Rabu 19 Juni 2019, 04:20 WIB

Hipertensi pada Orang Obesitas Lebih Kompleks

(Ind/H-2) | Humaniora
Hipertensi pada Orang Obesitas Lebih Kompleks

123 RTF
Ilustrasi

 

OBESITAS menjadi faktor risiko berbagai penyakit, antara lain hipertensi. Orang dengan obesitas berisiko 2,21 kali mengalami hipertensi. Hipertensi merupakan faktor risiko timbulnya penyakit jantung dan pembuluh darah.

Hal itu dipaparkan Prof Julianty Pradono dalam pengukuhannya sebagai Profesor Riset Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan korelasi antara kegemukan dan hipertensi. Kegemukan, terangnya, menyebabkan seseorang memerlukan tekanan darah yang lebih tinggi daripada kondisi normal untuk mempertahankan keseimbangan antara asupan dan ekskresi natrium di ginjal.

"Pada orang kegemukan, ginjal bekerja lebih keras dan menyebabkan kenaikan tekanan darah. Orang dengan obesitas, saat terkena hipertensi, membutuhkan penanganan yang lebih kompleks karena terjadi cedera organ, seperti ginjal, jantung, dan pembuluh darah,” terangnya.

Obesitas, lanjutnya, terjadi karena asupan energi dari makanan lebih besar daripada energi yang digunakan untuk beraktivitas fisik. Di Indonesia, era globalisasi turut berkontribusi pada peningkatan kasus obesitas, seperti aktivitas fisik yang makin berkurang, keengganan memasak makanan sendiri, dan memilih konsumsi makanan cepat saji yang tinggi gula, garam, lemak, serta rendah serat.

Prof Julianty memaparkan penelitian yang dilakukannya di sejumlah SMA/SMK di Gorontalo. Hasilnya menunjukkan, konsumsi makanan cepat saji lebih dari tiga kali per minggu berisiko meningkatkan kejadian obesitas 1,8 kali pada remaja.

"Demikian juga studi kohort faktor risiko penyakit tidak menular pada orang dewasa kelompok umur 25-26 tahun menunjukkan kadar lipid (lemak) tinggi dalam darah merupakan faktor risiko terjadinya obesitas sentral (kegemukan di area perut). Kadar lipid tinggi diakibatkan oleh konsumsi makanan tinggi lemak,” paparnya.

Agar tidak mengalami kondisi tersebut, lanjut Prof Julianty, masyarakat perlu mencegah agar tidak mengalami kegemukan melalui perubahan perilaku hidup yang lebih sehat seperti rutin melakukan aktivitas fisik, menerapkan pola makan bergizi seimbang, juga melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Akibat stunting
Pada kesempatan yang sama, Prof Laurentia K Mihardja menyampaikan bahwa obesitas disertai kurangnya aktivitas fisik diperkirakan menjadi penyebab proporsi terbesar terjadinya diabetes melitus di dunia. WHO memperkirakan, 1 dari 3 orang usia 18 tahun ke atas mengalami kelebihan berat badan (overweight) dan 1 dari 10 orang di dunia mengalami obesitas.

Adapun Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan, prevalensi kegemukan di Indonesia pada kelompok usia 18 tahun ke atas sebesar 18,7% (laki-laki) dam 19,7% (pada perempuan). Pada Riskesdas 2018 angka tersebut meningkat menjadi 26,6% pada laki-laki dan 44,4% pada perempuan.

Prof Laurentia memaparkan anak yang kekurangan gizi kronis (stunting) pada 2 tahun pertama kehidupannya berisiko lebih besar mengalami obesitas saat dewasa serta mengalami gangguan metabolis lain seperti hipertensi dan diabetes.

“Anak yang mengalami stunting akan terganggu pertumbuhan dan perkembangan organnya, antara lain pertumbuhan pankreas yang tidak optimal sehingga timbul masalah seperti diabetes saat dewasa,” terangnya. (Ind/H-2)

 

Baca Juga

Dok. Indoffod

Ketahanan Pangan Jadi Tema Beasiswa Riset IRN 2021

👤Citra Larasati 🕔Rabu 23 Juni 2021, 02:00 WIB
Program IRN adalah pemberian dana bantuan riset kepada mahasiswa S1)yang tengah melakukan penelitian sebagai syarat untuk...
MI/Syarief Oebaidillah

Program Kampus Merdeka Jadi Penilaian Kegigihan Mahasiswa

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 23 Juni 2021, 01:00 WIB
Berbagai program tersebut, di antaranya magang bersertifikat, pertukaran mahasiswa, Kampus Mengajar, dan magang dengan...
naturalpluspharma.com

Obat Herbal Asal Tiongkok Dinilai belum Beradaptasi

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 22 Juni 2021, 23:41 WIB
Ketimbang menggunakan obat herbal tersebut, lebih baik para peneliti maupun pengembang obat tradisional di Indonesia mencari dan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kereta Api Makassar-Parepare Membangun Ekonomi dan Peradaban

Belanda pernah membuat jalur kereta api Makassar-Takalar, namun sejak Jepang berkuasa jalur itu dibongkar. Dan baru era sekarang, Sulawesi Selatan kembali memiliki jalur  kereta api

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya