Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

RI Perbarui Kerja Sama Kehutanan dengan Tiongkok

Mediaindonesia
21/5/2019 06:20
 RI Perbarui Kerja Sama Kehutanan dengan Tiongkok
Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno( MOHAMAD IRFAN)

INDONESIA akan memperbarui kerja sama dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terkait dengan pemanfaatan hayati dan satwa secara berkelanjutan. Kerja sama itu akan lebih dulu mengkaji berbagai aspek, khususnya dampak lingkungan.

"Mereka ingin kembali MoU G to G (antarpemerintah) yang dulu sudah tidak berlaku lagi karena mereka sudah mereformasi besar-besaran pengelolaan alam, termasuk kebutuhan (sumber daya hayati) dari kita," kata Dirjen Sumber Daya Alam dan Konservasi Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno seusai diskusi di Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan, selama ini Tiongkok mengimpor sejumlah tanaman dan satwa dari Indonesia, seperti ular, tokek, dan kadal untuk kebutuhan obat tradisional mereka. "Nanti akan kami lihat dulu berapa kuotanya dan dampaknya."

Selain kerja sama pemanfaatan hayati dan satwa berkelanjutan, Tiongkok juga berkeinginan mempelajari pengelolaan hutan dan pelestarian keanekaragaman hayati dengan Indonesia. "Mereka ingin belajar banyak juga tentang pengembalian habitat satwa, seperti populasi jalak bali, tapir, dan bekantan," imbuhnya.

Wiratno menegaskan, Indonesia sebagai negara yang memiliki keragaman hayati yang besar harus menggunakannya untuk pembangunan berkelanjutan yang seimbang dengan alam.

Pasalnya, keanekaragaman hayati juga memberikan kontribusi untuk mitigasi perubahan iklim dan adaptasi, ekosistem restorasi, air bersih dan nol kelaparan, sangat besar.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Ditjen Konservasi dan SDA dan Ekosistem KLHK Indra Exploitasia menambahkan, Tiongkok ingin mempelajari segala sesuatunya mengenai biodiversity di Indonesia.

"Poin fokus besarnya tentang bioversity dari masalah pengawetan dan pemanfaatan tidak berkelanjutan penjualan satwa gelap. Semangat itu yang sangat ditekankan oleh pemerintah Tiongkok."

Untuk kebutuhan kerja sama itu, Tiongkok mengirim enam orang delegasinya dari Chinese Academy of Forestry (CAF) sebagai organisasi penelitian kehutanan terbesar di Tiongkok. (Sru/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya