Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Sabuk Hijau Andalan Mereduksi Tsunami

Indriayani Astuti
21/2/2019 17:33
Sabuk Hijau Andalan Mereduksi Tsunami
(Foto: Humas Penprov dan Basarnas)

Mitigasi bencana tidak dapat dipisahkan dengan kearifan lokal dan karakterisik setiap daerah. Dengan pengetahuan kearifan lokal,  masyarakat dapat berperan mengurangi risiko akibat bencana selain sadar bahwa lingkungannya punya ancaman.

Kepala Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Donny Munardo mengatakan salah satu kearifan lokal yang bisa diadopsi ialah menanam vegetasi, seperti mangrove, di kawasan pesisir pantai.  Kecepatan gelombang tsunami bisa tereduksi dengan ketebalan mangrove di pesisir pantai.

Donny mencontohkan, ketika terjadi tsunami di Aceh pada 2004, korban di wilayah Simeuleu cenderung lebih sedikit karena di sana terdapat vegetasi mangrove.

"Bandara Sendai di Jepang juga tidak rusak terlalu parah karena ada tembok laut dan vegetasi," tutur Donny dalam acara pembekalan kebencanaan bagi media di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (21/2).

Hal senada dikatakan Perekayasa dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko. Ia menuturkan vegetasi sebagai sabuk hijau bisa menjadi pelindung kawasan pesisir dari terjangan tsunami.

Selain itu, untuk kawasan Pantai Selatan, Widjo menyampaikan karena di daerah itu terdapat Bandar Kulon Progo, Yogyakarta, telah direncanakan infrastruktur pelindung dari tsunami dengan gumuk pasir dan sabuk hijau di sekeliling area bandara. Bandara Kulon Progo terletak 200 meter dari bibir pantai.

"Kalau bisa masyarakat jangan merusak gumuk pasir atau menambangnya," cetus Widjo.

Adapun untuk wilayah Palu, Sulawesi Tengah, pemerintah sempat mewacanakan pembangunan tembok penahan tsunami. Menurut Widjo, demi mengurangi ancaman tsunami pada masa mendatang, sebaiknya dibuat sabuk hijau dengan penanaman vegetasi di kawasan pesisir.

"Tanggul jauh lebih mahal, tidak efektif dan secara lingkungan tidak ramah. Selain itu pemeliharaannya setiap tahun semakin berat. Kalau dengan sabuk hijau, secara ekologi bagus dan rindang," terang Widjo yang juga menjadi pembicara dalam acara itu.

Ia juga menuturkan, khusus untuk wilayah Palu yang pernah terjadi gempa dan tsunami, pendekatannya mitigasi bencana yang sebaiknya dilakukan dengan pengaturan kembali tata ruang.

"Kalaupun ada aset-aset yang tidak bisa dipindahkan harus siap dengan sistem peringatan dini dan evakuasi," ucap Widjo. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya