Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Siklon Tropis Australia Turut Jadi Penyebab Banjir Sulawesi

Putri Anisa Yuliani
24/1/2019 13:22
Siklon Tropis Australia Turut Jadi Penyebab Banjir Sulawesi
(ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang)

TIGA bibit siklon tropis yang tumbuh di langit Australia diduga menjadi faktor buruknya cuaca di Sulawesi Selatan hingga mengakibatkan hujan deras berkepanjangan yang berujung banjir bandang.

Banjir bandang yang terjadi pada Selasa (22/1) lalu di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menewaskan 26 orang, 24 orang hilang, sakit 46 orang dan korban yang mengungsi 3.321 jiwa.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi adanya bibit siklon tropis 95P di Teluk Carpentaria Australia (sebelah selatan Papua) dan 96S di Samudera Hindia (sebelah selatan Jawa).

Baca juga: Siklon Tropis Riley Pengaruhi Curah Hujan & Gelombang Tinggi

"Dalam perkembangannya, pada 21 Januari hingga 22 Januari bibit siklon 95P terus menguat dan terdapat potensi untuk meningkat menjadi level siklon," kata Kepala Sub-Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, dalam keterangan tertulisnya yang diterima Media Indonesia, Kamis (24/1).

Lebih lanjut, Siswanto menjelaskan terdapat faktor lain yang membuat cuaca di Sulawesi terus turun hujan dalam intensitas tinggi serta disertai angin kencang, yakni perambatan gelombang atmosfer MJO (Osilasi Madden Julian). Perambatan MJO terpantau terjadi sejak 20 Januari di perairan Indonesia bagian barat dan tengah.

Berdasarkan peta prediksi spasial anomali radiasi balik gelombang panjang (OLR) yang menunjukkan suplai uap air, selama dasarian III Januari 2019 wilayah konvektif mendominasi wilayah Indonesia yang mendukung peningkatan awan-awan hujan di wilayah tersebut.

Selain itu, terjadi fenomena menguatnya aliran monsun dan daerah pertemuan angin antar benua atau Zona Konvergensi Intertropis (ITCZ) di atas laut Jawa.

Baca juga: Kreatif, Muda, dan Sukses

Indeks monsun menunjukkan penguatan angin monsun Asia dan melemahnya angin monsun Australia di atas wilayah Indonesia. Menguatnya monsun Asia mendorong arus aliran massa udara lintas ekuator menjadi lebih kuat dari biasanya.

Di bagian tertentu, muncul daerah pertemuan antara kedua angin monsun tersebut yang di kenal sebagai ITCZ. "ITCZ merupakan daerah pertemuan angin yang membentuk awan penghasil hujan yang berada di sekitar wilayah itu sehingga hujan turun cukup deras secara berkesinambungan," tukasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya