Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
PEMERINTAH telah menyusun lima strategi nasional untuk percepatan penurunan angka stunting dan pencegahannya. Strategi itu disusun melalui proses penilaian dan diagnosis yang komperhensif, hingga menetukan prioritas kegiatan yang dilakukan.
Pilar pertama dalam program ini adalah komitmen dan visi kepemimpinan. Langkah ini untuk memastikan pencegahan stunting menjadi prioritas pemerintah dan masyarakat di semua tingkatan.
Komitmen dan visi Presiden dan Wakil Presiden terhadap Percepatan Pencegahan Stunting diharapkan akan mengarahkan, mengoordinasikan, dan memperkuat strategi, kebijakan, dan targe pencegahan stunting.
Presiden Joko Widodo menyatakan untuk mewujudkan SDM yang mampu bersaing di lingkungan regional dan global diperlukan manusia-manusia yang sehat dan kuat. Untuk mewujudkan itu, Presiden berkomitmen menurunkan angka stunting di Indonesia.
“Namun, untuk mencetak SDM yang pintar dan berbudi pekerti luhur harus didahului oleh SDM sehat dan kuat. Kita turunkan angka stunting sehingga anak-anak kita bisa tumbuh menjadi generasi yang premium”, ungkap Jokowi dalam pidatonya dalam Sidang Bersama DPR dan DPD, di Jakarta, 16 Agustus lalu.
Baca juga: IDAI Bertemu di Labuan Bajo Bahas Stunting
Pilar kedua dalam strategi percepatan penurunan angka stunting adalah kampanye nasional dan komunikasi perubahan perilaku.
Lewat pilar kedua ini, pemerintah berharap akan timbul kesadaran public dan perubahan perilaku masyarakat untuk mencegah stunting. Hal ini menjadi salah satu kunci keberhasilan penangulangan dan pencegahan stunting di Indonesia.
Kementerian Komunikasi dan Informatikan dan Kementerian Kesehatan akan saling berkoordinasi untuk melaksanakan pliar kedua ini.
Pilar ketiga dalam program prioritas pemerintah ini adalah konvergensi program pusat, daerah, dan desa.
Pemerintah akan memperkuat koordinasi dan konsolidasi program dan kegiatan pusat, daerah, dan desa.
Konvergensi merupakan pendekatan penyampaian intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terintegrasi, dan bersama-sama untuk mencegah stunting kepada sasaran prioritas.
Kunci keberhasilan strategi ketiga ini adalah penyelarasan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan pengendalian kegiatan lintas sektor serta antartingkat pemerintahan dan masyarakat.
Kemudian pada pilar keempat, strategi percepatan dan pencegahan angka stunting adalah ketahanan pangan dan gizi.
Pemerintah akan meningkatkan akses masyarakat terhadap makanan bergizi dan mendorong ketahanan pangan. Pemerintah akan mendorong penguatan kebijakan pemenuhan kebutuhan gizi dan pangan masyarakat, mencakup pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, pemberian bantuan pangan dan makanan tambahan, investasi dan inovasi pengembangan produk, dan keamanan pangan sejalan dengan amanat Undang-Undang No 36/2009 tentang Kesehatan dan Undang-Undang No.18/2012 tentang Pangan.
Strategi yang kelima adalah pemantauan dan evaluasi. Pemantauan dan evaluasi adalah upaya untuk memastikan bahwa apa yang sedang dijalankan benar-benar berjalan sesuai apa yang telah direncanakan.
Pemerintah akan memastikan pemberian layanan yang bermutu bagi masyarakat, dan peningkatan akuntabilitas pelaksanaan program.
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai koordinator kampanye nasional, pihaknya telah melakukan kampanye menggunakan berbagai media, TV, radio, media cetak, online, medsos sampai pertunjukan rakyat dan forum. Program unggulan yang sedang dijalankan adalah Genbest 2019.
Kasubdit Informasi dan Komunikasi Kesehatan Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia Kemenkominfo, Marroli J. Indarto, menjelaskan Genbest 2019 adalah salah satu kampanye nasional yang melibatkan generasi millennial untuk perduli terhadap penanggulangan Stunting di lingkungan sekitar.
Gaya hidup generasi millennial saat ini cenderung tidak sehat. Sebagai generasi yang produktif, maka para remaja ini harus memiliki pengetahuan mengenai hidup sehat agar dapat melahirkan generasi yang unggul.
“Saat ini masih banyak remaja yang tidak memperhatikan kebutuhan gizinya. Pola konsumsi gizi pada remaja saat ini rata-rata kurang terarah. Banyak remaja putri yang menjalani diet tidak sehat karena terobsesi memiliki tubuh langsing, sehingga mereka lupa mengonsumsi gizi yang seimbang”, kata Kasubdit Informasi dan Komunikasi Kesehatan Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia Kemenkominfo, Marroli J Indarto saat ditemui di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta (27/8).
Marroli mengungkapkan pencegahan stunting salah satunya dengan cara menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang kompeten untuk menghadapi bonus demografi tahun 2030.
Menurutnya, tahun itu diperkirakan 68% penyangga ekonomi Indonesia adalah usia produktif yang lahir saat ini.
“Generasi saat ini harus diberikan pengetahun yang cukup tentang cara hidup sehat, karena mereka akan menjadi penyangga ekonomi Indonesia saat puncak Bonus Demografi tiba," tutup Marroli. (RO/OL-2)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved