Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Wacana Impor Guru Ironi Bangsa

Putri Rosmalia Octaviyani
25/11/2018 19:45
Wacana Impor Guru Ironi Bangsa
(MI/Pius Erlangga)

JANJI kubu oposisi untuk meningkatkan jumlah guru impor untuk meningkatkan kualitas pendidikan dianggap sebagai hal yang ironi. Bukannya meningkatkan kualitas pendidikan, hal itu dianggap hanya akan semakin mematikan kompetensi guru di Indonesia.

"Kita itu sebenarnya kalau untuk jumlah guru sudah cukup. Hanya masih banyak guru yang kualitasnya kurang," ujar Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim, dalam jumpa pers FSGI, di LBH Jakarta, Minggu (25/11).

Hal itu terbukti dengan hasil uji kompetensi guru (UKG) 2015 yang rata-ratanya secara nasional hanya berada di angka 56,69 dari angka maksimal 100. Untuk meningkatkan kualias guru, hal yang dianggap lebih penting ialah dengan melakukan program pendidikan dan pembinaan dengan komprehensif dan menyeluruh pada guru di Indonesia.

Selain itu, sistem pendidikan mulai dari kelengkapan sarana prasarana, kurikulum, hingga sistem penerimaan siswa juga harus dibenahi. Hal itu harus dilakukan secara masih dan berkesinambungan.

"Menambah guru impor tidak akan berpengaruh banyak pada sistem pendidikan kalau tidak dibenahi secara utuh," ujar Satriwan.

Dewan pengarah FSGI, Retno Listyarti mengatakan, keberadaan guru impor tidak bisa diandalkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Mereka justru hanya menambah biaya yang harus dikeluarkan karena tingginya bayaran yang harus diberikan.

"Kalau mereka didatangkan untuk memberi pelatihan mungkin masih lebih baik. Itu pun harus ditunjang dengan peningkatan di lini lainnya secara bersamaan," ujar Retno.

Ia mengatakan, pendidikan dan peningkatan kompetensi guru menjadi hal yang paling mendesak untuk dilakukan pemerintahan kelak. Siapa pun yang terpilih nanti.

"Guru harus dilatih agar kreatif, tidak hanya menjadi terpaku pada kurikulum. Mereka harus bisa mengembangkan dan memilah apa yang ada di kurikulum. Selama ini di Indonesia guru-gurunya belum bisa begitu. Mereka terlalu terpaku dan hanya mengikuti apa yang ada di kurikulum," ujar Retno. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya