Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Korona juga Menyerang Kulit

IHFA FIRDAUSYA
12/8/2020 01:20
Korona juga Menyerang Kulit
(Sumber: WHO/Practicaldermatology.com/Tim Riset MI-NRC/ Grafis: SENO)

MERASA tidak mengalami demam tinggi, Yanti, 53, mengaku bingung ketika hasil swab test PCR memperlihatkan dirinya positif covid-19. Ia hanya merasa tidak enak badan, itu saja.

“Enggak ada demam tinggi, batuk, atau pilek. Cuma hilang penciuman. Biasa aja kayak orang normal. Makanya saya dibilang orang tanpa gejala (OTG),” ungkap Yanti kepada
Media Indonesia, Selasa (11/8).

Ia divonis positif covid-19 beserta sang suami, sedangkan anak-anak dan menantunya negatif. Anehnya, kata Yanti, ia justru mengalami gatal-gatal di bagian lengan,
paha, dan betis hingga memerah, sedangkan sang suami mengeluhkan batuk saja.

Yanti memang mengidap asma, tetapi ia merasa sehat dan tidak memakan sesuatu yang bisa memicu alerginya itu. Saat berkonsultasi dengan dokter kulit lewat telepon,
Yanti yang masih menjalani isolasi di rumah diberikan resep obat alergi dan dexamethasone, jika gatal saja.

Selain minum obat pereda gatal, Yanti juga mengoleskan body lotion yang mengandung susu kambing dan minyak zaitun. “Sekarang kulit sudah mulus lagi,” imbuhnya.

Hingga kini, Yanti masih bingung adakah kaitannya covid-19 dengan ruam kulit yang dialaminya? Hal yang sama dirasakan Katty, 43, pasien covid-19 yang mengeluhkan
gatal-gatal di wajahnya.

Sebelum dinyatakan positif, ia juga kehilangan indra penciumannya. Ketika pandemi covid-19 pertama kali merebak, demam, batuk, dan sesak napas menjadi tanda paling umum.

Gejala dapat berkisar dari ringan hingga berat, dengan kebanyakan orang mulai mengalaminya 2 hingga 14 hari setelah terpapar virus.

Seiring berjalannya waktu, gejala covid-19 terus bertambah dengan meluasnya manifestasi yang ditimbulkan, salah satunya ke kulit. Di Italia, temuan ruam kulit pada pasien
terinfeksi covid-19 mencapai 20% dari total pasien.

Raja Sivamani, dokter kulit besertifikat dan profesor dermatologi klinis di Universitas California, Davis menyampaikan, sebuah penelitian yang diterbitkan British Journal
of Dermatology menemukan virus SARS-CoV-2 penyebab covid-19 ditemukan dalam selsel dinding pembuluh darah di jari kaki.

“Temuan ini mendukung gagasan bahwa covid-19 bertanggung jawab untuk pengembangan sindrom jari kaki covid-19,” katanya seperti dikutip dari laman ABC News.

Ketua Departemen Dermatologi di Universitas Howard, Ginette Okoye, menggambarkan sindrom ini berupa perubahan warna ungu kemerahan pada jari-jari kaki disertai
dengan pembengkakan dan rasa sakit.

Seperti banyak gejala virus lainnya, katanya, jari kaki covid-19 disebabkan pembuluh darah yang meradang.

Okoye mengatakan jangan langsung khawatir ketika mengidap jari kaki covid-19. Bisa jadi, katanya, itu ialah tanda tubuh meningkatkan respons kekebalan yang baik
karena cenderung terjadi pada pasien dengan gejala covid-19 yang ringan.

Selain covid-19 pada jari kaki, Okoye mengatakan banyak jenis ruam yang berbeda telah terlihat pada pasien dengan virus korona baru, antara lain gatal-gatal dan ruam
merah yang meluas, serta beberapa dengan lepuh kecil.

Menurutnya, ruam ini bahkan lebih sering terjadi pada pasien yang sakit parah. Hal ini disebabkan penyumbatan pembuluh darah di kulit karena sistem kekebalan tubuh
yang berusaha melawan virus.

Masih diteliti

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Yudo Irawan menyampaikan, penelitian tentang gejala kulit pada pasien covid-19 tengah dilakukan di Indonesia. Penelitian tersebut
dilakukan FKUI-RSCM dengan beberapa RS pemerintah dalam naungan Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski).

Pada dasarnya, terang Yudo, ruam pada pasien covid-19 yang dilaporkan paling banyak berupa bercak kemerahan yang dimulai dari bagian tengah tubuh, dapat disertai keluhan
gatal atau rasa stinging.

“Tapi, secara pasti belum diketahui penyebab ruam pada infeksi virus ini. Dugaan infeksi virus secara langsung dapat menyebabkan kelainan pada pembuluh darah atau berupa
reaksi imunologis yang merusak pembuluh darah,” kata Yudo kepada Media Indonesia, Selasa (11/8).

Namun demikian, kata Yudo, semua dugaan tersebut masih dalam proses penelitian. Keluhan ruam kulit dapat terjadi saat infeksi berlangsung ataupun sesudah
dinyatakan sembuh.

Praktisi kesehatan yang juga dokter kecantikan Sonia Wibisono menyebut virus hanya salah satu penyebab munculnya ruam kulit.

“Selain virus, ada alergi, bakteri, jamur, kutu, atau iritan (alergi dari iritasi), misalnya dari detergen. Itu semua bisa manifestasinya ke ruam kulit,” katanya, Kamis
(6/8). (Ata/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya