Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Konseling Teman Sebaya Lebih Efektif

MI
19/3/2019 10:35
Konseling Teman Sebaya Lebih Efektif
(ANTARA/Adiwinata Solihin)

Remaja merupakan generasi penerus yang menentukan nasib suatu bangsa di masa depan. Karena itu, mereka perlu disiapkan dari berbagai aspek. Termasuk menghindarkan mereka dari masalah kesehatan reproduksi.

"Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memfasilitasi para remaja mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi. Seperti yang dilakukan BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) melalui Pusat Informasi Konseling Remaja (PIKR) dan Bina Keluarga Remaja (BKR)," ujar Sekretaris Utama BKKBN, Nofrijal, pada Workshop Digital Leadership dan Penyiapan Perencanaan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja melalui Penguatan Peran PIK Remaja dan BKR, di Bekasi, Jawa Barat, kemarin.

Ia menjelaskan, PIKR mencetak pendidik sebaya (peer educator) dan konselor sebaya (peer counselor) untuk meminimalkan pengaruh negatif sesama remaja dan menjadikan kelompok sesama remaja sebagai sumber informasi yang benar.

Pemilihan metode itu sejalan dengan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 yang menunjukkan bahwa 62% remaja perempuan dan 51% remaja laki-laki berdiskusi kesehatan reproduksi dengan teman sebaya.

Baca juga: Agensi PR ASEAN Berkolaborasi untuk Tender Global

"Konseling sebaya itu sangat efektif dalam menyelesaikan permasalahan remaja. Mereka tidak bisa diceramahi dan bukan lagi lahan untuk diceramahi. Mereka memilih bicara kepada temannya, maka temannya inilah yang kami siapkan," cetusnya.

Dalam menyiapkan konseling sebaya tersebut, BKKBN merangkul sekolah, perguruan tinggi, serta masyarakat. Saat ini PIKR telah berjumlah sekitar 30 ribu di seluruh daerah.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN M Yani menambahkan, pubertas atau kematangan seksual yang semakin dini dan aksesibilitas terhadap berbagai media serta pengaruh negatif sebaya membuat remaja rentan terhadap perilaku seksual berisiko.

"Hal itu berdampak pada kehamilan di usia dini, kehamilan di luar nikah, kehamilan tidak diinginkan, infeksi penyakit menular seksual, hingga aborsi yang tidak aman," ujarnya. (Sru/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : PKL
Berita Lainnya