Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
MASYARAKAT Indonesia selama ini dikenal mempunyai budaya toleran dan rukun dengan menganut cara pandang moderat, baik dalam beragama maupun bernegara.
Dalam beragama, pandangan moderat dipilih sebagai cara memaknai agama yang tidak ekstrem. Moderat dan toleran menjadi karakter dan jati diri bangsa. Namun, saat ini dengan banyaknya narasi intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme di dunia maya telah mengoyak cara pandang masyarakat.
Hal itu mengakibatkan masyarakat menjadi mudah marah, tersinggung, dan senstitif dengan perbedaan apalagi melalui dunia maya. Sehingga menjadi perlu adanya mengarusutamakan toleransi di dunia maya untuk mendidik dan menanamkan kembali karakter dan jati diri bangsa.
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Faisal Abdullah, mengatakan, rumah tangga atau keluarga di Indonesia harus terus menurunkan kebiasaan tentang budaya, moral serta etika yang ada di rumah tangga atau keluarga ke anak-anak atau cucu-cucunya.
Karena, kata Faisal, melalui rumah tangga atau keluarga akan selalu memunculkan kesinambungan budaya dari masing-masing daerah yang ada di bangsa ini. Rumah tangga kunci untuk menanamkan budaya moderat dan toleransi kepada generasi muda.
Baca juga: Sistem Zonasi Sekolah Tingkatkan Kualitas Belajar
“Ini agar tidak terjadi putusan-putusan yang tidak menjadi suatu keutuhan yang menyeluruh secara nasional. Karena dengan adanya budaya yang baru seperti dengan adanya smartphone dan kemajuan teknologi yang cukup pesat itu telah menjadi suatu loncatan sejarah yang mengakibatkan tergerusnya budaya lama dan munculnya budaya baru yang juga tidak dipahami oleh para orang tua untuk disampaikan ke generasi selanjutnya,” ujar Faisal di Jakarta, Senin (15/7).
Dijelaskan Faisal, jika sampai budaya baru tersebut muncul ke generasi-generasi berikutnya, tentunya akan membahayakan kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara ini, apalagi jika tidak ada hubungan antargenerasi ke generasi berikutnya.
Meskipun ada dialog antargenerasi, hal itu lebih hanya kepada sikap formal, bukan sebagai suatu kebiasaan di dalam rumah tangga antara anak dan orangtua.
“Saya kira akhir-akhir ini dan tahun-tahun ke depan kita akan mengalami guncangan guncangan yang sifatnya tentu kita harus siap dan sigap. Saya tidak ingin mengatakan itu moderat, tetapi setidaknya dapat menghasilkan kelompok-kelompok yang berani untuk mengatakan bahwa saya Pancasila. Bukan saya Islam, saya Nasrani atau saya Kristen, tetapi Saya membela Indonesia,” tuturnya.
Untuk itu, menurut dia, perlu adanya peran para tokoh untuk mengajak masyarakat mau menggelorakan pengarusutamaan moderasi dan toleransi baik di dunia nyata maupun dunia maya. (RO/OL-11)
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
INDONESIA bukan bangsa kecil. Ia lahir dari semangat, darah, dan cita-cita luhur: memerdekakan manusia dari ketakutan, kebodohan, dan ketidakadilan.
FORUM Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) merekomendasikan perlunya langkah tegas negara melalui revisi regulasi hingga pembentukan UU Anti-Intoleransi.
Menag Nasaruddin Umar menegaskan upaya mencegah intoleransi memerlukan sesuatu yang lebih kuat daripada peraturan pemerintah atau undang-undang. Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Kementerian Agama akan bergerak cepat dalam menangani berbagai kasus intoleransi yang masih terjadi di sejumlah daerah.
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan menyiapkan dua pendekatan agar insiden perusakan rumah doa di Padang, Sumatra Barat tak terulang
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved