Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
OBESITAS bukan hanya mengganggu penampilan. Berat badan yang terlalu berlebihan ini juga mengundang berbagai penyakit. Ketika terapi melalui diet, olahraga, dan obat-obatan tidak mampu mengatasi obesitas, bedah bariatrik bisa menjadi solusi.
Untuk mengetahui kondisi berat badan seseorang termasuk golongan sehat atau obesitas, bisa dicek melalui penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumusnya, berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat (m²).
“Seseorang dinyatakan mengalami obesitas jika memiliki hasil perhitungan IMT di antara 25-34,5. Selanjutnya, seseorang dianggap mengalami obesitas ekstrem jika hasil akhir IMT di atas 35,” terang dokter spesialis gizi klinik Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), dr Marya Warascesaria Haryono SpGK, pada temu media di SHKJ, Jakarta, Kamis (30/1).
Dokter spesialis bedah SHKJ, dr Wifanto Saditya Jeo SpB-KBD, menjelaskan, obesitas merupakan penyakit kronis dan progresif. Risiko komplikasi obesitas antara lain penyakit paru-paru, kolesterol tinggi, stroke, diabetes tipe 2, sesak napas, varises, aterosklerosis, hipertensi, asma, penyakit asam lambung (gastroesophageal reflux disease/GERD), sleep apnea, batu empedu, disfungsi ereksi, gangguan menstruasi, gangguan ginjal, gangguan hati, sakit sendi (artritis), kanker usus, kanker rahim, kanker payudara hingga serangan jantung.
“Karenanya, obesitas harus ditangani secara serius mulai dari penerapan pola makan, obat-obatan, dan latihan fisik. Namun, apabila penurunan berat badan dengan pemberian obat-obatan, latihan fisik, dan cara lainnya masih belum bisa, solusinya adalah dengan bariatric and metabolic surgery (bedah metabolik dan bariatrik),” kata dr Wifanto.
Dua cara kerja
Bedah bariatrik dan metabolik bekerja dengan dua cara, yaitu restriksi dan malabsorpsi. Restriksi adalah pembedahan yang membatasi jumlah asupan makanan dengan mengurangi ukuran lambung, sementara malabsorpsi adalah upaya untuk membatasi penyerapan makanan dalam saluran usus dengan cara memotong-kompas (bypass) sebagian dari usus kecil.
Bedah bariatrik dilakukan dengan teknik laparoskopi, sehingga sayatan operasi sangatlah kecil (0,5-1cm). Pembedahan semacam ini berjenis sleeve gastrectomy yang memakan waktu 1-2 jam. Hasil dari pembedahan antara lain penurunan berat badan, perbaikan kualitas hidup, dan perbaikan kelainan atau abnormalitas yang berkaitan dengan obesitas.
Dokter Wifanto mencontohkan salah satu pasien perempuan dengan berat awal 125 kg. Tiga bulan setelah menjalani operasi bariatrik, beratnya turun menjadi 97 kg. “Ini masih dalam proses penurunan berat badan. Target operasi umumnya turun berat badan 50% dalam setahun,” pungkasnya. (OL-09)
Kabar baik! MK putuskan penyakit kronis kini bisa masuk kategori disabilitas. Simak syarat asesmen medis dan prinsip pilihan sukarela dalam Putusan MK No. 130/2025.
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
Tidur cukup bukan sekadar istirahat. Ini 7 manfaat tidur berkualitas bagi kesehatan tubuh dan mental.
Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya menyebut Indonesia kekurangan 92 ribu dokter dan meluncurkan program pendidikan spesialis hospital based.
KEBIASAAN kurang bergerak atau duduk terlalu lama saat bekerja alasan mengapa bahu, leher, atau punggung terasa sakit. 7 gerakan peregangan meredakan punggung bawah.
Peran brand dalam sektor kesehatan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved