Selasa 16 Juli 2019, 08:20 WIB

Rumah Tangga Kunci Menanamkan Budaya Moderat dan Toleransi

Mediaindonesia.com | Humaniora
Rumah Tangga Kunci Menanamkan Budaya Moderat dan Toleransi

Ist
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Faisal Abdullah

 

MASYARAKAT Indonesia selama ini dikenal mempunyai budaya toleran dan rukun dengan menganut cara pandang moderat, baik dalam beragama maupun bernegara.

Dalam beragama, pandangan moderat dipilih sebagai cara memaknai agama yang tidak ekstrem. Moderat dan toleran menjadi karakter dan jati diri bangsa. Namun, saat ini dengan banyaknya narasi intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme di dunia maya telah mengoyak cara pandang masyarakat.

Hal itu mengakibatkan masyarakat menjadi mudah marah, tersinggung, dan senstitif dengan perbedaan apalagi melalui dunia maya. Sehingga menjadi perlu adanya mengarusutamakan toleransi di dunia maya untuk mendidik dan menanamkan kembali karakter dan jati diri bangsa.

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Faisal Abdullah, mengatakan, rumah tangga atau keluarga di Indonesia harus terus menurunkan kebiasaan tentang budaya, moral serta etika yang ada di rumah tangga atau keluarga ke anak-anak atau cucu-cucunya.

Karena, kata Faisal, melalui rumah tangga atau keluarga akan selalu memunculkan kesinambungan budaya dari masing-masing daerah yang ada di bangsa ini. Rumah tangga kunci untuk menanamkan budaya moderat dan toleransi kepada generasi muda.

 

Baca juga: Sistem Zonasi Sekolah Tingkatkan Kualitas Belajar

 

“Ini agar tidak terjadi putusan-putusan yang tidak menjadi suatu keutuhan yang menyeluruh secara nasional. Karena dengan adanya budaya yang baru seperti dengan adanya smartphone dan kemajuan teknologi yang cukup pesat itu telah menjadi suatu loncatan sejarah yang mengakibatkan tergerusnya budaya lama dan munculnya budaya baru yang juga tidak dipahami oleh para orang tua untuk disampaikan ke generasi selanjutnya,” ujar Faisal di Jakarta, Senin (15/7).

Dijelaskan Faisal, jika sampai budaya baru tersebut muncul ke generasi-generasi berikutnya, tentunya akan membahayakan kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara ini, apalagi jika tidak ada hubungan antargenerasi ke generasi berikutnya.

Meskipun ada dialog antargenerasi, hal itu lebih hanya kepada sikap formal, bukan sebagai suatu kebiasaan di dalam rumah tangga antara anak dan orangtua.

“Saya kira akhir-akhir ini dan tahun-tahun ke depan kita akan mengalami guncangan guncangan yang sifatnya tentu kita harus siap dan sigap. Saya tidak ingin mengatakan itu moderat, tetapi setidaknya dapat menghasilkan kelompok-kelompok yang berani untuk mengatakan bahwa saya Pancasila. Bukan saya Islam, saya Nasrani atau saya Kristen, tetapi Saya membela Indonesia,” tuturnya.

Untuk itu, menurut dia, perlu adanya peran para tokoh untuk mengajak masyarakat mau menggelorakan pengarusutamaan moderasi dan toleransi baik di dunia nyata maupun dunia maya. (RO/OL-11)

Baca Juga

Antara/Asprilla Dwi Adha

Ini Alasan Kemendikbudristek Kukuh Pertahankan PTM Meski Kasus Omikron Meningkat 

👤Faustinus Nua 🕔Senin 24 Januari 2022, 21:40 WIB
"PTM sangat urgen, kita sudah menutup sekolah hampir dua tahun dan selama waktu tersebut banyak kejadian luar biasa diantaranya...
Dok. Pribadi

Alat Masak Berkualitas Ikut Tentukan Kelezatan Makanan 

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 24 Januari 2022, 21:37 WIB
Dilansir dari healthline, alat masak seperti panci dan wajan yang tidak berkualitas bisa jadi sampah menumpuk karena orang-orang tidak akan...
Ist

Hari Pendidikan Internasional, LSM di Indonesia Dorong Menu Berbasis Nabati

👤Eni Kartinah 🕔Senin 24 Januari 2022, 21:12 WIB
Sinergia Animal ingin mendorong institusi untuk menyediakan makanan yang lebih ramah iklim dan lebih sehat kepada siswa  sejalan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya