Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM Kurikulum dari Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah mengkaji tentang penyederhanaan Kurikulum 2013 (K-13).
Salah satu materi yang dibahas terkait struktur kurikulum SD dan menjadi perbincangan ramai sejumlah kalangan juga para guru yakni penggabungan mata pelajaran (mapel) agama dengan pendidikan pancasila dan kewarganegaraan (PPKN).
Dalam menanggapi wacana yang tengah berkembang tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menyatakan tidak setuju dengan adanya penyatuan mata pelajaran tersebut. “Saya tidak setuju 1.000x. Apa alasannya untuk menyatukan mata pelajaran tersebut?” tanya Anwar Abbas, kemarin.
Kalau memang benar hal itu direncanakan, Anwar Abbas menilai telah terjadi upaya pendangkalan agama dan sekulerisasi. “Saya ulangi sekali lagi, kalau memang ada, berarti pendangkalan agama dan sekulerisasi itu benar-benar mereka lakukan secara nyata dan sistematis.
Jika mereka berani melakukannya, silakan saja. Samasama kita lihat, “ kata Anwar Abbas yang juga Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu.
Hal senada ditegaskan Pimpinan Lembaga Pendidikan Maarif PBNU KH Arifin Junaedi yang juga tegas menolak peleburan mapel pendidikan agama dengan PPKN, Pancasila, dan Kepercayaan itu.
“Kami sudah membicarakannya dan akan segera menyikapinya. Memang masih internal, tetapi intinya kami menolak,” tandas Arifin Junaedi.
Menurutnya, materi pendidikan agama yang ada sebenarnya masih kurang. “Lah kok sekarang malah mau dikurangi dengan rencana peleburan tersebut,” tegasnya.
Cetak biru
Praktisi pendidikan Indra Charismiadji mengaku telah melihat desain perubahan Kurikulum 2013 tersebut. Dia berharap mapel agama tetap berdiri sendiri, tidak dilebur. Hemat dia, Kemendikbud sebaiknya membuat cetak biru (blue print) pendidikan terlebih dulu baru pergantian kurikulum di dalamnya.
“Kita butuh tahu tujuannya apa, urgensinya apa, targetnya apa. Jangan cuma menghabiskan uang rakyat, namun tidak ada peningkatan mutu sama sekali,” tandas Indra seraya mengingatkan jangan terjadi stigma ganti menteri, ganti kurikulum, walau menterinya milenial.
Terpisah, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud, Totok Suprayitno menepis pandangan adanya rencana Kemendikbud melebur mata pelajaran agama ke mapel PPKN.
“Enggak, kok. Itu hanya bahan diskusi awal saja di antara tim kerja kurikulum. Diskusi masih terus berlangsung dan laporan terakhir yang saya terima, konstruksi kelompok mata pelajarannya tidak seperti itu. Saat ini belum ada keputusan apa pun dari kementerian tentang perubahan kurikulum seperti apa, “ kata Totok menjawab Media Indonesia tadi malam.
Menurut Totok, diskusi masih berjalan dinamis. “Tentu kami mempertimbangkan berbagai hal sebelum memutuskan. Saat ini belum ada keputusan apa pun. Kami juga melibatkan berbagai tokoh akademisi dan tokoh agama dalam membahasnya,” pungkas Totok. (H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved