Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Pengurus Besar Al Washliyah KH Yusnar Yusuf Rangkuti mengatakan, umat muslim perlu menjaga solidaritas keagamaan, tetapi tidak boleh memaksakan kehendak bahkan sampai mencampuri urusan negara lain.
Yusnar mengakui umat beragama dalam konteks negara dan bangsa sering kali berada dalam identitas ganda, yakni sebagai umat beragama dan warga negara, sehingga seringkali persoalan terkait solidaritas keagamaan melupakan persaudaraan kebangsaan yang ada.
Untuk itu diperlukan kepedulian sesama umat beragama untuk tidak sampai pada merobek persaudaraan kebangsaan, kata Yusnar, dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7).
Menurut dia, memang sejatinya umat beragama, khususnya umat Islam, perlu untuk saling berbagi pengalaman terkait kejadian atau musibah yang dialami di negara masing-masing sebagai sesama umat muslim, tetapi terkait dengan permasalahan dalam negeri masing-masing tentunya umat di Indonesia tidak bisa terlalu ikut campur dengan hal itu.
"Jadi yang bisa kita lakukan adalah jika ada orang Indonesia yang sedang merantau dan sebagainya di negara tersebut, maka itu baru bisa ditangani dengan memberi nasihat dan sebagainya karena kita memiliki hubungan diplomatik dengan negara bersangkutan. Karena jika tidak ada kerja sama luar negeri ya apa yang bisa dilakukan," ujar Yusnar.
Baca juga: Presiden Ajak Anak-Anak Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan
Menurut dia, persaudaraan sesama muslim tentu saja harus dibangun, tapi juga tidak bisa memaksakan. Dia mencontohkan terkait konflik umat di dunia, seperti Palestina, Rohingya, atau Uygur, Yusnar menjelaskan bahwa dirinya sendiri pernah diundang oleh Pemerintah Tiongkok untuk berkunjung ke Xinjiang bersama para tokoh agama lainnya dan delegasi dari Indonesia.
“Saya melihat sendiri itu Islam Uygur di sana bagus, tidak ada masalah. Tapi ada yang menyatakan di kita bahwa itu sebenarnya tidak seperti itu, kemudian kita diprovokasi untuk mendesak pemerintah dan lain sebagainya. Hal ini sebenarnya menunjukkan hebatnya Indonesia sebagai negara merdeka dan demokrasi dimana semua orang bebas untuk berbicara dan berpendapat,” tutur pakar ilmu tilawah Alquran itu.
Yusnar menyampaikan bahwa jangan hanya karena diprovokasi oleh kelompok-kelompok tertentu kemudian jika ada masalah dengan umat di sana lalu menyuruh pemerintah Indonesia untuk berperang dengan Tiongkok atau negara lainnya.
“Harusnya kan tidak sampai seperti itu, karena kalau kalah jadi abu, menang jadi arang kita nanti. Masalah seperti itu sendiri sebenarnya adalah masalah di luar negeri yang bisa kita perjuangkan lewat jalur diplomasi dan melalui forum-forum dunia, tidak perlu sampai diprovokasi segala macam,” katanya.
Dalam kesempatan ini, Yusnar mengapresiasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam membentuk Gugus Tugas Pemuka Agama dalam Rangka Pencegahan Paham Radikal Terorisme di masyarakat.
“Saya sendiri berharap agar pembentukan gugus tugas pemuka agama yang diinisiasi BNPT ini bisa berkelanjutan dan tidak berhenti di tengah jalan. Karena ini sebagai jembatan antara pemerintah dan para tokoh agama dalam mengedukasi dan menenteramkan umatnya agar para tidak mudah terprovokasi atau termakan isu-isu yang dihembuskan segelintir kelompok yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan agama tertentu,” tandasnya. (OL-15)
REMAJA dan anak-anak sekarang dinilai lebih rentan terhadap paparan paham radikal di ruang digital. Kondisi ini dinilai berbahaya karena kelompok usia tersebut dalam fase pencarian jati diri.
BNPT mengungkapkan ada 27 rencana serangan terorisme yang berhasil dicegah dalam tiga tahun terakhir, dengan ratusan pelaku terafiliasi ISIS ditangkap.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
KEPALA BNPT Eddy Hartono menyoroti secara mendalam fenomena memetic radicalization yang kini menjadi ancaman nyata bagi generasi muda.
Menurut Edi Hartono, media sosial dan game online telah terbukti menjadi salah satu sarana yang digunakan pelaku terorisme untuk melakukan perekrutan.
Program ini memberikan edukasi mendalam mengenai upaya mitigasi penyebaran paham radikal terorisme di ruang digital.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved