Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Kebijakan Kehutanan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Sudarsono Soedomo mendorong para pemegang konsesi, termasuk pemerintah agar wajib dibebani tanggung jawab mutlak jika konsesinya terbakar. “Cara pencegahan ini lebih efektif jika dibandingkan dengan penanggulangan jika sudah terjadi kebakaran,” terang Sudarsono dalam keterangan resmi, kemarin.
Konsesi tidak produktif seperti kawasan telantar yang tidak dibebani izin memang memiliki potensi karhutla tinggi. “Sebaliknya, kawasan yang dibebani izin, seperti perkebunan sawit atau hutan tanaman industri memiliki potensi kebakaran rendah karena memiliki pengawasan yang lebih baik,” ujar Sudarsono melalui keterangan resmi, kemarin.
Hal tersebut sesuai dengan data terbaru Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Environment Programme/UNEP) menunjukkan sebagian besar kebakaran yang terjadi di Indonesia terjadi pada lahan telantar.
Dari 1,64 juta hektare (ha) luasan hutan dan lahan yang terbakar selama Januari-Oktober di 7 provinsi, 76% ialah lahan telantar. Sementara itu, kebakaran di kawasan hutan dan lahan pertanian kelapa sawit masing-masing sebesar 3%.
Pernyataan senada dikemukakan pengamat lingkungan dan kehutanan Petrus Gunarso. Petrus berpendapat bahwa tanggung jawab itu akan memaksa setiap pemegang konsesi aktif menjaga konsesi. “Seharusnya saat terjadi kebakaran hutan di Jawa, Perum Perhutani sebagai BUMN pemegang konsesi hutan bisa diminta pertanggungjawaban dan dikenai sanksi sama seperti korporasi dan masyarakat,” imbuh Sudarsono.
Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Musdalifah Mahmud, menegaskan bahwa karhutla di Indonesia tidak terkait dengan pembukaan lahan sawit.
”Naif rasanya jika untuk membeli bibit sawit saja butuh dana Rp25 juta-Rp50 juta dan belum termasuk biaya lain seperti pupuk. Kemudian, itu semua dibakar,” kata Musdalifah.
Tidak lengkap
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyatakan data mengenai luasan kebakaran yang dirilis Pusat Penelitian Kehutanan Internasional, Center for International Forestry Research (CIFOR) belum lengkap.
Direktur Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Raffles Brotestes Panjaitan menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan lembaga tersebut yang mengakui bahwa metodeloginya belum lengkap. “Dia melakukan interpretasi kebakaran lima tahap. Tiga tahap sudah, tetapi dua tahap lainnya belum,” ujarnya di Jakarta, kemarin.
Tahap yang belum dilalui, antara lain artifact dan correction map. Artifact, kata Raffles, pengecekan fisik lapangan untuk mengetahui benar atau tidak terjadi yang terlihat pada citra satelit. Dua tahapan itu, menurutnya, belum dilakukan CIFOR.
Awal Desember lalu, analisis data citra satelit Sentinel-2 yang dilakukan CIFOR memperkirakan luas lahan terbakar 1 Januari-31 Oktober 2019 mencapai 1,64 juta ha. Ecologist and research associate David Gaveau mengatakan CIFOR melakukan analisis untuk mengetahui luas dan tipe tutupan lahan yang terbakar. (Ind/H-3)
Cile dilanda krisis kebakaran hutan hebat. 20 orang tewas dan kota-kota di wilayah selatan hangus. Warga sebut tragedi ini lebih buruk dari tsunami.
Negara bagian Victoria, Australia, tetapkan status darurat akibat kebakaran hutan hebat. Satu orang tewas dan ratusan rumah hancur saat api melahap lahan seluas dua kali London.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
Kemudian, memastikan masyarakat lokal, yang paling tahu tentang gambut, mendapatkan pelatihan dan dukungan
Selain modul ambulans, Prabowo memerintahkan TNI agar ditambah alat penanggulangan bencana. Khususnya saat kebakaran.
WAKIL Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki memberikan semangat pada seluruh jajaran untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam mengelola kawasan hutan,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved