Rabu 05 Februari 2020, 01:45 WIB

Kemendikbud Harus Fasilitasi Publikasi di Jurnal Internasional

(Aiw/H-1) | Humaniora
Kemendikbud Harus Fasilitasi Publikasi di Jurnal Internasional

MI/indri yani
Berita Publikasi Ilmiah tim peneliti Indonesia dimuat di JurnalThe Lancet:

 

KEBERADAAN jurnal internasional sebagai salah satu instrumen strategis bagi dosen atau eksistensi perguruan tinggi secara nasional maupun global diakui sangat dibutuhkan.

Untuk itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) didesak untuk memfasilitasi dan mendorong perguruan tinggi dalam memublikasikan karya ilmiah ke jurnal internasional (JI) yang dinilai masih minim.

Menurut Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Victor Yasadhana, kebijakan yang mewajibkan dosen untuk memublikasikan karya ilmiahnya ke jurnal internasional sebagai syarat kenaikan jabatan merupakan sebuah upaya standardisasi/perbaikan standar pendidikan tinggi.

"Yang penting adalah kita punya ukuran yang bisa dipertanggungjawabkan tentang hasil-hasil kapasitas keilmuan yang bisa dikenal dunia," kata Victor.

Ia menilai jika pemerintah menghapus kebijakan tersebut justru menegaskan bahwa budaya ilmiah para akademisi semakin lemah.

Untuk diketahui, sebelumnya anggota Komisi X DPR RI meminta Mendikbud Nadiem Makarim menghapus kewajiban dosen menulis karya ilmiah untuk diterbitkan di jurnal internasional sebagai syarat kenaikan dan mempertahankan jabatan fungsional. Menurut Victor, usulan itu sebagai kemunduran budaya akademis.

"Kalau faktanya kita belum bisa mencapai standar itu, bukan standarnya yang dihilangkan," tegasnya.

Kejelasan sikap Mendikbud terkait dengan arti strategis jurnal internasional itu juga hendaknya meliputi aspek pengamanannya. Pasalnya, di lapangan juga dijumpai adanya jurnal yang menyatakan sebagai jurnal internasional, tapi faktanya sebagai jurnal abal-abal.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Jamhari Makruf, menyebutnya sebagai jurnal predator. Ia melihat oknum jurnal 'predator' ini kerap menawarkan kemudahan bagi dosen untuk penerbitan karya ilmiahnya.

"Jadi sekarang ada demand yang tinggi, ilmuwan, dosen peneliti harus menerbitkan karya ilmiahnya ke jurnal internasional. Nah, mereka menyambutnya dengan jurnal abal-abal yang tidak jelas kriterianya, tidak jelas siapa institusinya, dan siapa yang pakai penelitian," jelasnya. (Aiw/H-1)

Baca Juga

Antara

Tragedi Susur Sungai Ciamis, Kemenag Evaluasi Kegiatan Ekstrakurikuler di Madrasah

👤Mohamad Farhan Zhuhri 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 15:15 WIB
 Kementerian Agama menyampaikan duka mendalam atas tragedi tewasnya 11 siswa dalam kegiatan susur sungai di Ciamis,...
 ANTARA FOTO/Maulana Surya

Mengenal Lebih Dalam Hukum Nun Mati Bertemu Tanwin

👤Febby Saraswati 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 15:09 WIB
Hukum ini terdiri dari 4 jenis, yaitu idzhar, idgam, iqlab, dan...
Freepik.com

8 Arah Mata Angin dalam Bahasa Inggris beserta Simbolnya

👤Kevino Dwi Velrahga 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 14:52 WIB
Di dalam kompas terdapat arah mata angin yang biasanya disimbolkan dengan huruf...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya