Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) menyatakan fokus pemerintah 5 tahun ke depan adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). Pembangunan SDM, menurut Jokowi, harus dikerjakan baik berupa scaling, rescaling, maupun upscaling untuk memperkuat SDM. Tujuannya agar bisa bersaing dengan negara lain. Dalam hal ini, link and match antara industri dan pendidikan sangat diperlukan.
"Tenaga kerja kita ini 56% lulusan SD. 66% lulusan SD, SMP. Itu yang harus kita upgrade agar kualitasnya naik. Nanti lewat pelatihan-pelatihan vokasi. Pendidikan vokasi betul-betul kita perbaiki total. Sehingga keluar dari sana dengan level skill yang bagus," ujar Jokowi saat menerima Media Indonesia dan Mediaindonesia.com di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (24/5).
Baca juga: Permudah Siswa Didik Baru, Kewenangan Pemda Harus Ditambah
Pemerintah juga mendorong melalui program pemagangan, sehingga dapat melakukan percepatan peningkatan kompetensi kerja serta memenuhi permintaan kebutuhan pekerja yang terus meningkat di tengah pembangunan infrastruktur dan berbagai proyek pembangunan yang terus digenjot di berbagai daerah.
"Sistem magang saya kira bagus. Sistem magang ke luar negeri akan kita perbanyak sehingga paling tidak memiliki wawasan, menaikkan skill, sehingga tenaga-tenaga terampil kita betul-betul siap di industri," paparnya.
Jokowi menyebut di daerah banyak sekali peluang industri. Contohnya, tekstil. Ia mengaku mendapat keluhan dari pelaku industri di Boyolali yang mencari 2.000 (tenaga kerja), namun hanya berhasil mendapatkan 200 tenaga kerja.
"Ada yang mencari 4.000, dapat 300. Ini karena belum ada link and match dengan pengguna. Kemarin kita sudah menugaskan Bappenas untuk menghitung, misalnya berapa sih kebutuhan tenaga kerja di sektor pariwisata, ekonomi digital, semuanya terhitung. Jadi 10 tahun yang akan datang, penyiapannya dari sekarang. Arah dan kebutuhan menjadi jelas, betul-betul sebuah perencanaan SDM yang detail. Bidangnya apa, industrinya apa, keluaran di sini berapa, pengguna, kebutuhan berapa itu harus jelas," terangnya.
Baca juga: Menristekdikti: Gelar Profesor jangan digunakan untuk Gagah-gagah
Jokowi juga menyampaikan perlu adanya keselarasan antara pendidikan dengan potensi daerah, sehingga memudahkan penyerapan kerja para lulusan SMA/SMK sederajat.
"Misalnya, di Danau Toba. Saya kira perlu memiliki SMK-SMK politeknik pariwisata, untuk menjadi kekuatan sesuai dengan arah pengembangan Danau Toba ke depan. Jangan sampai yang ingin dikembangkan sebuah daerah pariwisata, tapi di situ SMK-nya bangunan, SMK-nya mesin. Banyak loh, saya ini biasa blusukan ke mana-mana. Itu yang mau kita luruskan sesuai potensi daerah yang ingin kita kembangkan," pungkasnya. (Pol/OL-6)
PRESIDEN ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengomentari uji materi Pasal 169 Undang-Undang Nomor 7/2017 tentang Pemilihan Umum atau UU Pemilu yang dilayangkan dua advokat.
Penunjukan kerabat dekat Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, dalam jajaran manajemen anak perusahaan PT Pertamina (Persero) kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya.
INDONESIA Corruption Watch (ICW) mengkritik dukungan untuk melakukan revisi UU KPK yang dilontarkan oleh mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi.
Pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebut keinginan agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali ke Undang-Undang lama dinilai tidak lebih dari gimik politik.
ANGGOTA Komisi III DPR RI Nasyirul Falah Amru menanggapi sikap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang setuju ingin kembalikan UU Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) versi lama.
PENGAMAT komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai peluang Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka untuk maju pada Pilpres 2029 sangat kecil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved