Rabu 01 April 2015, 00:00 WIB

Hindari Tulang Abnormal

Puput Mutiara | Humaniora
Hindari Tulang Abnormal

DOKMI

 
PADA abad ke-19, Eropa dan Amerika Serikat dilanda penyakit riketsia atau pertumbuhan tulang belakang abnormal. Penyakit itu banyak melanda kawasan perkotaan.

"Meningkatnya penyakit riketsia ternyata menyingkapkan manfaat lain vitamin D. Selain memperbaiki pertumbuhan tulang, vitamin D juga berpengaruh terhadap imunitas adaptif," ucap Direktur Developmental Physiology & Nutrition Danone Nutricia Early Life Nutrition Dr Martine Alles di Jakarta, Jumat (20/3).

Ternyata hal itu tidak hanya melanda Eropa maupun AS. Indonesia termasuk negara yang menunjukkan prevalensi kekurangan vitamin D pada anak.

South East Asia Nutrition Survey (Seanuts) Indonesia 2013 melakukan studi terkait hal itu.

Hasil studi tersebut menyebutkan, prevalensi kekurangan vitamin D pada anak-anak Indonesia di desa berumur 2 sampai 4,9 tahun sebesar 42,8% dan 34,9% di kota.

Angka itu jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Thailand (24,5% di desa dan 31,3% di kota) serta Malaysia (17,9% di desa dan 34,6% di kota).

"Rendahnya asupan vitamin D pada anak-anak disebabkan oleh langkanya informasi mengenai vitamin D, termasuk minimnya informasi terhadap kandungan vitamin D pada makanan," kata dia.

Kekurangan vitamin D menjadi penyebab penyerapan fosfor dan kalsium tidak maksimal.

Akibatnya, tulang membengkok karena pengerasan tulang yang melambat.

Riketsia bisa menjadikan tulang kaki dan rusuk membengkok, lutut dan pergelangan tangan yang ujung-ujungnya memanjang dan membesar, pembesaran kepala karena penutupan fontanela terlambat, gigi terlambat keluar, atau bentuk gigi yang tidak teratur dan mudah rusak.

Ketika penyakit ini mulai menyerang, biasanya penderita merasa sakit seperti rematik, lemah, dan kadang-kadang muka menggamit (twitching).

"Hal itu dapat dicegah dengan menjemur di bawah sinar matahari pagi karena sinar ultraviolet bisa mengubah vitamin D proaktif menjadi aktif dan penyerapannya menjadi maksimal," ungkapnya.

Beruntung, Indonesia dengan iklim tropis kaya akan paparan sinar matahari.

Antisipasi
Namun, banyak orang mengalami kesulitan untuk bisa menikmati paparan sinar matahari karena aktivitas atau pekerjaan mereka.

Misalnya, pekerja yang memulai aktivitas sebelum matahari terbit dan selesai saat matahari telah terbenam.

Terkait hal itu, mereka harus memenuhi kebutuhan akan vitamin D melalui makanan yang dikonsumsi.

Kandungan vitamin D dapat diperoleh dari kuning telur, hati, krim, susu, mentega, dan minyak ikan, serta yang terbanyak ialah air susu ibu (ASI).

Sebagai pembanding, ASI mengandung vitamin D sebanyak 0,04 mkg/100 gram, sedangkan kecukupan vitamin D untuk bayi ialah 5 mkg.

Jadi apabila bayi mendapatkan ASI eksklusif dan ibunya sehat, dapat dipastikan kebutuhan vitamin D mereka tercukupi.

Pengobatan dan pencegahan riketsia dikenal sebagai antirachitic.

Jika kekurangan vitamin D, dokter mungkin akan meresepkan suplemen vitamin D atau meminta untuk meningkatkan asupan vitamin D, yang biasanya berasal dari sereal, jus jeruk, ikan, dan susu olahan.

Atau pengganti vitamin D bisa menggunakan metode terapi sinar ultraviolet.

Rencana pembangunan
"Anak-anak yang tidak mendapatkan jumlah yang cukup vitamin D meningkatkan risiko riketsia. Vitamin D sangat penting untuk memungkinkan tubuh untuk penyerapan kalsium," katanya.

Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) mengakui Indonesia masih menghadapi masalah gizi.

Hal itu terlihat dari masih munculnya anak-anak bertumbuh pendek (stunting).

"Seribu hari pertama kehidupan ialah periode penting bagi pertumbuhan anak-anak, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik dan penambahan masa otak, serta pengembangan signifikan kemampuan kognitif, tulang, imunitas, sistem pencernaan, dan organ-organ metabolisme," paparnya.

Menurut dia, pemenuhan gizi seimbang terutama bagi calon ibu hamil, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita terus diperlukan.

Terutama, tambahnya, difokuskan pada zat gizi yang masih defisiensi seperti protein, asam lemak esensial, zat besi, kalsium, yodium, zink, vit A, vit D, dan asam folat.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 menetapkan peningkatan kesehatan ibu dan anak serta perbaikan status gizi masyarakat sebagai dua dari sepuluh isu strategis nasional.

Hal itu menjadi arah pembangunan kesehatan dalam lima tahun ke depan.

Ia mengutarakan pemenuhan gizi pada awal kehidupan merupakan modal untuk membangun hidup sehat, cerdas, dan produktif bagi generasi mendatang. (H-1)

Baca Juga

Antara

RUU Pendidikan dan Layanan Psikologi Dibawa ke Rapat Paripurna Pekan Depan

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 01 Juli 2022, 21:45 WIB
PEMERINTAH bersama Komisi X DPR RI menyepakati Rancangan Undang-Undang Pendidikan dan Layanan Psikologi (RUU PLP) untuk disahkan di sidang...
Antara

Penerapan Kelas Rawat Inap Standar Ditunda karena Regulasi belum Rampung

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 01 Juli 2022, 21:25 WIB
UJI coba kelas rawat inap standar (KRIS) dalam program Jaminan Kesehatan Nasional yang semula direncanakan akan dimulai 1 Juli 2022...
Ist/Youtube

Sinergia Animal Ajak Kurangi Konsumsi Daging untuk Tekan Emisi GRK

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 01 Juli 2022, 21:23 WIB
Produk makanan berbasis hewani bertanggung jawab atas 57% darisemua emisi gas rumah kaca (GRK) secara...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya