Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Waspadai Pihak yang Berupaya Putus Silsilah Keilmuan

Antara
08/8/2020 08:10
Waspadai Pihak yang Berupaya Putus Silsilah Keilmuan
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Bayt Quran Syahrullah Iskandar(Dok. Istimewa)

PENGASUH Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Bayt Quran Syahrullah Iskandar mengatakan bahwa saat ini perlu diwaspadai pihak-pihak yang memunculkan istilah 'kembali ke Alquran dan hadis', tetapi kelompok ini sedang berupaya memutus sejarah keilmuan atau silsilah keilmuan agama Islam yang sudah terbangun selama ini.

"Mereka mengatakan ‘oh tidak usah kita mengikuti mazhab ini, mazhab itu’ yang sebenarnya secara tidak langsung mereka justru sedang membangun mazhab baru, dan itu bahaya. Mereka berupaya dan memaksa diri untuk mandiri dalam memahami atau menggali teks-teks keagamaan, padahal pemahaman dan dasar keilmuannya tidak memadai," kata Syarullah di Jakarta, Jumat (7/8).

Menurut dia, untuk memahami dan menggali teks-teks keagamaan itu perlu pendampingan oleh orang yang berkompeten untuk terus berguru.

Dia menuturkan, dalam agama itu sebenarnya ialah 'fas`alu ahla adzdzikri' atau bergurulah kepada yang ahlinya. Karena kalau memahami Alquran, misalnya hanya satu ayat saja yang dipahami dan tidak dikaitkan dengan ayat yang lain, pasti ada yang kurang mengena pemahamannya.

“Hadis pun demikian. Karena mereka itu parsial ketika membaca sesuatu, tidak universal. Istilahnya kacamata kuda. Karena sumber mereka terbatas sesuai doktrin dari para gurunya dan tidak mencoba menelaah dari sumber-sumber lain,” tutur pria yang juga Dosen Fakultas Sosiologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Syarullah mengungkapkan bahwa selama menjadi narasumber dalam program deradikalisasi di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ia menyadari bahwa mereka yang telah terpapar paham radikal terorisme itu karena dulunya mereka dicekoki doktrin begitu saja tanpa melakukan 'tabayyun' atau meneliti terlebih dahulu.


Baca juga:  Ini Nama 22 Tenaga Kesehatan di Jatim yang Gugur karena Korona

Peraih gelar doktoral dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menerangkan bahwa menyadarkan orang karena pernah terlibat maupun terpapar paham radikal terorisme memang tidak harus diukur dengan cepat karena prosesnya lama karena menyangkut ideologi.

Jika berbicara , katanya, ibaratnya punya 1.000 nyawa, yang mana mati satu nyawa, masih ada 999 nyawa lagi.

“Jadi seperti kanker. Itu memang agak memakan waktu (untuk mengatasinya). Harus berkelanjutan, terencana dengan baik, sistematis dan tepat sasaran. Saya kira itu yang harus dipadukan ketika menyusun program. Karena paham radikal terorisme di Indonesia bagaimana pun tetap ada karena paham ini memang karena jaringan, bukan berarti satu orang ditangkap lalu sudah selesai,” ucap pria yang juga Sekretaris Umum The Nusa Institute itu.

Syarullah juga menyarankan adanya upaya pencerahan kepada masyarakat untuk mencegah dan melindungi dari paham tersebut.

Ia mengajak para penceramah untuk menggunakan metode yang lebih ramah dalam menyampaikan dakwah agar lebih mudah ditangkap dan dicerna oleh nalar masyarakat dan kaum milenial. (OL-15)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya