Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
OBESITAS bukan hanya mengganggu penampilan. Berat badan yang terlalu berlebihan ini juga mengundang berbagai penyakit. Ketika terapi melalui diet, olahraga, dan obat-obatan tidak mampu mengatasi obesitas, bedah bariatrik bisa menjadi solusi.
Untuk mengetahui kondisi berat badan seseorang termasuk golongan sehat atau obesitas, bisa dicek melalui penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumusnya, berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat (m²).
“Seseorang dinyatakan mengalami obesitas jika memiliki hasil perhitungan IMT di antara 25-34,5. Selanjutnya, seseorang dianggap mengalami obesitas ekstrem jika hasil akhir IMT di atas 35,” terang dokter spesialis gizi klinik Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), dr Marya Warascesaria Haryono SpGK, pada temu media di SHKJ, Jakarta, Kamis (30/1).
Dokter spesialis bedah SHKJ, dr Wifanto Saditya Jeo SpB-KBD, menjelaskan, obesitas merupakan penyakit kronis dan progresif. Risiko komplikasi obesitas antara lain penyakit paru-paru, kolesterol tinggi, stroke, diabetes tipe 2, sesak napas, varises, aterosklerosis, hipertensi, asma, penyakit asam lambung (gastroesophageal reflux disease/GERD), sleep apnea, batu empedu, disfungsi ereksi, gangguan menstruasi, gangguan ginjal, gangguan hati, sakit sendi (artritis), kanker usus, kanker rahim, kanker payudara hingga serangan jantung.
“Karenanya, obesitas harus ditangani secara serius mulai dari penerapan pola makan, obat-obatan, dan latihan fisik. Namun, apabila penurunan berat badan dengan pemberian obat-obatan, latihan fisik, dan cara lainnya masih belum bisa, solusinya adalah dengan bariatric and metabolic surgery (bedah metabolik dan bariatrik),” kata dr Wifanto.
Dua cara kerja
Bedah bariatrik dan metabolik bekerja dengan dua cara, yaitu restriksi dan malabsorpsi. Restriksi adalah pembedahan yang membatasi jumlah asupan makanan dengan mengurangi ukuran lambung, sementara malabsorpsi adalah upaya untuk membatasi penyerapan makanan dalam saluran usus dengan cara memotong-kompas (bypass) sebagian dari usus kecil.
Bedah bariatrik dilakukan dengan teknik laparoskopi, sehingga sayatan operasi sangatlah kecil (0,5-1cm). Pembedahan semacam ini berjenis sleeve gastrectomy yang memakan waktu 1-2 jam. Hasil dari pembedahan antara lain penurunan berat badan, perbaikan kualitas hidup, dan perbaikan kelainan atau abnormalitas yang berkaitan dengan obesitas.
Dokter Wifanto mencontohkan salah satu pasien perempuan dengan berat awal 125 kg. Tiga bulan setelah menjalani operasi bariatrik, beratnya turun menjadi 97 kg. “Ini masih dalam proses penurunan berat badan. Target operasi umumnya turun berat badan 50% dalam setahun,” pungkasnya. (OL-09)
Sejumlah jenis makanan tidak dianjurkan untuk dipanaskan berulang kali karena dapat merusak zat gizi dan bahkan memicu pembentukan senyawa berbahaya bagi kesehatan.
Pola gangguan kesehatan ini bahkan konsisten muncul pada hari ketiga Ramadan selama dua tahun terakhir.
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menegaskan capaian dan penghargaan inovasi daerah tidak boleh menjadi titik akhir dalam berinovasi.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Siapa sangka, golongan darah ternyata ikut berkaitan dengan risiko serangan jantung. Ini bukan mitos kesehatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved