil keputusan, berperilaku jujur dan adil dalam segala hal. Adapun mata ajaran bersifat penguatan terhadap kebiasaan kebiasaan itu. “Jadi nyambung apa yang dipelajari di buku dengan yang dilihat sehari-hari. Tanpa itu, semua akan sekadar hapalan. Kita harus antisipasi hal ini juga,” tegasnya. (Bay/H-1)
AWAL tahun 2026 menghadirkan sebuah kejutan penting bagi Indonesia.
Adanya pelanggaran dalam tata kelola pemerintahan negara yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat.
Sebagai agenda pembangunan global, SDGs diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui aksi-aksi terukur di lapangan.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela menandai kembalinya praktik unilateralisme secara terang-terangan dalam politik internasional. T
Tanpa Pancasila sebagai bingkai, demokrasi lokal hanya akan sibuk merayakan prosedur, tetapi gagal menghadirkan keadilan.
Jika Generasi Z Indonesia mengadopsi Pancasila sebagai filter etika AI, kita tak hanya selamat dari distopia teknologi, tapi juga membangun Nusantara digital yang berkeadilan.
Saksi Sutanto ungkap peran dominan Jurist Tan dalam sidang korupsi pengadaan laptop Kemendikbudristek yang menyeret nama Nadiem Makarim.
Dalam persidangan, terlihat juga istri Nadiem, Franka Franklin, serta ibunda Nadiem, Atika Algadrie, yang sudah hadir dan menyambut Nadiem sejak masuk ke ruang sidang.
KEMAMPUAN membaca bukan bawaan lahir. Otak manusia tidak dirancang untuk itu. Itu ialah penemuan budaya yang baru
Penulisan sejarah pun perlu melakukan analisis dan ditulis dengan kritis dan pemikiran yang terbuka.
Suap dan gratifikasi di sektor pendidikan biasanya terjadi karena adanya orang tua murid memaksakan anaknya masuk sekolah tertentu.
Harli menegaskan Kejagung belum menentukan tersangka dalam kasus ini. Perkaranya masih menggunakan surat perintah penyidikan (sprindik) umum.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved